SABAR DALAM BERIBADAH

 

Gema JUMAT, 13 November 2015

Khutbah Jum’at, Tgk. H. Muhammad Hatta, Lc, M.Ed, Pimpinan Dayah Madani Al-Aziziyah, Lampeuneurut, Aceh Besar

Firman Allah Ta`ala didalam surat Al-Imran 200:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman berlaku sabarlah, dan perkuat kesabaran diantara sesama kalian, dan bersiap siagalah kalian serta bertaqwalah kepada Allah supaya kalian memperoleh kemenangan. (ali Imran 200).

Ayat ini menjelaskan kepada kita sebagai orang yang beriman bahwa sabar adalah merupakan salah satu cirri dan kriteria kita sebagai orang yang beriman kepada Allah.

Bila kita ingin melihat lebih jauh, maka sabar ini dapat dibagikan kepada 4 kategori:

Pertama, Sabar dalam beribadah, artinya tekun dan istiqamah melakukan ibadah, walupun banyak kesulitan dan rintanganrintangannya. Suatu contoh adalah orang yang melakukan shalat di waktu malam, dia rela meninggalkan tempat tidurnya untuk mengambil air wudhu, kemudian merendahkan diri dihadapan kebesaran Allah, bersujud dan berdo’a memohon ampun kepadaNya, dengan harapan agar mendapatkan keridhoanNya. Firman Allah surat Thaha 132:

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.

Secara batin “ Sabar dalam beribadah “ ini menuntut adanya keikhlasan hati, curahan segala tenaga dan fi kiran semata-mata karena Allah, bukan karena ingin pujian atau sanjungan dari manusia. Hal ini dapat kita cermati dari kisah kesabaran Nabi Ibrahim dan anaknya Ismail ketika menerima perintah Allah.

Kedua, Sabar ketika ditimpa musibah, adalah teguh hati dan ikhlas ketika mendapat musibah, baik berupa kemiskinan, kematian orang yang dicintai, penyakit, kecelakaan, dan lain sebagainya. Orang yang sabar dalam hal ini artinya tidak berkeluh resah, atau merintih, mengadu kepada orang lain, apalagi putus asa menerima bencanabencana tersebut, bahkan dia tawakkal kepada Allah, setelah berusaha mencari jalan keluar dengan sebaikbaiknya.

Ketiga, Sabar terhadap kehidupan duniawi, artinya sabar terhadap tipu daya dunia, tidak terpaut kepada keni’matan hidup di dunia dan tidak menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan, Tetapi hanya sebagai alat untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan yang hakiki, yaitu di akhirat nanti. Dunia adalah tempatnya beramal menanam kebajikan dan akhlaq yang mulia untuk memperoleh hasil besok di akhirat. Harta kekayaan, pangkat dan kedudukan merupakan amanat dari Allah untuk dipelihara dan digunakan sesuai dengan kehendak-Nya. Karena itu besok di akhirat pemiliknya akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Dalam Al-qur’an surat at-Takatsur ayat delapan Allah berfi rman:

Artinya: Maka mereka besok di hari kiamat akan dimintai pertanggung jawaban tentang kenikmatan.

Keempat, Sabar terhadap maksiat, artinya mengendalikan diri, mengindar dari perbuatan maksiat, mampu melawan rayuanrayuan syaithan dan nafsu yang sengaja menyeret manusia pada jalan yang sesat. Sabar bagian ini bukan saja mengenai diri sendiri, tapi mengenai juga diri orang lain. Yaitu berusaha supaya orang lain juga jangan sampai terperosok ke dalam jurang kemaksiatan, dengan melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar. Walaupun banyak rintangan dan kesakitan yang dihadapinya.

Kelima, Sabar dalam perjuangan, artinya kesadaran jiwa untuk mengerahkan tenaga, kekuatan dan harta benada di jalan Allah, untuk memperoleh keridhoan-Nya. Perjuangan ini ada dua macam:

  • Perjuangan melawan orang-orang kafi r, di medan pertempuran dan pertumpahan darah yang begitu dahsyat dalam pandangan mata manusia (perjuangan fisik)
  • Perjuangan melawan nafsu atau “Jihadul Akbar”. Pengertian seperti itu diambil dari sabda Nabi yang berbunyi:

Artinya: “Kita sekarang kembali dari Jihad Ashghor (jihad kecil) menuju Jihad Akbar (memerangi hawa nafsu).

Nafsu adalah musuh yang paling jahat yang bersarang dalam diri kita, dan selalu membuat keangkara murkaan, merayu dan menggoda kita agar tersesat dari jalan yang benar serta menghalangi diri kita daripada melaksanakan ibadah. Nafsu yang seperti inilah yang harus kita perangi dengan menggunakan senjata iman yang kuat kepada Allah. Karena hanya imanlah satu-satunya senjata yang mampu menundukkan keangkuhannya. Orang yang mampu melawan serangan nafsu dengan kecerdikan akal fi kirannya, maka dia disebut orang yang sabar dan bahagia dalam kehidupannya. Sesuai dengan keterangan yang telah disebutkan dalam kitab Nashoichul Ibad:

Artinya: Berbahagialah orang yang akalnya menjadi penguasa, sedangkan nafsunya menjadi tawanan. Dan celakalah bagi orang yang hawa nafsunya menjadi raja, sedang akalnya menjadi tawanan.

Demikianlah yang dapat kami sampaikan, semoga kita termasuk golongan orang-orang yang sabar, sesuai dengan fi rman Allah SWT didalam surat al-Nahl 96:

apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. dan Sesungguhnya Kami akan memberi Balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!