TANDA-TANDA KEIKHLASAN BERIBADAH

GEMA JUMAT, 6 JULI 2018

Khatib: Tgk H. Syukri Daud Pango (Ketua Majelis Rateb Seribee Aceh)

Allah berfirman : “Barang siapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan jangan ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya,”. (QS:Al Kahfi: 10).

Sabda Nabi : “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali jika di kerjakan dengan ikhlas semata-mata untuknya dan untuk mencari ridhanya,”. (HR Abu Daud dan Nasa’i).

Hakikat  Ikhlas dan Kedudukannya

Ikhlas dalam beramal adalah menghendaki pendekatan diri kepada Allah azza wa jalla, mengangungkan perintahNya dan menyahuti panggilanNya. Lawan  dari ikhlas adalah kemunafikan, yaitu menghendaki pendekatan diri kepada sesuatu selain Allah.

Pentingnya keikhlasan tergambarkan dalam kalam hikmah Syech Ibnu ‘Athaillah As Kandari yang berkata  bahwa amal itu seumpama jasad, sedangkan keikhlasan adalah ruhnya. Artinya amal itu ibarat jasad yang tak bernyawa, sedangkan keikhlasan laksana ruh yang menjadikan jasad itu hidup.

Tingkatan Keikhlasan

Keikhlasan itu berbeda-beda tingkatannya. Para ‘abid (ahli ibadah) amal mereka bersih dari sifat riya’ yang nyata maupun yang tersembunyi, bersih pula dari niat yang didasari hawa nafsu. Mereka beramal karena Allah, mengharapkan pahala, ingin selamat dari siksa. Namun demikian, mereka menisbahkan amal itu pada diri mereka dan menjadikannya sebagai tempat bergantung untuk meraih apa yang mereka inginkan.

Sedangkan muhibbin (pencinta Allah) amal mereka untuk Allah karena mengagungkan dan membesarkan Allah yang memang layak untuk diangungkan. Bukan untuk memperoleh pahala dan lari dari azab. Adapun keikhlasan orang-orang arif berbentuk kesaksian dan padangan mereka, bahwa Allah semata yang menggerakkan mereka dan mendiamkan mereka. Mereka merasa tidak memiliki daya dan upaya dalam hal itu. Oleh karena itu, mereka tidak beramal kecuali dengan bantuan Allah, bukan dengan daya dan kekuatan mereka. Keikhlasan orang arif ini adalah tingkatan yang paling tinggi.

Noda-Noda yang Mengotori Keikhlasan

Noda atau penyakit yang dapat merusakan keikhlasan tidak lain melainkan hijab-hijab yang dapat merintangi perjalanan seseorang kepada Allah. Diantara hijab-hijab tersebut adalah perhatian dan kekaguman seorang salik terhadap amalnya yang menyebabkan dia lupa dan terhalangi dari Allah. Dan hijab ini akan hilang dengan pengetahuan seseorang akan rahmat dan karunia Allah terhadapnya. Termasuk hijab adalah harapan si salik untuk mendapatkan kompensasi dari amalnya, baik di dunia maupun di akhirat.

Solusinya, si salik harus menyadari bahwa dirinya hanya seorang hamba yang harus melaksanakan perintah tuhannya. Hijab lain adalah merasa puas terhadap dirinya dan terpedaya dengannya. Disini si salik benar-benar harus mengamati ibadah-ibadahnya yang kemungkinan besar syaithan dan hawa nafsu mengambil bagian di dalamnya. Si salik juga harus mengetahui hak-hak tuhannya yang dengan itu ia akan mengetahui dirinya sebagai hamba yang penuh dengan kelalaian.

Kebutuhan kepada Mursyid (Pembimbing Rohani)

Dalam kitab Tanwir al-Qulub Syech Amin al-Kurdi berkata : “Para ulama sufi sepakat bahwa seseorang harus memiliki seorang mursyid untuk menghilangkan penyakit-penyakit bathinnya. Dan menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji. Jika tidak maka menghilangkan sifat tercela dan meghiasi diri dengan sifat terpuji tidak akan tercapai walau ia ahli ibadah sekalipun”. Karena itu di dalam kitab Iqazhul Himam Arif Billah Syech Ahmad Al Hasani menegaskan bahwa tidak mungkin sama sekali keluar dari nafsu dan menghilangkan riya’ tanpa ada mursyid yang membimbingnya.

Tanda-tanda Keikhlasan

Dzun nun Al Misri berkata : “Ada tiga alamat yang menunjukan keikhlasan seseorang, yaitu ketiadaan perbedaan antara pujian dan celaan, lupa memandang amal perbuatannya sendiri, dan lupa menuntut pahala atas amal perbuatannya di kampung akhirat.

 

 

 

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!