GEMA JUMAT, 09 FEBRUARI 2018

Oleh: Dr. Munawar  A. Djalil, MA (Khatib Kepala Dinas Syariat Islam Aceh)

Kita awali tausiah dengan sebuah pepatah: “Di dalam kehati-hatian ada keselamatan di dalam ketergesa-gesaan ada penyesalan”.

 

Tergesa-gesa itu mendorong seseorang untuk bersikap tidak bijaksana. Orang yang terburu buru memperlihatkan kecintaan dan kebenciannya kepada sesuatu akan menyesali sikapnya itu dikemudian hari. Ia akan menyesal setelah datang cercaan, cemoohan dan tidak ada maaf lagi. Itulah kenapa  Islam mengajarkan agar didalam bersikap hendaknya hati hati dan dengan penuh pertimbangan.

Akan tetapi ada lima perkara yang disunatkan dilakukan dengan tergesa-gesa, kelima perkara tersebut harus buru-buru dilakukan: 1. Mengubur mayat, 2. Mengawinkan anak perempuan, 3. Membayar hutang, 4. Menjamu musafir yang datang bertamu dan 5. Bertaubat  bila mengerjakan dosa dan kesalahan.

Salah satu tanda-tanda kepemurahan Allah ialah walaupun seorang hamba sudah melakukan perbuatan dosa tapi  tidak seketika itu juga Allah swt menjatuhkan siksa atau balasan. Semua pembalasan ditangguhkan sampai dalam kehidupan akhirat nanti. Selama di dunia diberikannya kesempatan untuk memohon ampun dan kembali kepada kesucian yang dalam istilah A-Qur’an disebut dengan “Taubat Nasuha” yaitu taubat yang sungguh-sungguh serius dan ikhlas.

Taubat berasal dari kata, taba – yatubu – taubatan, artinya menurut bahasa ialah kembali  dan menurut istilah Syar’i ialah kembali kepada kesucian setelah melakukan dosa. Para ulama mendefinisikan taubat itu: “mendekatkan diri kepada Allah dengan taat dan kembali kepadanya dengan memperbaharui niat untuk melakukan amal kebaikan”.

 

Imam Al-ghazali menyatakan bahwa hakikat taubat itu ialah meninggalkan dosa dengan niat tidak akan kembali lagi melakukan dosa pada waktu yang lain. Lebih jauh Imam Al-Ghzali menguraikan bahwa taubat itu mengandung tiga unsur : Ilmu, keadaan, dan Perbuatan. Taubat itu harus dilakukan berdasarkan kesadaran dan ilmu artinya, disadari sepenuh hati bahwa perbuatan yang sudah dilakukan itu adalah satu perbuatan dosa. Sesudah hal itu diketahui hendaklah timbul satu situasi jeritan hati nurani yang membuat diri sendiri menyesal melakukan perbuatan dosa itu. Dari kedua unsur tersebut lahirlah niat yang kuat dan sungguh-sungguh bahawa tidak akan melakukan dosa itu kembali pada hari-hari yang akan datang. Adapun jiwa yang penting dari sikap taubat itu ialah menyesal atas perbuatan dosa yang dilakukan. Rasulullah mengatakan:“Taubat itu adalah menyesal”.

Para Ulama memperinci bahwa syarat taubat itu ada tiga perkara yaitu : (1).Mencabut akar-akar maksiat yang sudah dilakukan, (2). menyesali perbuatan itu dengan sungguh-sungguh dan (3). berniat tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Syarat-syarat ini mengenai kejahatan yang berhubungan antara manusia dengan Allah. Adapun jika bersangkut paut dengan manusia, ditambah lagi satu syarat yang keempat, yaitu harus ada satu tindak penyelesaian dengan orang yang bersangkutan, Kalau dosa itu karena mencuri harta orang lain, haruslah dikembalikan harta yang yang diambil itu kepada orang yang memilikinya. Kalau dosa itu timbul akibat fitnah, dengki, iri dll maka harus meminta maaf kepada yang bersangkutan.

Dalam Al-Qur’an ditemukan 87 kali kata-kata yang berasal dari kata kerja “Ta wa ba”, Al-Qur’an kerapkali mempergunakan kata-kata “bertaubatlah kamu”. Artinya Allah membuka seluas-luasnya kepada hamba untuk memasuki pintu taubat, sebagaimana yang telah disebutkan  sebagai tanda kepemurahan Allah. Adalah satu kebodohan kalau kesempatan yang terbuka itu tidak dipergunakan oleh manusia itu sendiri, Rasul bersabda:“Walaupun kamu melakukan kesalahan sampai memenuhi langit, kemudian kamu menyesal perbuatan itu, maka Allah akan menerima taubat itu”.

Setiap dosa yang kita lakukan Allah masih memberikan kesempatan bertaubat kepada kita asal dilakukan dengan segera dan dengan penuh penyesalan. Jangan sampai kita punya mentalitas kebanyakan orang yang melakukan perbuatan maksiat di waktu muda, mereka berpikir kalau sudah tua nanti baru banyak  berikir dan beribadah, Mental  dan cara pikir yang demikian adalah sangat keliru. Siapakah yang dapat memastikan bahwa orang baru akan meninggal di usia lanjut ? bukankah banyak juga yang meninggal ketika masih usia muda?

Orang-orang yang melakukan taubat nasuha yaitu didasarkan kepada kesadaran dan kesungguhan pada umumnya akan membentuk wataknya menjadi seorang yang suka mengerjakan amal kebaikan. Susunan ayat yang berkenaan dengan taubat, kerapkali dirangkaikan dengan kata-kata amal baik. Diantaranya: Surat Thaha 82: Artinya: “Dan sesungguhnya Aku maha pengampun bagi orang yang bertaubat, beramal salih kemudian dia tetap pada jalan yang benar”.

Banyak riwayat yang kita temui tentang orang-orang yang bertaubat diantaranya: “Abu Hurairah bercerita bahwa pada suatu malam dia pergi berjalan keluar bersama Rasullullah. Nabi berjalan beberapa langkah lebih dahulu dari Abi Hurairah. Di tengah jalan Abu hurairah bertemu dengan seorang wanita yang berkata kepadanya : “Saya telah melakukan perbuatan dosa” Apakah dosa yang engkau lakukan ? Tanya Abu Hurairah. “Saya telah berzina dan telah melahirkan anak kemudian anak itu saya bunuh.” Jawab wanita itu. Celakanlah engkau, celaka… Kata Abu Hurairah.

Wanita itu menangis, ia telah menyesal atas perbuatan dosa yang dilakukannya itu dan ingin untuk kembali menjadi orang yang baik. Namun dari jawaban Abu Hurairah harapannya itu menjadi sirna. Setelah wanita itu pergi, maka Abu Hurairah ragu-ragu terhadap jawabannya. Ia bermaksud akan menanyakan kepada Rasullullah, disusulnya Rasul dan diceritakan peristiwa yang baru terjadi dan sekaligus dengan jawabannya.

Rasullullah membaca di hadapan Abu Hurairah beberapa ayat akhir surat Al-Furqan yang mengandung jawaban atas persoalan itu. Ayat tersebut pada pokoknya menggambarkan tentang sifat hamba yang salih, diantaranya ialah orang-orang yang tidak melakukan zina, pada ujung ayat 79 ditegaskan: “Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan beramal salih, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebaikan”.

Begitu mendengar penjelasan itu, Abu Hurairah langsung pergi untuk menjumpai wanita tersebut dan menceritakan jawabannya, lalu wanita itu menangis terisak-isak karena gembira. Sebagai tanda bersyukur kepada Allah, kemudian Wanita mengatakan: “saya mempunyai sebidang kebun kurma, kebun itu akan saya sedeqahkan karena Allah dan Rasulnya untuk orang-orang miskin yang membutuhkannya”.

Lebih jauh lagi Rasullullah menjelaskan mengenai ciri-ciri orang yang bertaubat ini dengan sebuah dialog antara Rasul dengan para sahabat : Rasul bertanya : “Tahukah kalian siapa yang bertaubat itu ? Para sahabat menjawab:

“Allah dan Rasulnyalah yang lebih mengetahui”.  Atas jawaban itu Rasul mengatakan:“barang siapa yang bertaubat sedang mereka tidak mempelajari ilmu bukanlah ia orang yang bertaubat”.

Maknanya bertaubat bukan hanya dari dosa, melainkan bertaubat dari kebodohan, orang yang benar-benar bertaubat akan kelihatan dari aktivitasnya didalam mencari ilmu, menghadiri majlis ta’lim, kalau tidak taubatnya belum sempurna. Rasul mengatakan lagi: “Barang siapa bertaubat namun dia tidak memabah ibadahnya, maka dia belum bertaubat”.

Jika orang yang bertaubat, grafik ibadah nya meningkat. Sehingga meskipun mulutnya ngaku taubat, tapi kalau ibadahnya Cuma sekedar amalan ritual saja maka taubatnya belum sempurna. Kalau semula shalat hanya yang wajib saja, waktu taubat harus ditambah dengan shalat sunnat dam amal ibadah lain itulah yang dimaksud dengan peningkatan grafik ibadah.

Rasul mengatakan lagi: “Barangsiapa bertaubat namun dia tidak ridha kepada musuhnya bukanlah ia orang yang bertaubat”.

Meridhai atau memaafkan itu lebih sulit dari meminta maaf, Namun memberi maaf jauh lebih mulia dari meminta maaf, sebab seseorang yang memberi maaf memiliki jiwa yang luhur, posisi memberi maaf hakikatnya posisi menang yang tidak memungkinkan baginya untuk sombong dan congkak, sehingga kalau dia bisa memaafkan itu merupakan nilai tersendiri dari kondisi jiwanya.

Rasullullah kemudian mengatakan lagi: “Apabila seorang hamba telah memiliki tanda-tanda ini maka dia telah melakukan taubat yang sebenarnya”

Dunia adalah agenda persoalan hidup, manusia berusaha dan berjalan menapaki persoalan. Makin hari usia manusia makin bertambah, makin banyak persoalan yang harus diatasi, makin jauh kaki melangkah makin banyak problem yang dihadapi. Makin tinggi status sosial, makin tinggi tingkat kesulitan yang mesti dihadapi dan mesti diselesaikan. Selama masih hidup manusia kan selalu berjumpa dengan masalah dan kesukaran. Tapi bagi orang yang membiasakan diri membaca istihgfar Allah akan memberikan jalan keluar bagi berbagai kesulitan yang dihadapinya. Rasul bersabda : “Barang siapa yang memperbanyak istighfar maka Allah akan membebaskannya dari kedukaan dan memberikan jalan keluar dari kesempitan dan memberi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka (Riwayat Abu Daud).

Sepanjang nafas belum tiba di tenggorokan, selagi matahari masih terbit di timur, Allah akan menerima taubat hambanya. Rasullullah bersabda: “ Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hambanya sebelum nyawa sampai ke tenggorokan”. Membaca istihgfar merupakan sikap taubat dalam bentuk ucapan, Nabi sendiri yang sudah mendapat ampunan Allah, beliau bersabda: “Hai manusia bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat seratus kali dalam sehari”.

Oleh karena itu, khatib mengajak diri khatib sendiri dan jamaah sekalian untuk memanfaat waktu demi waktu dari sisa usia kita untuk bertaubat dengan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT, karena waktu sangat singkat untuk dipermainkan dan sesungguhnya sisa waktu itu adalah nikmat sejati yang mesti disyukuri.

Kita tutup tausiah ini dengan sebuah kalimat: “Semua makhluk di dunia ini, perhiasan sementara sebelum mati, yang ghaib belum tentu kemari, jika datang entah baik entah keji, yang berlalu tetap saja pergi, yang dicita-cita belum tentu kemari, sepanjang masa yang diperolehi, itulah saja nikmat sejati”. Allahu alam.

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!