PASRAH PADA ALLAH, BUKAN BEGITU

GEMA JUMAT, 21 JUNI 2019

Oleh Dr. Tgk. H. Amri Fatmi, Lc, MA

Islam mengajarkan Nilai kepasrahan pada Allah yang sangat unik. Nilai kepasrahan hamba yang dituntut ini merupakan prinsip dasar Islam yang ditanam dalam setiap pribadi pemeluknya. Firman Allah :

Dan Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang Dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. Luqman : 22)

 (Dia-lah) Allah tidak ada Tuhan selain Dia. dan hendaklah orang-orang mukmin bertawakkal kepada Allah saja. (QS, Attaghabun : 13)

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa Kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung Kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. Attaubah : 51)

Nilai dan Akhlak Kepasrahan pada Allah sepenuhnya inilah yang dinamakan Tawakkal dalam Islam.

Namun paraktik Tawakkal dalam kehidupan masyarakat muslim sering salah kaprah dan disalahamalkan. Sehingga tak sedikait orang mempraktikkan kejahilan mereka atas nama agama. Setiap kesalahan dalam mengamalkan agama adalah maksiat, dan setiap maksiat jauh dari taat.

Saat seseorang berbuat suatu pekerjaan, hokum sebab akibat berlaku pada semua pekerjaan zahir, namun tak sedikit yang dengan malas melaksanakan sebab suatu pekerjaan lalu mmenutupi kemalasannya dengan bertawakkal pada Allah. Sebab yang baik dan sesuai akan menghasilkann hasil yang baik dan sesuai pula.

Sebaik-baik orang yang mempraktikkan kepasrahan diri pada Allah adalah Rasulullah. Namun lihat bagaimana beliau berusaha di dalam urusan dunia dan memaknakan tawakkal yang wajib dijalankan seorang mukmin.

Dalam peristiwa hijrah, Rasulullah mengatur taktik hijrah yang sangat jitu supaya tidak terendus oleh kaum Quraisy. Diantaranya, Nabi memilih tunggangan yang besar dan kuat untuk perjalanan yang lama dan jauh, Nabi keluar dari Mekah bukannya menuju ke Utara yang merupakan arah jalan ke Madinah, tapi Nabi menuju ke selatan, kebalikannya untuk mengelabui perkiraan orang Quraisy, dan bersembunyi beberapa hari di gua supaya jalan terjamin aman dan biar tentara Quraisy merasa putus asa menemukan beliau. Lalu Nabi menyewa seorang penunjuk jalan yang sangat ahli mengetahui jalan alternative ke Madinah. Perlu dicatat, penunjuk jalan ini bukanlah seorang muslim tapi Nabi percaya akan pengalamannya dan meminta bantu padanya.

Makna penting dari sini tak lain adalah berpegang pada hokum sebab. Kewajiban berpegang pada sebab dalam menjalani hidup dan masuk dalam proses sebab akibat yang telah digariskan Allah. Jangankan kita, Rasulullah saja telah masuk dalam hokum sebab akibat

Kenyataannya, Nabi saja yang mampu menengadahkan tangan dan doanya mustajab tapi tidak meminta senaknya pada Allah untuk dibutakan mata orang Quraisy sehingga beliau bisa leluasa berjalan ke Madinah bersama Abu bakar tanpa harus sembunyi dan mengatur taktik dengan susah payah. Mencari sebab dalam mewujudkan sebuah tujuan adalah sunnatullah yang harus dijalani dan berlaku pada siapa saja tak terkecuali pada Nabi. Maka saat semua sebab yang mampu dilakukan telah diusahakan, maka saat itulah baru datang sikap tawakkal.

Tawakkal adalah sikap yang sangat mulia yang diajarkan Nabi pada umatnya. Sikap bergantung dan menyerahkan hasil usaha pada Allah. Jadi tawakkal bukanlah sikap yang datang diawal tanpa harus melakukan sebab akibat dan usaha yang mesti harus dilakukan, tetapi ia adalah sikap hati  atau sikap batin setelah angota tubuh berusaha dan otak merancang. Penyerahan keputusan akhir pada Allah dan hasil usaha padaNya, itulah yang dinamakan tawakkal. Sehingga walaupun hasil tidak seperti yang dimaksudkan, sesorang tidak kecewa atau putus asa, karena dia telah percaya bahwa penentu hasil akhir bukan sepenuhnya ada pada sebab yang ia buat tetapi ada di tangan Allah.

Inilah yang terjadi pada Nabi dan Abu bakar, tatkala tentara Quraisy dapat menemukan jejak beliau sampai ke gua Tsur tempat bersembunyi, Nabi tenang saja tanpa takut sedikitpun bertawakkal penuh pada Allah setelah semua usaha dan kemungkinan dilalui. Beliau berkata menghibur Abu bakar dengan tenang   sebagaimana diabadikan dalam Al-Quran : ” ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.”( Q.S. At-Taubah : 40)

Menjalankan usaha dan masuk dalam proses sebab – akibat merupakan sunnatullah selama kita masih hidup di alam ini. kalau kita paham bahwa hasil akhir adalah takdir dari pada Allah, maka usaha dan sebab yang kita ambil juga merupakan takdir Allah. Hal inilah yang dipahami oleh para sahabat dulu dalam mereka menjalani hidup dan perjuangan.

Tatkala Umar bin Khatab selaku Khalifah menuju Negeri Syam, lalu beliau dilaporkan bahwa Syam sedang dilanda wabah penyakit yang mematikan. Umarpun urung untuk memasuki negeri Syam. Lalu Panglima beliau Abu Ubaidah bin Jarrah menyangkal : “apakah engkau lari dari takdir Allah?” Umar bin Khathab menjawab : “aku lari dari takdir Allah menuju takdir Allah”. Yakni keputusan untuk menjauh tidak masuk Syam juga merupakan takdir Allah. Beginilah hubungan takdir dan sebab akibat yang harus dipahami dalam hidup seorang muslim.

Dalam kisah lain, Rasulullah menjelaskan saat ditanya ;”Bagaimana dengan obat yang kami pakai untuk berobat, dan ruqyah yang kami bacakan saat sakit…apakah itu bisa menolak takdir Allah? Nabi menjawab : ” ia adalah dari takdir Allah” ( H.R. Ibnu Majah, Hakim)

Jadi obat yang kita minum selaku sebab dari kesembuhan bukan menolak takdir tapi ia termasuk takdir dari Allah juga.

Perlu juga dipahami, walaupun berpegang pada sebab dalam berusaha berlaku pada orang mukmin dan orang kafir, namun terdapat perbedaan mendasar dalam memahami makna sebab antara orang mukmin dengan kafir.

Orang mukmin setelah mengusahakan segala sebab dalam sebuah perencanaan, dia tidak berserah diri pada sebab tersebut dan tidak bergantung sepenuhnya pada sebab itu apa lagi meyakini bahwa sebab itulah yang mampu memberikan hasil dari usahanya. Akan tetapi seorang mukmin meyakini bahwa kelangsungan segala perkara ada di tangan Allah, hasil akhir diatur oleh Allah, karena di sana ada sebab –sebab lain yang berlaku pada usaha yang sama, namun di luar control manusia, hanya Allah lah yang sanggup untuk menundukkan sebab-sebab lain tersebut bila Allah menghendakinya sesuai yang diharapkan oleh si pelaku usaha. Dan di sinilah fungsi doa memperkuat sebab dan ikhtiar seorang hamba.

Bayangkan perjalanan terbang kita dengan pesawat, walaupun pesawat telah diusahakan dicek, dikontrol dengan baik, pilot cerdas dan sehat serta cekatan, alat prakiraan cuaca berfungsi dengan baik, namun tidak seorangpun mampu mengontrol perubahan cuaca yang bisa terjadi tiba-tiba di angkasa, atau hal lain tak terduga. Hanya Alllah  yang mampu mengendalikan dan tahu segalanya. Disinilah dipahami, sehebat apapun usaha sebab manusia, tetap ia harus kembali pada Allah pemilik segala sebab (musabbibul asbab).

Sementara orang kafir yang non mukmin ia percaya bahwa sebab yang telah ia usahakanlah yang sepenuhnya menentukan hasil yang ia harapkan, dan sebab itulah yang mampu memberi atau tidak memberikan padanya tujuan yang diinginkannya.

Singkatnya, seorang mukmin yang makan sepotong roti, ia percaya bahwa roti yang masuk dalam tubuhnya dicerna dengan kehendak Allah dan semua partikel dan sel-sel tubuh berkerja atas aturan dan iradah Allah. Sementara orang kafir mengangap bahwa roti yang dia makan bekerja tanpa diatur oleh Penguasa tetapi secara otomatis dicerna oleh tubuh tanpa ada yang mengaturnya.

Sungguh jauh perbedaan antara dua keyakinan ini. keyakinan orang mukmin dalam proses sebab akibat akan memberikan sikap optimis yang sangat kuat dan jauh dari putus asa atau merasa jatuh gagal ditimpa nasib.

Hijrah Nabi mengajarkan kita hidup sesaui dengan sunnatullah, bertawakkal dengan cara yang benar, berdoa dengan penuh harap pada Allah dan memperkuat iman dan keyakinan kita pada Allah.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.” ( Q.S. Al-Ahzab : 21)

Khalifah Umar bin Khatab suatu ketika melihat beberapa orang yang ikut pergi haji tanpa membawa bekal dalam perjalanan haji tersebut, lalu beliau memhampiri dan bertanya, siapa kalian? Mereka menjawab : ” kami orang yang bertawakkal.” Umar pun berkata : ” itu dusta, orang yang bertwakkal menabur benih di tanah lalu ia bertawakkal”.

Tawakkal itu ranah hati dan batin orang mukmin yang wajib diyakini, sedang menjalankan sebab akibat adalah ranah usaha zahir yang wajib dijalani. Siapa tidak menjalakan hokum sebab akibat maka telah bermaksiat, dan siapa yang tidak bertawakkal dengan hati dan batinnya maka ia terjerumus pada syirik. Inilah kepasrahan diri yang dituntun pada seorang mukmin.

Khatib Dosen Program Studi Hukum Keluarga Sekolah Tinggi Ilmu (STI) Syariah Al-Hilal Sigli, Pidie.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!