SENDI-SENDI MASYARAKAT ISLAMI

Gema JUMAT, 26 AGUSTUS 2016

Dr. Tgk. H. Ajidar Matsyah, Lc., MA (Khatib Tenaga Pengajar UIN Ar Raniry Banda Aceh)

Pembahasan tentang  sendi-sendi masyarakat yang bersifat islami tidak terlepas dari fondasi kokoh yang telah dibangun oleh Rasulullah Saw dalam masa-masa penyebaran risalah kenabiannya. Dalam sejarah Islam, telah dijelaskan bahwa masyarakat Islam pertama yang dibangun Rasulullah Saw adalah masyarakat Madinah selama kurun waktu lebih kurang 10 tahun. Sebelumnya, selama 13 tahun, Rasulullah Saw menyebarkan misi kenabiannya di Mekkah dengan lebih memfokuskan pada  hal-hal yang berhubungan dengan akidah dan akhlak. Hal ini pula yang menandai karakteristik kandungan ayat-ayat Alquran yang diturunkan di Mekkah (makkiyah), hampir seluruhnya mengandung ajakan dan perintah yang berubungan dengan masalah-masalah akidah dan akhlak.

Dalam kehidupan saat ini, perhatian kita terhadap pendidikan akidah dan akhlak cenderung menurun dan  seakan-akan pendidikan ini dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting lagi. Bahkan, kita lebih memfokuskan pada pendidikan otak semata. Padahal, pendidikan watak secara mendasar sangat terkait dengan akidah dan akhlak yang saat ini cenderung kita tinggalkan atau tertinggal. Fenomena inilah yang menyebabkan lahirnya generasi-generasi yang kebanyakan hanya unggul secara otak,  tetapi gagal dalam pendidikan watak. Padahal,  hal-hal inilah yang menjadi inti dari sendi-sendi masyarakat islami.

Konsep Islam dalam hubungannya dengan bangunan masyarakat islami, bukanlah konsep Islam yang terbatas, tetapi Islam dalam arti yang sangat luas dan tidak terbatas. Artinya, Islam bukan hanya sekedar sebagai sebuah agama, tetapi Islam juga terkandung di dalamnya hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, politik, sosial dan budaya. Pemahaman Islam dalam kaitannya dengan ekonomi, bukan berarti Islam dapat diperjual-belikan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun, sebaliknya Islam mengatur sistem perekonomian umatnya yang dikenal dengan al-iqtishad al-islami (ekonomi Islam), yang dalam sistemnya tidak mengenal krisis ekonomi. Begitu juga halnya dengan Islam dalam hubungannya dengan politik, yang bukanlah bermakna bahwa Islam sebagai alat politik, tetapi dengan ajaran Islam dapat mengatur sistem perpolitikan umatnya yang dikenal dengan siasah syar`iyyah (politik Islam).

Masyarakat dan Sendi-sendi Islam

Sendi-sendi Islam yang dimaksudkan di sini adalah prinsip-prinsip Islam dan umatnya yang pernah dibangun oleh Rasulullah Saw, terutama yang tercermin pada sistem dan sifat-sifat pemerintahan Rasul Saw di Madinah. Ada sejumlah Prinsip atau sendi-sendi yang dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi masyarakat Islam saat ini untuk membentuk masyarakat yang islami, yaitu:

  1. Persaudaraan

Persaudaraan (al-ukhuwah) merupakan dasar dari datangnya Islam dalam membangun sesama umatnya sendiri (ukhuwah islamiyah) maupun dengan manusia sejagat (ukhuwah insaniah). Ukhwah adalah bagian dari ushuliah, bukan hal furu`iyah. Firman Allah SWT:

Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. (Q.S. Al-Hujarat: 10).

Ungkapan ukhuwah memang sebuah kata yang sangat sederhana dan sering kita mengucapkannya, sehingga kita merasakan bahwa ukhuwah merupakan hal yang biasa. Padahal, jika dikaji lebih mendalam, konsep ukhuwah merupakan sendi syariah yang paling inti dalam Islam. Buktinya, ketika Nabi Saw tiba di Madinah, perkara pertama yang beliau lakukan adalah muwakhah, yaitu mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Salah satu kekuatan ukhuwah adalah adanya hubungan silaturrahmi, karena dengan silaturrahmi, konflik dapat menjadi damai dan kebencian akan bertukar dengan kasih sayang.

Dalam suatu hikayah diceritakan, suatu ketika Nabi Saw pernah diludahi oleh seorang Yahudi Arab saat sedang dalam perjalanan subuh ke mesjid, karena bencinya orang Yahudi tersebut kepada Muhammad Saw  dan  beliau tidak membalasnya. Kejadian ini terjadi setiap pagi subuh ketika Nabi Saw pergi ke masjid. Namun,  pernah suatu pagi, Nabi Saw, tiba-tiba merasakan tidak ada orang yang meludahinya. Atas perasaan tersebut, beliau bertanya kepada sahabatnya, kemana perginya orang yang selalu meludahinya setiap pagi? Sahabatnya berkata, si pulan tersebut sedang sakit. Mendengar berita tersebut, Rasulullah langsung memerintahkan sahabatnya, “tolong beli sedikit kurma, kita akan menziarahi dan bersilaturrahmi dengan orang tersebut”. Begitu Rasulullah tiba di tempat orang Yahudi tersebut, seketika dia sembuh dengan sendirinya dan langsung merangkul Rasulullah Saw seterusnya, sekaligus mengucapkan dua kalimah tauhid dan akhirnya masuk Islam.

Kisah dari prilaku Rasulullah tersebut menjadi pelajaran yang sangat penting bahwa silaturahmi bukanlah hanya mampu menyelesaikan konflik, tetapi silaturrahmi juga mampu merubah akidah seseorang, dari tidak beriman kepada beriman. Keberhasilan dari perdamaian di Aceh, barangkali diawali juga oleh semangat silaturrahmi antara kedua belah pihak, sehingga terwujudlah perjanjian damai tersebut.

Di sisi lain, Islam mengajarkan bahwa muslim sejati ialah muslim yang mampu menjaga persaudaraan dengan muslim yang lain. Hal ini dijelaskan dalam hadist berikut:

Artinya: Muslim ialah seseorang yang bisa selamat muslim yang lain dari tangannya dan lidahnya. (H.R. Muslim).

  1. Persamaan 

Persamaan (al-musawah) merupakan prinsip penting dalam membangun masyarakat islami. Kehadiran syariat telah menghilangkan kasta-kasta atau pengelompokan-pengelompokan dalam masyarakat dan menggantikannya dengan konsep al-musawah atau persamaan. Artinya, sama taraf dalam segala hal, terutama di depan hukum. Nilai-nilai persamaan ini merupakan akhlak atau karakter syariat. Sebagaimana Umar bin Khattab mengatakan:

Artinya: Manusia itu sama rata seperti biji sisir, tidak ada lebih orang Arab atas orang `Ajam, kecuali dengan takwa.

Contoh lain dari konsep al-musawah dalam Islam, seperti berikut:

Artinya: Rasulullah saw bersabda, Amma ba`d, Sesungguhnya yang membuat binasa umat sebelummu adalah orang-orang terhormat di antara mereka mencuri, mereka biarkan, dan jika orang-orang lemah di antara mereka mencuri, mereka berlakukan had atasnya. Demi Allah yang Muhammad di tangannya, jika Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku potong tangannya.

Berdasarkan redaksi hadist di atas, jelas menunjukkan setiap individu saat berada di depan hukum memiliki hak yang sama. Tidak ada perbedaan antara yang kuat dan yang lemah, kaya dan miskin dan tidak ada perbedaan pula antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Di samping itu, prinsip al-musawah dalam politik, juga telah dicontohkan Rasulullah Saw dan sekaligus menjadi pedoman dan pelajaran kepada umatnya. Misalnya, ketika Rasulullah menjadi fasilitator dalam penyelesaian konflik kabilah di Mekkah, terutama dalam penyelesaian peletakan kembali batu mulia hajar aswad ke tempatnya semula. Masing-masing kelompok saat itu merasa lebih berhak untuk meletakkan kembali batu mulia tersebut pada tempatnya. Rasulullah mengambil kain ridaknya dan meletakkan hajar aswad dalam ridaknya. Kemudian, beliau memanggil semua kepala suku untuk memegang setiap sudutnya dan diangkat bersama-sama. Peristiwa ini merupakan prilaku al-musawah yang diajarkan Rasulullah kepada umatnya, terutama yang berkaitan dengan pembelajaran politik.

Prinsip-prinsip persamaan yang diajarkan Islam dan dicontohkan Rasulullah Saw, seakan-akan hilang jika dihubungkan dengan kenyataan dari prilaku politik rakyat, pemimpin dan bangsa kita saat ini. Dalam sejarah Islam, konsep al-musawah juga pernah dipraktikkan oleh Umar bin Abdul Aziz, saat menjadi seorang khalifah yang adil dan bijak. Keadilan dan kebijakannya tercermin dalam praktik pemerintahan yang tidak menguntungkan diri sendiri saja, tetapi juga tidak merugikan orang lain. Misalnya, ketika beliau masih memerintah kerajaan, suatu hari datang seseorang yang juga termasuk familinya. Saat itu beliau bertanya, ”ada urusan apa engkau datang ke sini? Apakah untuk urusan pribadi atau untuk urusan kemaslahatan umat?. Ketika itu pula familinya menjawab, ”urusan pribadi”. Selanjutnya, beliau mematikan lampu yang menggunakan minyak yang dibeli dengan uang rakyat dan seketika itu pula beliau mengambil minyak yang dibeli dengan uangnya sendiri untuk  diisi ke dalam lampu tersebut. Setelah itu, beliau mempersilakan familinya. Ini merupakan teladan dan pelajaran politik yang berkarakter, tetapi berbeda dengan kondisi pejabat hari ini. Milik rakyat seakan-akan milik pribadinya. Buktinya, fasilitas mobil dinas BL merah dapat dilihat di mana-mana di luar kedinasan, seakan-akan fasilitas tersebut milik pribadinya.

  1. Toleransi

Sikap toleransi (al-samahah) juga menjadi prinsip Islam dalam hubungan individu dan kelompok dalam kehidupan umat manusia. Kehadiran syariat yang membawa sikap toleransi, ternyata membentuk umat lebih dewasa dan lebih matang. Bersikap toleransi pada hal-hal yang dibolehkan toleransi, baik sesama muslim maupun dengan non-muslim merupakan sendi dan jiwa syariat itu sendiri. Rasulullah saw bersabda:

Artinya: Sabda Rasulullah saw, Aku meninggalkan kamu sekalian atas agama yang suci dan toleransi.

Sifat tasamuh atau toleransi, tidak berlaku pada hal-hal akidah dan pada ushuliyah, tetapi toleransi berlaku pada hal-hal Fiqhiyah Furu`iyah. Masalah furu`iyah termasuk di dalamnya masalah politik. Bertoleransi dalam politik dapat bermakna dengan mundur selangkah untuk mencapai tujuan yang lebih besar, atau minimal saling mengalah untuk mencapai kemaslahatan rakyat. Sikap seperti ini pernah dicontohkan Rasulullah Saw, ketika beliau melakukan perjanjian politik dengan suatu kabilah Arab. Saat drafting perjanjian dilakukan, Rasulullah memulai dengan ucapan “Bismillahirrahmanirahim”. Pihak kabilah Arab tidak menginginkan kalimat Bismillahirrahmanirahim, tetapi mereka meminta untuk ditulis dengan ucapan ”Bismi Muhammad”. Akhirnya, Muhammad Saw mundur selangkah dan memerintahkan Ali bin Thalib untuk menulis “Bismi Muhammad”.  Hal ini dilakukan untuk satu tujuan, yaitu mencapai kemaslahatan yang lebih besar. Sikap masyarakat yang islami secara spesifik digambarkan dalam Alquran, sebagai berikut:

Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.. (Q.S. Al-Fath: 29).

Sikap paling utama sesama muslim yang terkandung dalam ayat di atas adalah sangat toleran sesama muslim. Bukan sebaliknya, sesama muslim saling mencaci dan mengutuk, karena saling mencaci dan menutuk sesama muslim akan memunculkan kutukan yang lebih besar. Berikut peringatan Rasulullah Saw:

Artinya: Rasulullah bersabda; jika seseorang mengatakan celaka kepada orang lain, maka dia lebih celaka daripada orang yang dituduh celaka. Dalam riwayat Sofyan al-Tsuri; Maka dia termasuk di antara orang yang paling celaka (H.R. Muslim).

  1. Kebebasan

Kebebasan (al-hurriyah) merupakan sendi masyarakat islami. Islam datang dengan membawa kebebasan yang merupakan konsep keteladanannya atau bagian dari karakter syariat. Namun, kebebasan yang dipahami dalam Islam, bukanlah kebebasan mutlak, melainkan kebebasan yang mengikat dengan norma dan nilai. Sebagaimana ungkapan bijak Arab:

Artinya: Kebebasan kita terbatas dengan kebebasan orang lain

Ungkapan tersebut mengandung arti bahwa setiap orang memiliki kebebasan, tetapi kebebasan yang tidak mengganggu dan atau terganggu kebebasan orang lain.

Membangun masyarakat islami saat ini merupakan hal penting yang harus dipikirkan dan dilaksanakan oleh segenap umat Islam dengan posisi dan kedudukannya masing-masing. Masyarakat islami ialah masyarakat yang dalam mu`amalah hariannya mampu menjaga nilai ukhwah sesama muslim, baik di sekitarnya maupun dengan muslim di luar daerahnya. Selain itu, sendi-sendi masyarakat islami adalah memiliki sikap sama rasa, tidak merasa lebih mulia dan bermartabat berbanding dengan muslim lainnya, lebih-lebih di depan hukum. Tidak ada beda antara si kaya, mulia, miskin, papa, lemah kuat, di depan hukum semuanya sama. Selanjutnya, masyarakat islami juga memiliki sikap toleran, terutama dengan sesama muslim, apapun bahasanya, warnanya, perbedaan cara berpikirnya, mereka semua mempunyai harga diri yang perlu dihargai. Bukan sebaliknya, kita lebih toleran dengan non-muslim, sementara sesama muslim saling kutuk-mengutuk, laknat melaknat, bahkan kafir mengkafirkan dan lain sebagainya. Hal lainnya dari sendiri masyarakat islami adalah memiliki kebebasan yang islami yang mengikat dengan nilai dan norma, bukan kebebasan mutlak yang bisa mengganggu kebebasan orang lain. Semoga kita menyadari, memahami dan mengupayakan secara bersama-sama untuk membangun masyarakat islami, baik dalam hubungan individu, kelompok, maupun bernegara dalam bingkai nilai-nilai Alquran dan hadist. Wallahu `Alam bi Tsawab

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!