Orang Kaya Menurut Islam

GEMA JUMAT, 30 NOVEMBER 2018

Oleh: Prof. Dr. Tgk. H. Nasir Azis, SE, MBA, Dosen Unsyiah

Islam adalah agama yang Rahmatanlil’alamin, yang menjunjung tinggi kemuliaan, kebahagiaan, kesenangan di dunia dan di akhirat. Islam mengajarkan setiap pengikutnya untuk senantiasa berusaha dalam mengarungi kehidupan yang penuh cobaan. Agama Islam menuntut setiap muslimin untuk selalu berusaha dan bekerja. Refleksi ini setidaknya sudah bisa  dilihat pada zaman Rasulullah SAW. Dimana Rasulullah SAW sudah mengenal dunia ‘perdagangan’ atau sekarang disebut dengan Entrepenuerhip atau berwira usaha, semenjak umur 12 tahun. Pada saat itu beliau (Nabi Muhammad) mengikuti panutan dari pamannya, Abu Thalib. Barulah ketika Nabi mencapai usia remaja, pada umur 25 tahun, Nabi Muhammad melanjutkan berdagang secara individu serta beliau berhenti berdagang ketika diangkat menjadi Nabi dan Rasul pada umur 40 tahun. Kondisi tersebut menunjukkan kepada kita betapa pentingnya bekerja dalam bidang berwirausaha, sehingga beliau pernah bersabda yang artinya 9/10 dari rezki dalam bentuk harta bersumber dari wirausaha atau dagang.

Ajaran Islam menginginkan para pengikutnya memiliki kemapuan yang sempurna dalam segala bidang, termasuk penguasaan dalam bentuk harta benda. Yang penting metode dan cara memperolehnya sesuai dengan ajaran islam yaitu sebagaimana yang di anjurkan oleh tuntunan Allah dan Rasulnya. Kita sangat yakin dan percaya bahwa semua sumber kebahagiaan, kehormatan termasuk kekayaan berasal dari Allah SWT yang dibagikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Jika Allah takdirkan kita menjadi orang kaya, maka bersyukurlah dengan cara menggunakan kekayaan itu pada apa yang dikehendaki olehNYA. Dalam beberapa keterangan, Rasusullah menjelaskan keutamaan orang-orang yang diberikan Allah kemudahan dalam bentuk kekayaan antara lain sebagai berukut: Dari ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak boleh hasad (ghibtah) kecuali pada dua golongan manusia, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Al Qur’an dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari no. 73 dan Muslim no. 816). Hadits tersebut di atas menjelaskan akan keutamaan orang kaya yang giat memanfaatkan hartanya untuk diinfakkan dalam jalan kebaikan.

Selanjutnya, Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa orang-orang fakir dari kalangan Muhajirin datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka berkata: “Orang-orang kaya dengan harta selalu mendapatkan kedudukan tinggi dan nikmat yang terus menerus. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami puasa. Mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa pergi berhaji, berumrah, berjihad serta bershadaqah.

Harta kekayaan merupakan nikmat Allâh yang harus disyukuri. Kaya di dunia bukan satu hal yang tercela. Namun yang menimbulkan cela adalah prilaku orang kaya yang rakus dan tamak terhadap harta. Dalam rangka menumpuk harta, mereka tak segan-segan menggunakan cara yang tidak halal. Setelah berhasil meraihnya, mereka tidak menunaikan haknya, bakhil, membelanjakan harta bukan pada tempatnya atau bahkan sombong karenanya, sehingga Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang bermakna: Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. (Surah: al-Ma’ârij/70:19-21).

Secara normatif kehidupan manusia terbagi dalam beberapa tahap yang dimulai dari alam azazi, alam kandungan, alam dunia, alam kubur serta yang paling akhir nantinya adalah alam akhirat atau Yaumil akhirah. Salah satu fase yang dijalani oleh manusia adalah kehidupan di dunia. Rasul bersabda. Kehidupan di dunia “ladang” untuk kehidupan akhirat. Makna yang tersirat adalah didunia ini  kita mesti berusaha, bekerja sekuat tenaga untuk meraih kesuksesan baik didunia maupun di akhirat.

Siapa yang tidak ingin orang kaya di dunia? Dalam kehidupan yang fana ini tidak dapat dipungkiri bahwa hampir semua orang menginginkan harta di dunia untuk dapat terus melanjutkan kehidupan dengan baik. Bahkan dalam ajaran agama Islam pun juga mengajarkan kita menjadi orang kaya, maksudnya yaitu agar kita selaku umat Islam untuk terus berusaha dengan benar agar menghasilkan harta untuk dapat terus menjalankan kehidupannya dengan baik. Memiliki keinginan menjadi kaya tidaklah salah, hanya terkadang cara melakukannya saja yang tidak benar. Sebagai seorang muslim sebaiknya menggunakan cara yang halal dalam mencari kekayaan agar mendapat Ridha Allah SWT dalam rezki yang diperolehnya.

Sikap dan prilaku yang harus ditampilkan oleh seorang muslim, jika Allah takdirkan sebagai orang kaya antara lain:

Mensyukuri Nikmat Kekayaan

Nikmat kekayaan yang Allah berikan kepada sesorang mesti di bagikan atau didistrubusi kepada pihak lain baik secara terang terangan maupun secara sembunyi. Karena setiap harta yang kita miliki ada hak orang lain yang harus ditunaikan. Dalam surah ad-dhuha disebutkan…..dan adapun terhadap nikmat Tuhanmu maka beritakanlah/sebarkanlah.

Sikap syukur perlu menjadi kepribadian setiap Muslim. Sikap ini mengingatkan untuk berterima kasih kepada pemberi nikmat (Allah) dan perantara nikmat yang diperolehnya (manusia). Dengan syukur, ia akan rela dan puas atas nikmat Allah yang diperolehnya dengan tetap meningkatkan usaha guna mendapat nikmat yang lebih baik. Selain itu, bersyukur atas nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu kewajiban seorang muslim.   Seorang hamba yang tidak pernah bersyukur kepada Allah, alias kufur nikmat, adalah orang-orang sombong yang pantas mendapat adzab Allah SWT.

Allah  telah memerintahkan hamba-hambaNya untuk mengingat dan bersyukur atas nikmat-nikmatNya: “Karena itu, ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaKu dan janganlah kamu mengingkari nikmatKu.” (QS al-Baqarah:152). Akan tetapi, belum termasuk orang yang bersyukur mengucapkan hamdalah tetapi juga menggunakan rizki Allah untuk maksiat.

Mengeluarkan Zakat, Infaq dan Shadakah.

Di antara hak-hak yang harus ditunaikan yang paling utama adalah hak-hak Allah atas para hamba-Nya yang kaya dalam harta mereka. Yakni dalam bentuk zakat wajib, lalu diikuti infaq dan shadakah. Semua pengeluaran itu dapat membersihkan harta dari segala noda shubhat dan dapat menyucikan hati dari berbagai penyakit yang menyelimutinya seperti rasa kikir, tak mau mengalah dan egois. Harta tidak akan berkurang karena shadakah. Harta tidak akan hilang di darat maupun di laut, kecuali karena tidak mau membayar zakat, dan setiap kali satu kaum menolak membayar zakat, pasti hujan akan tertahan dari langit. Kalau bukan karena binatang, pasti hujan tidak akan turun.

Pengertian sedekah sama dengan pengertian infak, termasuk juga hukum dan ketentuan-ketentuannya. Hanya saja, jika infak berkaitan dengan materi, sedekah memiliki arti lebih luas, menyangkut hal yang bersifat non materiil (sebagaimana dalam peta konsep). Atau dapat pula berarti pemberian suatu benda oleh seseorang kepada yang lain dengan mengharap benar-benar hanya Ridho Allah (kesimpulan pengertian dari infak plus arti shadaqah secara bahasa). Dalam Al-Quran Q.S Al-Baqarah: 272, sebgai berikut: yang artinya: “bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan di jalan Allah, maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahala-Nya dengan cukup, sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).”

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!