Refleksi Diri di Penghujung Tahun

Gema JUMAT, 9 Oktober 2015

Khutbah Jum’at, Ustadz Mizaj Iskandar, Lc, LLM, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry

KATA refleksi memiliki arti dan makna yang sama dengan muhasabah atau introspeksi diri. ‘Umar ibn al-Khatab suatu hari pernah berujar “hasibu anfusakum qabla ‘an tuhasabu” (instrospeksilah diri, sebelum dirimu diinstropeksi oleh orang lain). Jika perkataan ‘Umar ini dapat kita terima, maka yang menjadi refleksi akhir tahun itu sendiri sebenarnya adalah bercermin diri, sehingga kita bisa melihat kekurangan diri, dan tidak larut dengan kekurangan orang lain.

Selain itu refleksi juga bertujuan menggali nilainilai sejarah, agar dengan nilai itu kita mampu mempersiapkan diri di masa sekarang (here and now), bahkan jauh dari itu refleksi diri juga bisa kita perentukan untuk memproyeksi masa depan (future), sehingga masa depan kita akan lebih baik dari masa lalu dan sekarang.

Kita selaku masyarakat Muslim yang berdomisili di Aceh akhir-akhir ini terkuras emosinya disebabkan beberapa polimik yang muncul di tengahtengah masyarakat. Belum lagi tekanan hidup, ekonomi, polusi asap, kerusakan moral dan lain sebagainya mampu kita selesaikan dengan baik (happy ending), permasalahan-permasalahan lain pun yang lebih mengarah kepada sikap intoleransi muncul dan menyeruak.

Perbedaan pendapat merupakan hal yang lumrah dan biasa terjadi di dalam tradisi keilmuan Islam. Tidak ada yang bisa mengklaim diri sebagai yang paling benar pemahamannya terhadap skirptualitas Islam (al-Qur’an dan hadits). Agar mampu menyikapi perbadaan tersebut dengan bijak dibutuhkan kesepahaman, tidak akan muncul sikap toleran dari dalam diri kita jika tidak ada kesepahaman, dengan kata lain, kesepahaman merupakan modal awal agar terwujudnya sikap toleran dalam menyikapi perbedaan.

Menarik kita simak apa yang dikatakan oleh seorang ulama Sunni besar yang bergelar hujjatul Islam al-Ghazali di dalam Faisal al-Tafaruqah bayna al-Islam wa al-Zindiqah menyatakan bahwa setiap pemahaman atau mazhab keislaman dengan semua perbedaannya memiliki kemungkinan benar, karena kebenaran ada di dalam setiap pendapat (al-haq yaduru fi kulli madhhab). Oleh karena itu menurut al-Ghazali, seseorang tidak boleh menyesatkan orang lain walaupun berlainan akidah. Lebih jauh lagi al-Ghazali juga berkata, “Inna alMubadirah ila takfiri man yukhalifu al-Asy‘ari aw ghairuhu jahilun mujazifun. (orang yang tergesagesa dalam mentakfirkan yang tak sepaham dengan al-Asy‘ari atau selainnya merupakan orang bodoh lagi berbahaya).

Sementara orang berpikir, bagaimana mungkin kita bersatu dalam banyak ragam pemahaman. Jika dipandang dengan logika akal, pikiran ini dapat di benarkan. Tetapi kita juga harus ingat, agama ini tidak bisa selalu didekati dengan akal. Terkadang kita juga harus mendekati suatu permasalah dengan logika perasaan dan tidak dengan logika akal. Logika akal tidak bisa menerima dua hal yang bertolak belakang, tetapi logika perasaan mampu mengabungkan dua hal yang bertolak belakang.

Oleh sebab itu lah, akhirnya kita bisa memahami, kenapa ketika Allah berbicara mengenai pluralitas pemahaman dan ketidakmungkinan manusia disatukan pahamnya Allah menggunakan kata-kata, “illa man rahima rabbbuka wa lizalika khalaqahum” (orang yang bisa memahami perbeadaan itu hanya orang-orang yang dikasihi Tuhanmu, dan untuk itulah mereka diciptakan). (Q. S: 11/118). Kasih merupakan salah satu karakter dan sifat dari perasaan. Hanya orang-orang yang mampu menghidupkan logika perasaannya lah (‘irfan, intuisi) yang mampu bertoleransi dalam menyikapi perbedaan. Sehingga pada akhirnya persatuan dalam perbedaan atau Bhineka Tunggal Ika mampu diwujudkan dan diimplementasikan.

Di akhir tulisan ini penulis ingin bertanya kepada siap pun yang membaca tulisan ini, kenapa kita mampu bersikap toleran ketika berada di kota suci Makkah, padahal di sana berjuta-juta orang datang dengan latar suku, ras, warna kulit, bahasa, sikap, perilaku, adat-istiadat dan tentunya pemahaman keagamaan yang berbeda-beda. Tetapi di Serambi Makkah di mana kita sebangsa, setanah air, setumpah darah, sebahasa sulit untuk dipersatukan. Dengan ungkapan yang lebih sederhana, kenapa di Makkah kita bersatu, tetapi di Serambi Makkah kita bercerai-berai?. Wallahu a’lam bi al-haqiqah wa shawab.

Semoga tulisan ini ada manfaatnya, kepada Allah penulis berserah diri, kepada-Nya dipersembahkan bakti dan kepada-Nya pula penulis memohon segala ampunan, tawfiq, hidayah dan perlindungan. Wallahu ’a‘lam bi al-haqiqah wa al-shawab.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!