PENDIDIKAN KARAKTER ISLAMI

GEMA JUMAT, 14 SEPTEMBER 2018

Oleh : Dr. Tgk. H. Syabuddin Gade, M.Ag (Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan UIN Ar-Raniry)

Kerusakan moral merupakan salah satu musibah besar yang menimpa bangsa-bangsa dewasa ini, termasuk bangsa kita Indonesia. Ribuan kasus amoral menimpa  anak-anak, remaja dan dewasa bahkan hampir semua elemen bangsa. Saban hari, media social dan elektronik, merekam banyak kasus pelanggaran terhadap ajaran agama, hukum dan akhlak.  Kasus pelacuran, pencurian, perampokan,  pembunuhan, fitnah, narkoba, korupsi dan jauh dari praktik ibadah (tidak menunaikan shalat misalnya) terjadi hampir di seluruh pelosok negeri. Semua ini tentu sangat memperihatinkan dan menyesakkan dada.

Jika kerusakan moral  terus dibiarkan, maka yakinlah kehancuran akan menimpa bangsa ini. Syauqi Bey berkata:  “Innamal umamu al-akhlaqu ma baqiyat fa in humu zahabat akhlaquhum zahabu”  (“Sesungguhnya kejayaan suatu bangsa terletak pada akhlaknya, jika pada mereka telah hilang akhlaknya, maka jatuhlah bangsa itu). Karena itu, salah satu tawaran menarik untuk mengatasi kerusakan moral bangsa adalah melalui “pendidikan karakter yang Islami”.

Perbincagan mengenai  “pendidikan karakter yang Islami” tentu saja menimbulkan banyak pertanyaan, antara lain; apakah yang dimaksud dengan “pendidikan karakter  yang Islami”? Apakah sumber dan isinya? Apakah fungsi dan tujuannya? Siapa saja yang bertanggungjawab terhadap pendidikan karakter yang Islami?  Bagaimana  metode implementasinya? Pelbagai pertanyaan lainnyapun bisa saja mengemuka.

Pendidikan karakter yang Islami adalah suatu usaha yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia dapat berfikir, memahami, memperhatikan, berucap, bertindak dan mengamalkan nilai-nilai etik sesuai dengan ajaran Islam. Dengan kata lain, “pendidikan karakter yang Islami” sesungguhnya itulah “pendidikan akhlak mulia” (tarbiyat al-akhlaq al-mahmudah) baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, diri sendiri maupun dengan lingkungan.

Sumber utama “pendidikan karakter yang Islami” adalah  al-Qur’an dan Sunnah. Isinya itulah semua ajaran Islam. Banyak  ajaran Islam yang menerangkan tentang pendidikan nilai akhlak mulia, antara lain; nilai religious atau ibadah kepada Allah (Q.S. al-Bayyinah:5),  jujur (Q.S. al-Tawbah:119), toleransi (Q.S. al-Kafirun:1-6), disiplin (Q.S. al-Jum’ah: 9-10), kerja keras (Q.S. al-Tawbah:105), kreatif (Q.S Al-Baqarah: 219), mandiri (Q.S al-Mulk: 15), demokratis (Q.S. al-Syura:38), rasa ingin tahu (Q.S. Al-Kahfi:66-67), semangat kebangsaan, cinta tanah air (Q.S Al-Tawbah: 122), menghargai prestasi (Q.S.Al-Nisa’: 32), bersahabat/komunikatif (Q.S. Thaha:44), cinta damai (Q.S. Al-Anfal:61), gemar membaca (Q.S. Al-‘Alaq: 1-3), peduli lingkungan (Q.S. Al-A’raf: 56-58), peduli social (Q.S. Al-Nisa’: 86), tanggung jawab (Q.S. Al-Muddatstsir: 38) dan lain sebagainya.

Tujuan “pedidikan karakter yang Islami” adalah untuk mengembangkan potensi dasar seseorang  agar berhati mulia, berperilaku mulia, berpikiran mulia serta bertaqwa kepada Allah. Fungsi besarnya adalah memperkuat eksistensi bangsa yang multikultur, meningkatkan peradaban manusia dan bangsa, mulia dalam pergaulan dunia  serta mulia dalam pandangan Allah sehingga kelak layak mendapatkan syurga-Nya.

Pendidikan karakter dapat dilakukan bukan hanya di bangku sekolah, melainkan juga di rumah dan masyarakat pada umumnya. Karena itu, penanggungjawab utama pendidikan karakter yang Islami adalah orang tua, guru, masyarakat dan pemerintah. Semua pihak mesti berkontribusi dan bersinergi membangun karakter Islami anak bangsa sesuai kemampuan yang ada, bukan justeru berpangku tangan manakala melihat kemunkaran dan perilaku amoral.

Pendidikan karakter yang Islami paling tidak dapat dilakukan dengan beberapa metode; qudwah (keteladanan), pembiasaan (tadrib), pencegahan (nahyu), apresiasi (tsawab) dan sanksi (‘iqab) . Melalui qudwah sesorang menjadi “role model” bagi pihak lain dan pihak lain dapat meneladani dan meniru karakter baik-nya. Contohnya, karakter mulia Rasulullah SAW menjadi suri teladan bagi umatnya dan umat sejatinya meniru perilaku mulia Rasulullah SAW (Q.S.Al-Ahzab: 21). Melalui tadrib (pembiasaan) seseorang dibiasaakan sejak kecil untuk mengamalkan nilai perilaku mulia; taat ibadah, jujur, toleran, peduli lingkungan, bertanggungjawab dan lain sebagainya. Pembiasaan berperilaku mulia sejak kecil, in syaa Allah, akan membentuk kepribadian seseorang berperilaku mulia.

Seiring dengan itu, juga perlu dilakukan pencegahan agar seseorang jauh dari perilaku keji dan munkar. Rasulullah SAW bersabda, yang maksudnya; “Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran, maka hendaklah ia mencegahnya dengan tangan (kekuasaan), jika ia tidak mampu (mencegah dengan kekuasaan), maka hendaklah ia mencegahnya dengan lisan; jika ia tidak mampu (mencegah dengan lisan), maka hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya dan itu (mencegah dengan hati) adalah selemah-lemah iman” (H.R. Muslim).

Agar seseorang terus mengamalkan nilai-nilai baik dan perilaku mulia sejatinya perlu diberikan apresiasi (tsawab) sebagai penguat. Allah SWT selalu memberikan apresiasi kepada hamba-Nya yang beramal shalih dan berperilaku mulia; boleh jadi rizqi bertambah, pahala yang besar ataupun janji mendapatkan pelbagai kenikmatan syurga. Sebaliknya, agar manusia menghindar dari perilaku keji dan munkar maka perlu diberikan sanksi (‘iqab) yang setimpal. Melalui hukuman yang setimpal akan menimbulkan efek jera sehingga seseorang akan meninggalkan perilaku keji dan munkar.

Khatib  Wakil Rektor II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan UIN Ar-Raniry Banda Aceh

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!