Puasa, Kesabaran dan Batasnya

Sri Suyanta Harsa
Muhasabah 13 Ramadhan 1440

Saudaraku, di antara pengaruh positif penunaian puasa dan ibadah ramadhan terhadap akhlakul karimah adalah terbinanya sikap sabar bagi pelakunya.

Sebagaimana sudah lazim diketahui bahwa sabar merupakan salah satu di antara banyak akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam Islam. Secara bebas, sabar dapat dipahami sebagai kemampuan mengendalikan diri saat berada dalam segala keadaan sehingga tetap istiqamah dalam ketaatan dan kebenaran. Jadi kunci sabar adalah tetap istiqamah dalam ketaatan kepadaNya

Hanya saja dalam praktiknya, sikap sabar atau kesabaran cenderung dipahami dan digunakan dalam rangka menghadapi musibah seperti ditimpa kematian salah satu keluarga, kekurangan harta, kekurangan pangan, dilanda bencana alam dan seterusnya. Sabar juga saat menghadapi suatu keadaan yang berbeda dengan yang diharapkannya. Penginnya lulus pns tetapi masih belum beruntung, maka mesti sabar. Niat dan hasrat hatinya berangkat ke senayan atau ke gedung parlemen menjadi anggota dewan mewakii rakyat tetapi perolehan suaranya belum cukup membawanya ke sana, maka harus bersabar. Maunya segera mendapat hak-hak atas jerih payahnya selama ini atau THRnya namun belum kunjung keluar juga, maka harus sabar. Maunya puasa kali ini sudah makan sahur dan berbuka bersama suami/istrinya tetapi belum juga mendapatkan jodohnya. Dan seterusnya dan seterusnya.

Sesungguhnya cakupan sabar itu sangat luas, bukan sebatas saat menghadapi musibah saja. Sabar di antara juga kemampuan mengendalikan diri untuk tetap istiqamah dalam mentaati Allah dalam arti luas; dengan menjalankan apa yang diperintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Kesabaran dalam arti istiqamah dalam ketaatan dan ketakwaan inilah yang tidak ada batasnya. Kita dituntut dan dituntun untuk terus bersabar sampai kapanpun..Tetapi tentu berbeda halnya dengan melihat atau menghadapi kezaliman, kemungkaran dan kejahatan terjadi di sekitar kita. Untuk kasus-kasus ini justru ada seruan yang mewajibkan untuk mencegah atau memperbaikinya. Artinya kita tidak boleh sabar membiarkan kemungjaran, kezaliman, kesalahan prosedur, kecurangan dan hal-hal yang bathil lainnya berlangsung terus di hadapan kita.

Allah berfirman yang artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebaikan, menyeru (berbuat) yang ma’ruf, dan mencegah daripada yang munkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Qs. Ali Imran 104).

Dan Rasulullah saw juga mengingatkan kita dengan sabdanya, Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka cegah dan ubahlah dengan tangan (kekuasaan yang dimiliki) Jika tidak sanggup, maka cegah dan ubahlah dengan lisan (seruan dan dakwah). Jika tidak sanggup, maka dengan hati (dengan membenci kemungkaran). Yang demikian itu selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Dengan demikian kesabaran harus pada tempatnya, yakni tetap istiqamah dalam ketaatan jepada Alllah saja. Dalam konteks penunaian ibadah puasa, kesabaran mewujud dan mewarnai seluruh rangkaian pelaksanaaan ibadah Ramadhan, baik saat shiyamu ramadhan di siang harinya maupun qiyamu ramadhan di malam harinya.

Seluruh aktivitas pemberdayaan shiyamu ramadhan di siang hari maupun qiyamu ramadhan di malam harinya dilakukan dengan penuh kesabaran untuk menggapai ridha Allah. Kesabaran dalam qiyamu ramadhan berawal dari menunaikan shalat Magrib berjamaah lalu shalat sunah bakda magrib 2 rekaat lalu tilawah al-Qur’an, shalat Isya berjamaah bersambung shalat sunat rawatib bakda Isya 2 rekaat, dan shalat terawih 8 (atau 20) rekaat dan witir 3 rekaat dan berlanjut sesi kajian, belajar dan tadarus Qur’an. Dini hari sudah bangun dengan tidak lupa memanjatkan doa alhamdulillahilladzi ahyana bakdamaamatana wa ilaihi nusur, lalu sahur ala kadar, dan subuhan. Usai subuhan menyempatkan memberi atau mendengar tausiyah atau melakukan kajian Islam, tilawah qur’an. Lalu berolah raga ringan atau jalan pagi sampai saatnya berkemas melakukan aktivitas kerja dan mencari nafkah yang diawali shalat dhuha.

Kesabaran dalam shiyamu ramadhan di siang harinya menunaikan puasa dengan melakukan aktivitas pendukungnya seperti sabar dalam belajar, sabar dalam mengajar, sabar beraktivitas ke tempat kerja atau mencari nafkah dan sabar memenuhi kewajibannya. Begitu sore hari tiba (keluarga) kita dengan sabar sudah mempesiapkan makanan minuman untuk berbuka, dab sabar sampai benar-benar terasa kebahagiaannya pada saat magrib tiba. Begitu seterusnya kita ulang untuk senantiasa bahagia karenaNya. Jadi segala agenda keseharian akan akvitas bermakna dapat ditunaikan pada saatnya dengan sabar dan istiqamah.

Sembari mengumpulkan pundi-pundi pahala ibadah, orang-orang yang berpuasa juga bersabar dalam ketaatan pada Allah dengan terus menghindari dari melakukan kemaksiatan, tidak melakukan kezaliman, tidak berlaku boros, tidak malas-malasan, tidak sembrono dalan bertutur kata, tidak berlaku sombong, menghindarkan diri dari sesuatu yang lagha (sia-sia) dan menghindarkan diri dari perilaku yang tidak baiknya lainnya juga merupakan indikator penting bagi orang-orang sabar.

Pada gilirannya, sikap sabar sebagai hasil pendidikan ibadah ramadhan, akan mewujud dalam kehidupan sehari-hari, sebagai suami berlaku sabar dalam mencari nafkah, sabar mengimami keluarga sembari mengedepankan sikap saling asih asah dan asuh. Sebagai istri mesti sabar dalam mendampingi suami, sabar mengasuh putra putrinya dan mengelola rezeki dan keuangannya. Sebagai anak mestinya juga harus sabar dalam proses pengembangan dirinya dan mengikuti arahan ibu bapaknya

Ketika kesabaran dapat dikukuhkan dalam kehidupan, maka tidak ada yang dapat kita lakukan kecuali mensyukurinya baik di hati, lisan maupun perbuatan nyata.

Pertama, mensyukuri di hati dengan meyakini bahwa dengan sikap sabar dalam arti tetap istiqamah dalam ketaatan pada Allah, maka hati menjadi qanaah oase rasa bahagia.

Kedua mensyukurinya dengan lisan seraya melafalkan alhamdulillahirabbil ‘alamin. Dengan memujiNya, semoga Allah mengaruniakan hidayah kepada kita untuk mengistiqamahi kesabaran beribadah kepadaNya semata.

Ketiga, mensyukuri dengan langkah nyata, yaitu menghiasi diri dengan sikap sabar bukan saja saat menghadapi musibah tetapi juga kesabaran dalam ketaatannya kepada Allah ta’ala. Di sinilah kemudian dimengerti bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar. Kalau sudah bersama Allah, tentu segalanya menjadi mudah dan dimudahkan.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!