Muhasabah: Refleksi Amal di Akhir Tahun

Gema Jum’at, 30 Desember 2016
Oleh : Dr. H. Muhammad Yasir Yusuf, MA, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Lukman: 34)
Tanpa terasa begitu banyak nikmat Allah SWT yang telah kita rasakan, nikmat umur, kesehatan dan nikmat terbesar adalah nikat keimanan dan ke-Islaman. Semoga setiap nikmat yang telah, sedang dan akan kita nikmati menjadikan kita sebagai hamba yang semakin bisa memaknai rasa syukur kepada Allah SWT, menjadikan kita hamba yang tunduk dan patuh terhadap aturan yang telah digariskan Allah SWT. Shalawat dan Salam kita haturkan untuk junjungan mulia Nabi Besar Muhammad SAW, rasul yang menjadi uswah dan qudwah dalam berbagai dimensi kehidupan sehari-hari.
Hari ini adalah hari Jumat terakhir di tahun 2016. Setiap kita hadir untuk shalat Jum’at maka pada hakikatnya umur kita bertambah satu minggu. Jum’at depan umur kita bertambah satu tahun, 2016 menjadi 2017. Ketika umur kita bertambah, apakah kebaikan dan amal kita bertambah, apakah rekening kebaikan kita lebih tinggi dari rekening keburukan kita? Inilah pertanyaan yang harus merisaukan kita setiap kita bertemu dengan pergantian hari, bulan dan tahun.
Bulan Desember 2016, ada tiga momentum penting dalam kehidupan kita yang bisa kita ambil iktibar dan pelajaran untuk menapaki dan mencari kebahagian dunia dan akhirat.
Maulid rasul
Pertama, kita baru saja memperingati Maulid Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 12 Desember lalu. Peringatan maulid ditujukan untuk menunjukkan cinta dan bahagianya kita terhadap kedatangan Rasulullah SAW. Rasulullah adalah uswah dan qudwah dalam kehidupan kita. Maka sudah sepantasnya setiap kita memperingati maulid menyadarkan kita untuk menilai sejauh mana sudah cinta kita sama rasul, apakah kehidupan kita sudah mengikuti pola hidup rasul? Apakah pola bisnis kita sudah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasul? Rasulullah menunjukkan kepada kita bagaimana beliau memimpin umat Islam di Mekkah dan Madinah, hanya dalam 23 tahun bisa membawa kota Mekkah dan Madinah menjadi kota yang makmur dan sejahtera, apakah kita sebagai pemimpin sudah menjadikan Rasulullah sebagai contoh tauladan dalam memimpin ummat ini?
Allah Swt berfirman:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (QS Al-Ahzab 21).
Ayat di atas mengajarkan kita bahwa Rasulullah adalah role model dalam kehidupan kita jika kita mau hidup sukses, bahagia dan sejahtera dunia dan akhirat. Cinta kita sama rasul mendorong kita untuk mencontoh tindak tanduk dan prilaku Rasulullah dalam berbagai sisi kehidupan. Jangan sampai cintai kita terhadap Rasul hanya kita wujudkan dengan mengadakan kenduri saja, akan tetapi akhlak rasul, suri tauladan dari rasul tidak bertambah dalam kehidupan kita. Maulid Rasul hanya membuat tubuh kita bertambah gula dalam darah, kolesterol dan asam urat karena banyaknya kenduri maulid yang kita makan. Nauzubillah min zalik. Cinta sama rasul adalah menjadikan Rasul sebagai uswas dan qudwah dalam kehidupan kita.
Peringatan tsunami
Kedua, kita baru saja memperingati 12 tahun tsunami menghantam Aceh. Ratusan ribu nyawa melayang, derita yang meneteskan air mata yang berkepanjangan. Cerita duka yang tak pernah berakhir untuk dikisahkan kepada anak dan cucu kita. Tsunami mengajarkan kita bahwa Allah SWT adalah maha kuasa, tidak ada pengetahuan yang lebih agung dibandingkan ilmu Allah SWT. Pelajaran Pertama yang kita dapat bahwa kita mengerti bahwa kematian adalah rahasia milik Allah. Akan tetapi kita terkadang tidak pernah sadar untuk mempersiapkan kematian kita.
Abu Dardak pernah berpesan; “Aku dibuat tertawa oleh orang-orang mengharapkan dunia, padahal maut mengejarnya, dan orang yang lalai, padahal ia tidak dilupakan dan orang yang tertawa dengan mulut lebar sedang ia tidak mengetahui apakah Allah SWT ridha kepadanya atau murka”.
Kematian itu hanya satu, penyebab kematian bisa beragam. Bisa karena tsunami, bisa karena gempa, kecelakaan, sakit dan bisa karena tidak ada sebab sama sekali. Yang paling penting dalam menghadapi kematian adalah kesiapan amal. Amal apa yang kita perbuat untuk menghadapi kematian. Apakah kematian kita menghantarkan kita kepada kenikmatan yang telah dijanjikan Allah, ataupun mendapatkan azab Allah yang telah dijanjikan karena banyaknya rekening keburukan yang kita lakukan.
Allah berfirman: “Setiap yang bernyawa pasti akan mati, dan sesungguhnya Allah Swt akan menyempurnakan pembalasan-Nya di akhirat. Barang siapa yang diselamatkan Allah SWT dari neraka dan dimasukkan kedalam surga maka ia telah mendapatkan kemenangan dan tidaklah kehidupan dunia itu kecuali perhiasan yang melalaikan”. (QS Ali Imran: 185)
Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Lukman: 34)
Dua ayat diatas mengajarkan kita: Pertama, kita pasti akan mati, cepat atau lambat, muda atau tua, sekarang atau nanti. Yang pasti kita tidak tau kapan dan dimana. Kedua, sudahkah kita siap untuk mati? Ketiga, masuk surga adalah target utama dan menjadi barometer kemenangan.
Ada dua pertanyaan yang harus terjawab: Adakah kerja dan amal yang kita lakukan hari ini menjatuhkan kita ke dalam neraka? Apakah amal yang kita perbuat setiap hari mengantarkan kita ke surga? Ingat, dunia, oh dunia terlalu menggoda, sehingga kita dibuat disorientasi dalam hidup ini.
Kedua, tsunami mengajarkan kita bagaimana kita harus hidup berdampingan dengan bencana, kita belajar bagaimana memitigasi bencana. Akan tetapi hal yang lebih penting untuk kita sadari bahwa bukan hanya kita belajar bagaimana memitigasi bencana, akan tetapi kita harus sadar untuk tidak melakukan perbuatan yang bisa mendatangkan bencana. Allah telah mengingatkan kita dalam firman-Nya Al-A’raf 96:
Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Allah telah menunjukkan kepada kita bagaimana kesudahan kaum Saba, yang hidup makmur dan sejahtera dihancurkan oleh Allah karena mereka durhaka kepada Allah SWT. Firman Allah SWT surat Saba 18-19:
Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr.
Hidup dengan syariat-Nya, menjadi pribadi yang shaleh sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasul, berbuat dan menebar kebaikan adalah cara jitu untuk menghindari dari datangnya bencana. Rasulullah bersabda: “Apabila zina dan riba telah merajalela maka mereka telah menghalalkan azab Allah untuk datang.” Semoga kita tidak lalai melakukan perbuatan yang dilarang Allah sehingga azab demi azab silih berganti datang dalam kehidupan kita.
Akhir tahun
Pelajaran ketiga, kita akan mengakhiri tahun 2016. Banyak perhelatan dan perayaan yang dilakukan oleh manusia di akhir tahun ini. Semoga di Aceh, kita tidak melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah, semoga kita terhindar dari perbuatan yang sia-sia dan semoga kita tidak melakukan perbuatan yang penuh dengan dosa. Di Akhir tahun ini marilah kita sibukkan diri kita dengan menghitung rekening amal kita. Apakah surplus kebaikan yang kita lakukan, ataupun minus setelah dikurangi dengan keburukan amal kita. Sebaik-baik manusia adalah mereka yang selalu menghisab dirinya. Di akhir tahun ini, mari kita menimbang, mana yang lebih banyak kita lakukan? Kebaikan atau keburukan. Jika kebaikan, maka marilah kita tingkatkan amal kita, jika banyak keburukan maka mulai tahun 2017 dengan kebaikan dan pertaubatan.
Abu Bakar RA berpesan kepada Umar bin Khattab supaya sukses dalam menjalankan roda pemerintahan dengan 7 pesan: (1) Perhatikan waktu-waktu ibadah, (2) Memperhatikan ibadah-ibadah wajib, (3) Tidak putus Asa, (4) Tidak menyepelekan dosa, (5) Takut dan berharap selalu kepada Allah dan (5) Selalu memikirkan timbangan akhirat.
Semoga tahun depan kebaikan, kesehatan dan kesejahteran lebih banyak dan dapat kita raih dengan sempurna. Wallahu’alam bis shawab.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!