SIASAH SYAR`IYYAH: SOLUSI POLITIK MASA DEPAN

GEMA JUMAT, 26 OKTOBER 2018

Oleh: Dr. Tgk. H. Ajidar Matsyah, Lc., MA (Dosen Siasah Syar`iyyah, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Ar-Raniry)

Ada dua hal yang menjadi prioritas Islam untuk umatnya, pertama masalah ekonomi dan kedua masalah politik. Kedua hal ini dianologikan bagaikan kaki kanan dan kaki kiri. Ekonomi bagaikan kaki kanan dan politik bagaikan kaki kiri, kedua-duanya saling mengikat, tidak bisa dipisahkan, dan atau sebaliknya, politik bagaikan kaki kanan, ekonomi bagaikan kaki kiri. Jika salah satu kakinya pincang apalagi lumpuh maka lumpuhlah umat ini. Secara historis, prioritas Islam terhadap ekonomi tergambar ketika Nabi dan sahabatnya tiba di Madinah al-Munawwarah, hal pertama yang dipertanyakan oleh Nabi saw  atau oleh sahabatnya adalah Aina al-Suuq (di mana pasar). Makna dibalik pertanyaan “di mana pasar” adalah pertanyaan di mana pusat ekonomi. Karena pasar merupakan space /ruang pergerakan dan perputaran ekonomi.

Adapun prioritas Islam dalam konteks politik tergambar pada kepemimpinan Rasulullah saw sendiri sebagai presiden negara Madinah al-Fadhilah, begitu pula dengan para sahabatnya yang rata-rata menjadi khalifah setelahnya. Dari gambaran di atas menunjukkan bahwa antara ekonomi dan politik, dan antara politik dan ekonomi tidak ada yang didahulukan dan ditinggalkan, kedua-duanya berjalan berbarengan. Prioritas ini tidak hanya berlaku di era Rasulullah dan sahabatnya saja, tetapi prioritas ini berlaku sampai hari ini, bahkan berlaku sampai kapanpun dan di manapun. Politic and economic system dalam Islam tidak akan hilang legalitasnya sampai kapanpun. Islamic political science atau siasah syar`iyyah tidak akan tergantikan sampai kapanpun, dan tidak dapat digantikan dengan sistem politik apapun.

Namun demikian, dalam perjalanannya sistem politik di negara-negara yang mayoritas Muslem digantikan atau tergantikan dengan sistem politik demokrasi. Sudah maklum adanya bahwa sistem politik demokrasi berasaskan kepentingan dan dengan tujuan untuk mencapai kepentingan. Sementara dalam sistem ekonomi digantikan dengan sistem ekonomi kapitalis, bergeser dari sistem ekonomi keumatan ke sistem ekonomi konvesional yang berbasis ribawi. Ternyata sistem pemerintahan berbasis politik demokrasi, dan sistem ekonomi kapitalis belum mampu menjawab kehendak alam sejagat apalagi untuk menjungjung tinggi sang Penciptanya. Yang dimkasud dengan kehendak alam sejagat ialah membawa kesejaheteraan sejagat. Hal ini belum dijumpai di negera yang menganut sistem demokrasi absolut, atau demokrasi terpimpin.

Dominasi kekuasaan oleh sebagian negara demokrasi yang kuat terhadap negara demokrasi yang lemah menunjukkan dasar sistem demokrasi adalah ambisi dan kepentingan, bahkan mengandung unsur diskriminasi. Pihak penguasa di sebuah negara demokrasi dapat melakukan intimidasi ke pihak lain dengan alasan demi tegaknya demokrasi. Intervensi sebuah kekuasaan negara terhadap kedaulatan negara lain juga atas alasan untuk mengembalikan demokrasi. Bahkan negara-negara yang memproduksi sistem demokrasi memaksa negara lain untuk menerima sistem produknya. Sehingga setiap negara yang baru harus menerima bulat-bulat sistem demokrasi sebagai sistem pemerintahan negaranya.

Dalam konteks sistem pemerintahan dan lembaga negara juga harus diatur dengan sistem demokrasi. Sistem pemilihan kepala pemerintahan-ekskutif-harus menganut sistem demokrasi, pemilihan wakil rakyat-legislatif- harus mengikuti sistem demokrasi, bahkan penentuan porsi di pengadilan –yudikatif-harus mengikuti sistem demokrasi.  Sementara demokrasi dibentuk untuk mencapai tunjuan tertentu. Oleh itu, ekskutif, legislatif dan yudikatif dalam operasionalnya akan meletakkan tujuan tertentu. Tentu saja tujuan tertentu adalah menjaga kepentingan para penguasa yang sedang berkuasa. Dengan demikian, cita-cita keadilan untuk rakyat, atau good government hanya menjadi slogan semata. Faktanya sudah beberapa dekade negara-negara yang menganut sistem demokrasi dalam pemerintahannya sangat sedikit yang stabil.

Dalam konteks keberagamaan dan keyakinan juga diatur dengan sistem demokrasi, sehingga setiap penganut agama dengan segenap keyakinannya harus mengikuti rentak sistem demokrasi, yang kadang-kadang tidak sesuai dengan fitrah keyakinannya sendiri. Ketidaksesuaian sistem pemerintahan demokrasi dengan konsep keyakinannya akan melahirkan efek negatif bagi penganut agama bahkan tidak tertutup kemungkinan akan berefek pada sistem negara. Dalam hal ini, penganut agama tidak lagi mengamalkan agamanya menurut kepercayaan masing-masing. Tetapi bergeser ke menjaga kepentingan kelompok dan golongan penguasa.

Dalam kontek sosial budaya, diatur menurut konsep pengaturan budaya secara demokrasi yakni budaya yang hidup dalam masyarakat yang beragam tidak lagi bisa tumbuh dan berkembang, karena secara demokrasi semua budaya masyarakat diformat dalam satu budaya yang disebut dengan budaya nasional, artinya semua budaya lebur ke dalam budaya nasional. Padahal setiap kreasi masyarakat yang kemudian menjadi budaya adalah sunnatul kauniyat (sunnah alam) yang perlu dijaga dan dirawat.

Akumulasi dari permasalahan yang paradoks dalam sistem demokrasi hari ini, baik di Barat maupun di Timur menunjukkan bahwa sistem demokrasi yang dibangga-banggakan hari ini tidak mampu memberikan layanan publik dengan bijak, adil dan menyeluruh. Maka masa depan sistem perpolitikan tidak bisa bertahan dengan sistem demokrasi, terutama di negara-negara yang mayoritas penduduknya Muslim seperti Indonesia, Malaysia, Brunei dan lain-lain. Dengan demikian, sistem politik yang dapat memberikan keadilan dan kemaslahatan bagi warga negara adalah kembali ke siasah syari`yyah karena konsep siasah syari`yyah menawarkan penyelesaian masalah bangsa secara menyeluruh dan menyelesaikan.

Islam: Sistem Paripurna

Islam adalah sebuah sistem yang paripurna, yang bukan hanya mengatur kehidupan yang sedang dijalani oleh seseorang saat ini, tetapi juga mengatur hubungan kehidupan sebelumnya dan kehidupan sesudahnya. Islam juga memecahkan masalah manusia sebagai manusia, dan interaksi manusia dengan sang penciptanya, interaksi manusia dengan dirinya sendiri, dan manusia sesama manusia dalam berbagai ruang dan waktu. Islam mengatur hubungan manusia dengan Penciptanya yang disertai dengan kewajiban beribadah hanya kepadaNya dan pengakuan bahwa hanya Allah SWT yang Maha membuat seluruh aturan, serta tidak menyekutukanNya. Di samping itu, wajib menjadikan utusanNya Muhammad Saw sebagai satu-satunya yang diikuti dan dipedomani ajaran-ajarannya, dengan tidak mengikuti ajaran-ajaran manusia lainnya.

Islam telah membawa corak pemikiran yang khas, dengan metode berpikir yang sistematis yang mampu melahirkan sebuah peradaban agung yang berbeda dengan seluruh peradaban umat lainnya. Ia telah mampu melahirkan sejumlah konsepsi kehidupan yang membuat penganutnya menyatu dengan corak peradabannya. Pemikiran-pemikiran yang dibawa Islam mampu membentuk pandangan hidup yang khas yaitu pandangan halal dan haram, serta mampu membangun sebuah masyarakat yang perasaan dan pemikirannya berbeda dengan seluruh masyarakat lainnya.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!