OPTIMALISASI FUNGSI MESJID SEBAGAI PUSAT UKHUWAH ISLAMIYAH

GEMA JUMAT, 6 OKTOBER 2017

Oleh: Dr. Tgk. H. Ajidar Matsyah, Lc., MA (Khatib Dosen Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Direktur Dayah Tinggi Islam Samudera Pase, Baktiya Aceh Utara)

Salah satu langkah yang harus dilakukan saat ini adalah memurnikan ajaran Islam. Pemurnian ajaran Islam adalah tanggung jawab semua individu Muslim, meskipun tidak semua Muslim sanggup menjalankan tanggung jawab ini. Memurnikan ajaran Islam seyogianya dimulai dari mesjid, karena mesjid adalah symbol peradaban Islam. Jika kita ingin mengukur peradaban Islam di sebuah kawasan maka lihatlah mesjidnya. Untuk itu, di antara hal yang penting dilakukan saat ini adalah memaksimalkan fungsi mesjid sebagai pusat penguatan ukhuwah Islamiyah, karena ukhuwah islamiyah saat ini termasuk di antara yang paling bermasalah di tengah-tengah umat. Apabila kita ingin mengetahui bagaimana kualitas ukhuwah islamiyah umat saat ini, lihatlah mesjidnya. Kalau mesjidnya hidup dan beroperasi dua puluh empat jam, maka dapat diprediksikan kualitas ukhuwah islamiyah umat sekitar mesjid kuat. Kalau mesjid kadang-kadang hidup, kadang-kadang mati, maka dapat diprediksikan kualitas ukhuwah islamiyah sekitar mesjid rapuh atau tidak baik.

Sebaliknya, jika kita menemukan masyarakat yang hubungan ukhuwah islmiyahnya bagus dan kuat, maka dapat dipastikan mesjid di sekitarnya berfungsi dengan baik, meskipun Ini dipengaruhi oleh kondisi fasilitas mesjid. Kalau fasilitas mesjid standart, maka tingkat kualitas ukhuwah islamiyahnya semakin bagus, dan jika ditemukan mesjid yang kondisi fasilitasnya tidak memenuhi standart, maka kualitas ukhuwah islmiyah di sekitar mesjid juga seperti gambaran mesjid. Misalnya kalau kita berangkat dari Banda Aceh menuju Medan, atau dari Banda Aceh menuju Barat Selatan ke Medan, tentu akan kita temukan mesjid di kiri dan kanan jalan. Lalu kemudian, kita akan memilih mesjid yang fasilitasnya standart, kebersihannya standart, fasilitas toilet standart. Semua ini mencermin kualitas masyarakat sekitarnya.

Mesjid Sebagai Tempat Penyelesaian Konflik

Selama tiga belas tahun Rasulullah saw di Mekkah, begitu banyak peristiwa yang beliau hadapi. Salah satu di antaranya adalah konflik para kabilah Arab terkait dengan peletakan kembali Hajar Aswad pada tempatnya semula. Semua kabilah merasa dirinya lebih berhak meletakkan kembali batu mulia tersebut pada tempatnya. Konflik ini hampir saja memicu pertumpahan darah, namun kemudian kepala-kepala kabilah duduk bermusyawarah, dan mereka sepakat untuk menyelesaikan masalah mereka dengan menyerahkan kepada siapa yang lebih awal masuk ke Mesjidil Haram besok paginya. Lalu, orang yang paling awal masuk ke dalam Mesjidil Haram pagi itu adalah Muhammad saw, maka Muhammad lah yang menjadi fasilitator untuk menyelesaikan konflik antara para kabilah Arab. Lalu rasulullah saw, membentangkan ridaknya dan meminta pada setiap kepala suku memegang ujung kain ridaknya. Lalu beliau mengambil Hajar Aswad dengan tangannya sendiri meletakkannya di atas kain ridaknya, kemudian beliau meminta mereka mengangkatnya, lalu beliau mengambil Hajar Aswad dengan tangannya yang mulia, meletakkan kembali pada tempatnya semula.

Akhirnya benih-benih konflik segera berakhir. Nilai pelajaran yang paling berharga dari kisah di atas adalah bahwa mesjid berfungsi sebagai pusat penyelesaian konflik bukan sebagai pusat konflik. Tetapi hari ini kadang-kadang mesjid hampir berubah fungsinya dari fungsi sebagai pusat penyelesaian konflik menjadi pusat konflik.

Mesjid Sentral Penguatan Ukhuwah Islamiyah

Setelah tiga belas tahun Rasulullah saw berada di Mekkah, lalu beliau berhijrah ke Madinah al-Munawwarah. Apa yang dilakukan oleh baginda ketika pertama kali menginjakkan kakinya di Madinah?. Ternyata hal pertama yang beliau lakukan adalah al-muwakhah, artinya mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin. Pertanyaannya, di mana beliau lakukan itu? Menurut sebagian riwayat, hal itu dilakukan tepatnya di mesjid Nabawi sekarang ini. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa mesjid benar-benar berfungsi sebagai central penguatan ukhuwah Islamiyah. Jika ukhuwah Islamiyah sudah kuat di kalangan umat ini, maka politik Islam akan kuat, ekonomi Islam akan tumbuh, masyarakat muslim akan jaya. Tetapi sebaliknya, jika ukhuwah umat ini rapuh bahkan berubah menjadi kebencian, maka jangan diharap politik, ekonomi dan sosial masyarakat muslim akan mampu bersaing dengan orang lain.

Relasi Ukhuwah dan Imarah Mesjid

Ukhuwah dan imarah mesjid memiliki kaitan yang sangat erat bahkan saling mengikat antara satu sama lain. Barangkali inilah sebabnya kenapa pernyataan al-Quran tentang ukhuwah sama dengan pernyataan imarah mesjid. Pada ayat tentang ukhuwah, Allah SWT memulai ayatnya dengan adat hahsar Innama (bahwa sanya, hanya), begitu pula dengan ayat tentang imarah mesjid, seperti berikut:

Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujurat: 10).

Artinya: Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (Q.S. At-Taubah: 18).

Kedua-dua ayat di atas dimulai dengan adat hashar Innama, yang mengisyaratkan  bahwa orang yang kuat imanlah yang menjaga persaudaraan dan yang memakmurkan mesjid Allah. Artinya orang-orang yang memakmurkan mesjid adalah orang-orang yang berkualitas, dan orang-orang yang menjaga persaudaraan juga orang-orang yang berkualitas. Dari isyarat ayat di atas pula ditemukan kesamaan kriteria orang yang mengimarahkan mesjid dengan orang-orang yang menguatkan ukhuwah islamiyah. Sementara kriteria orang-orang yang mengimarahkan mesjid berdasarkan ayat di atas, antara lain: Beriman, Melaksanakan shalat, Membayar zakat dan Berjiwa pemberani

Adapun kriteria orang-orang yang menguatkan persaudaraan dijelaskan oleh Al-Quran sebagai berikut;و

Artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S. Attaubah: 71).

Berdasarkan ayat di atas, selain tolong menolong dan amar makruf nahi unkar, paling sedikit terdapat empat kriteria yang sama antara ukhuwah dan imarah mesjid, yaitu;  Beriman, Melaksanakan shalat, Membayar zakat dan  Taat kepada Allah dan Rasulnya

Kriteria berjiwa pemberani pada ukhuwah semakna dengan jiwa yang taat kepada Allah dan RasuluNya. Ternyata dalam Islam ukhuwah menjadi core seorang Muslim, karena ungkapan ukhuwah merupakan akumulasi dari keimanan. Dengan demikian, penguatan ukhuwah islamiyah merupakan kewajiban agama, maka jangan digugurkan yang wajib dengan hal-hal yang sunat atau mubah.

Ukhuwah dan Power Silaturrahmi

Salah satu kekuatan ukhuwah adalah adanya hubungan silaturrahmi, karena dengan silaturrahmi, konflik dapat menjadi damai dan kebencian akan bertukar menjadi kasih sayang.

Dalam suatu hikayah diceritakan, suatu ketika Nabi Saw pernah diludahi oleh seorang Yahudi Arab saat sedang dalam perjalanan subuh ke mesjid, karena bencinya orang Yahudi tersebut kepada Muhammad Saw  dan  beliau tidak membalasnya. Kejadian ini terjadi setiap pagi subuh ketika Nabi Saw pergi ke masjid. Namun,  pernah suatu pagi, Nabi Saw, tiba-tiba merasakan tidak ada orang yang meludahinya. Atas perasaan tersebut, beliau bertanya kepada sahabatnya, kemana perginya orang yang selalu meludahinya setiap pagi? Sahabatnya berkata, si pulan tersebut sedang sakit. Mendengar berita tersebut, Rasulullah langsung memerintahkan sahabatnya, “tolong beli sedikit kurma, kita akan menziarahi dan bersilaturrahmi dengan orang tersebut”. Begitu Rasulullah tiba di tempat orang Yahudi tersebut, seketika dia sembuh dengan sendirinya dan langsung merangkul Rasulullah Saw seterusnya, sekaligus mengucapkan dua kalimah tauhid dan akhirnya masuk Islam.

Silaturrahmi bukan hanya mampu memperkuat ukhuwah islamiyah tetapi silaturrahmi mampu menyelesaikan konflik antara Rasulullah dan Yahudi tersebut, bahkan silaturrahmi mampu merubah akidah seseorang.

Optimalisasi Fungsi Mesjid

Mengoptimalkan fungsi mesjid sebagai central penguatan ukhuwah islamiyah di kalangan umat ini ialah dengan cara mengimarahkan mesjid  sesuai dengan maksud ayat di atas tentang perintah imarah mesjid. Konsep imarah mesjid terbagi kepada dua jenis;

  • Imarah mesjid Hissiyan

Yang termasuk dalam imarah mesjid hissiyan ialah membangun fisik mesjid, merenovasi, memperbaiki, membersihkan, dan sejenisnya.

  • Imarah mesjid Maknawiyan

Yang termasuk dalam imarah mesjid maknawiyan adalah menghidupkan mesjid dengan kegiatan ibadah bukan dengan qasidah, dengan kegiatan syiar bukan dengan syair.  Misalnya shalat jamaah, i,tikaf, majlis ilmu, muzkarah, dan aktifitas kebaikan lainnya. Menjadikan mesjid sebagai pusat penguatan ukhuwah islamiyah diperlukan upaya untuk re-optimalisasi seluruh peran dan fungsi mesjid dan disesuaikan dengan konsep kekinian. Antaranya;

  • Menjadikan mesjid sebagai pusat ibadah
  • Menjadikan mesjid sebagai pusat pendidikan
  • Menjadikan mesjid sebagai pusat tahfiz Quran
  • Menjadikan mesjid sebagai simbol persamaan
  • Menjadikan mesjid sebagai pusat peradaban
  • Mengintegrasikan mesjid sebagai pusat ekonomi umat
  • Menjadikan mesjid sebagai pusat penyelesaian konflik
  • Kegiatan-kegiatan lain yang bernuansa islami

Dengan optimalisasi seluruh peran dan fungsi tersebut, maka dengan sendirinya akan memperkuat ukhuwah islamiyah di kalangan umat Islam. Anjuran yang dimaksud adalah memakmurkan mesjid bukan mencari kemakmuran dalam mesjid, baik kemakmuran ekonomi, kemakmuran politik maupun kemakmuran sosial.

Mesjid sebagai simbol peradaban Islam dan juga symbol ukhuwah islamiyah, maka penguatannya harus dimulai dari mesjid, dan berlangsung di mesjid. Ukhuwah islamiyah akan rapuh jika pemahaman tentang mesjid dipahami secara sempit. Sebaliknya jika masyarakat semakin dekat dengan mesjid maka ukhuwah islamiyah semakin kuat. Salah satu cara untuk menjadikan mesjid sebagai pusat ukhuwah islamiyah ialah dengan cara optimalisasi seluruh fungsinya sebagai mana yang dipraktikkan di era Rasulullah saw dan sahabatnya

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!