Sumber-Sumber Pendanaan Dalam Islam

Islam merupakan agama yang sangat sempurna, karena mengatur seluruh aspek kehidupan manusia baik yang berhubungan dengan Allah maupun yang berhubungan dengan manusia (hablumminallah dan hablumminannas). Salah satu aspek yang berhubungan dengan manusia adalah mengatur sumber pendanaan yang dapat diperoleh untuk membiayai kegiatan ummat islam. Kondisi itu menunjukkan bahwa betapa islam mengajarkan kepada ummatnya agar bisa hidup sejahtera seperti doa yang selalu dibaca: ya Allah berikan kehidupan hasanah di dunia dan juga hasanah di akhirat.             (Rabbana aatina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanah wakina ‘azabannar)

Secara umum ada beberapa sumber pendanaan yang dapat diperoleh untuk membiayai dan meningkatkan kesejahteran ummat islam antara lain: zakat, shadaqah, infak dan wakaf.

Zakat: Allah Ta’ala telah menjadikan zakat sebagai salah satu dari lima rukun islam. Begitu pentingnya, sehingga hampir diseluruh ayat Al-Quran yang menyebutkan kewajiban mendirikan shalat selalu diikuti dengan kewajiban membayar zakat. (terdapat 32 ayat Al-Quran yang menyebutkan perintah shalat, sebanyak 27 ayat selalu disandingkan dengan perintah membayar zakat). Di antaranya: “Dirikanlah shalat dan bayarlah zakat” (Qs:al-Baqarah(2):43.  Allah SWT memberikan ancaman keras atas orang-orang yang tidak menunaikan kewajiban berzakat melaui firman-Nya:” ….Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak, lalu tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritakanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih” (Qs at-Taubah(9):34). Maksud perkataan “menafkahkannya”pada ayat ini adalah mengeluarkan kewajiban zakat.

Al-Ahnaf bin Qais berkata: ketika kami berkumpul dengan orangQuraisy, tiba-tiba berlalu Abu Dzarr Ra dan berkata kepadaku: Kabarkanlah kepada mereka bahwa mereka akan dipanggang dengan besi panas yang ditusukkan dari punggung sampai menembus keluar dari lambung, dan ditusukkan pada kuduk hingga menembus dahi, apabila mereka banyak memiliki harta kekayaan tapi tidak mau mengeluarkan zakatnya”. Abu Dzarr Ra berkata: Aku datang kepada Rasulullah Saw, yang pada saat itu beliau sedang duduk di bawah naungan Ka’bah. Tatkala melihatku, beliau bersabda” Demi Allah yang mempunyai Ka’bah ini, mereka sangat merugi”. Lalu aku bertanya, Siapakah mereka itu? Rasulullah Saw menjawab, mereka yang menumpuk-numpuk harta, akan tetapi tidak menafkahkannya di jalan Allah, dan mereka yang menafkahkan di jalan Allah tetapi amat sedikit kepada orang yang membutuhkannya, baik yang ada di hadapannya, di belakangnya, di sebelah kana dan kirinya. Dan barang siapa yang mempunyai untu, sapi dan kambing, tetapai tidak membayar zakatnya, maka niscaya pada hari pembalasan nanti, hewan-hewan itu akan menanduk dan menyiksanya. Itulah beberapa dalil yang menunjukkan kepada kita bahwa zakat tidak boleh disepelekan oleh mereka yang telah sampai nisabnya.

Sumber pendanaan yang berasal dari zakat ini, sesungguhnya sangatlah dominan, namun belum terlaksana dengan baik. Sebagai contoh untuk provinsi Aceh, hasil penelitian menunjukkan bahwa potensi zakat mencapai Rp 2,3 triliun setiap tahunnya, namun berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Baitul Mal menunjukkan realisasi zakat baru mencapai 15 % dari jumlah potensi yang ada. Kondisi ini menunjukkan bahwa betapa masih kurangnya pengumpulan zakat secara melembaga di Aceh. Seandainya jumlah angka potensi zakat dapat terealisasi, maka berapa rumah dhuafa bisa dibangun, berapa banyak orang yang membutuhkan dana bisa terbantu, berapa rumah sekolah dapat terbangun dan insya allah Aceh tidak lagi menjadi termiskin di pulau sumatra.

Shadaqah: Di dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan kaum Muslimin untuk senantiasa memberikan sedekah. Di antara ayat yang dimaksud adalah firman Allah SWT yang artinya: ”Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami akan memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS An Nisaa [4]: 114).

Banyak sekali definisishadaqah ini. Sebagain ulama berpendapat bahwa makna shadaqah itu semua bentuk pemberian yang dilakukan oleh seorang mukmin baik dalam bentuk mateil maupun non materil untuk mendapat pahala dan ridha Allah Swt. Pemberian itu bisa berupa barang, jasa atau berkaitan dengan suatu aktivitas manusia dengan manusia lainnya. Hal ini berdasarkan kepada hadist Rasulullah Saw yang menyatakan bahwa senyum secara tulus dan ihklas sesama dihitung bagian dari shadaqah. Dalam kontek ini, pembahasan kita lebih fokus pada shadaqah yang bersifat materil.  Salah satu ciri orang yang muttaqin adalah mereka yang manfkahkan hartanya baik dalam keadaan lapang maupun pada saat dalam keadaan sempit. Bershadaqah tidak mengenal kondisi, kapan saja dan dimana saja dilakukan secara rutin dan kontinyu. Kullu ma’rufin shadaqah yang artinya setiap kebaikan adalah shadaqah.(riwayat imam Bukhari). Dalam hadist yang lain dari Ainsya Ra bahwa Rasullah Saw bersabda Bahwasanya diciptakan dari setiap anak cucu Adam tiga ratus enam puluh persendian. Maka barang siapa yang bertakbir, bertahmid, bertasbih, beristiqfar, menyingkirkan duri di jalan, amar ma’ruf nahi mungkar, maka akan di hitung sejumlah tiga ratus enam puluh persendian. Dan Allah bebaskan dia dari api neraka (HR. Muslim).

Menurut sebagian pendapat para ulama, shadaqah dalam arti shadaqah at-tatawwu’ berbeda dengan zakat. Shadaqah lebih utama jika diberikan secara diam-diam dibandingkan diberikan secara terang-terangan dalam arti diberitahukan atau diberitakan kepada umum. Hal ini sejalan dengan hadits Nabi SAW dari sahabat Abu Hurairah. Dalam hadits itu dijelaskan salah satu kelompok hamba Allah SWT yang mendapat naungan-Nya di hari kiamat kelak adalah seseorang yang memberi sedekah dengan tangan kanannya lalu ia sembunyikan seakan-akan tangan kirinya tidak tahu apa yang telah diberikan oleh tangan kanannya tersebut. Shadaqah lebih utama diberikan kepada kaum kerabat atau sanak saudara terdekat sebelum diberikan kepada orang lain. Kemudian sedekah itu seyogyanya diberikan kepada orang yang betul-betul sedang mendambakan uluran tangan. Mengenai kriteria barang yang lebih utama disedekahkan, para fuqaha berpendapat, barang yang akan disedekahkan sebaiknya barang yang berkualitas baik dan disukai oleh pemiiknya. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang artinya; ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS Ali Imran [3]: 92). Pahala shasaqahakan lenyap bila si pemberi selalu menyebut-nyebut sedekah yang telah ia berikan atau menyakiti perasaan si penerima. Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya yang berarti: ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti perasaan si penerima.” (QS Al Baqarah [2]: 264).

Infaq: Istilah infaq merupakan induk dari kata zakat dan shadaqah. Asal kata infaq dari bahasa arab yang bermakna mengeluarkan atau membelanjakan harta. Intinya, berinfaq itu adalah membayar dengan harta, mengeluarkan harta dan membelanjakan harta. Tujuannya bisa untuk kebaikan, donasi, atau sesuatu yang bersifat untuk diri sendiri, atau bahkan keinginan dan kebutuhan yang bersifat konsumtif, semuanya dikatagorikan dalam istilah infaq.

Jika dirinci lagi, istilah infaq itu bisa diterapkan pada banyak hal seperti Membelanjakan Harta. Infaq dalam beberapa ayat quran, misalnya : Dan belanjakanlah sebagian dari apa (rezki) yang telah kami anugerahkan kepadamu… (QS. Al-Munafiqun : 10). Dalam terjemahan versi Departemen Agama RI tertulis kata anfaqta  dengan arti adalah: “membelanjakan”, dan bukan menginfaqkan. Sebab memang asal kata infaq adalah mengeluarkan harta, mendanai, membelanjakan, secara umum meliputi apa saja. Memberi Nafkah. Kata infaq ini juga berlaku ketika seorang suami membiayai belanja keluarga atau rumah tangganya. Dan istilah baku dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan nafkah. Kata nafkah tidak lain adalah bentukan dari kata infaq. Dan hal ini juga disebutkan di dalam Al-Quran : Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS. An-Nisa’ : 34) Jadi waktu seorang suami memberikan gaji kepada istrinya, pada hakikatnya dia juga sedang berinfaq. Mengeluarkan Zakat. Dan kata infaq di dalam Al-Quran kadang juga dipakai untuk mengeluarkan harta zakat atas hasil kerja dan panen hasil bumi. Hai orang-orang yang beriman, keluarkanlah zakat sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. (QS. Al-Baqarah : 267) Jadi kesimpulannya, istilah infaq itu sangat luas cakupannya, bukan hanya dalam masalah zakat atau shadaqah, tetapi termasuk juga membelanjakan harta, memberi nafkah untuk keluarga serta membantu dana bagi yang membutuhkan terutama utuk orang fakir dan miskin.

Wakaf: Secara etimologis Wakaf berasal dari kata waqafa-yaqifu-waqfan yang mempunyai arti menghentikan atau menahan. Menurut Imam Nawawi Wakaf adalah menahan harta yang dapat diambil manfaatnya tetapi bukan

untuk dirinya sementara benda itu tetap ada padanya dan digunakan manfaatnya untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah. Menurut Kompilasi Hukum Islam, Wakaf merupakan perbuatan hukum seseorang atau kelompok orang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari benda miliknya dan melembagakannya untuk selama-lamanya guna kepentingan ibadah atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran islam. Dalam Undang-undang No. 41 Tahun 2004 mengenai Wakaf, Pengertian Wakaf adalah perbuatan hukum wakif (pihak yang mewakafkan harta benda miliknya) untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syariah. Wakaf belum begitu terdengar seperti terdengarnya zakat, shadaqah dan infak dalam masyarakat indonesia termasuk di Aceh. Padahal wakaf merupakan salah satu sumber pendanaan yang digunakan untuk peningkatan kemakmuran masyarakat. 

Wakaf merupakan amalan yang berbeda dibandingkan dengan zakat, shadaqah dan infak. Karena pelaksanaan wakaf sangat berbeda dengan ketiga amalan. Karena pelaksanaan wakaf memiliki prosedur dan syarat syarat tertentu yang harus dipenuhi. Oleh karena itu perlu adanya pencerahan secara terus menurus melalui seminar, workshop, dan kajian rutin tentang wakaf ini. Sehingga dengan demikian pengelolaan wakaf dapat menjadi sumber pendanaan ummat dimasa-masa yang akan datang.

Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa sumber pendanaan untuk kemaslahatan ummat berasal dari zakat, shadaqah, infak dan wakaf. Jika sumber-sumber ini dapat dioptimalkan maka persoalan ummat seperti kemiskinan, ketidakberdayaan dalam keuangan dapat teratasi dengan baik. Semoga kita yang diberikan amanah harta dapat menyalurkan kepada yang berhak…Amin.

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!