THE POWER OF RAMADHAN

GEMA JUMAT, 17 MEI 2019

Oleh : Kolonel Caj Dr Ahmad Husein, MA

            Assalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

            Puja dan puji hanyalah milik Allah dan kita hamba-Nya sepantasnya mengagungkan serta bersyukur atas segala nikmat dan rahmat yang diberikan-Nya kepada kita, setidaknya saat kita tiba di rumah-Nya yang mulia ini kita masih sadar bahwa kita masih bernafas sebagai salah satu nikmat Allah SWT yang sangat tinggi nilainya. Allah tidak menuntut agar semua yang diberikan-Nya kepada hamba-Nya harus ditebus atau dibayar, kecuali hanya diharap untuk secara sadar  bersyukur, maka Allah akan menambahi nikmat tersebut. Allah sungguh Maha Kaya, sehingga bila ada yang tidak mau bersyukur, bukan berarti tidak diberi nikmat, hanya mereka diancam dengan azab yang pedih. Shalawat serta salam sepantasnya pula kita sanjung sajikan ke pangkuan junjungan alam Nabi Muhammad SAW, Nabi dan Rasul yang diberi keistimewaan untuk bisa memberikan syafaat kepada umatnya yang tulus, ikhlas dan rajin bershalawat kelak di yaumil akhir. Semoga bacaan shalawat kita akan mencatatkan nama kita sebagai seorang umatnya yang akan mendapatkan syafaat Rasulullah SAW.  

            Selanjutnya, khatib mengajak seluruh jama’ah, untuk bersama-sama pula berupaya meningkatkan kualitas iman dan taqwa kepada Allah SWT, terutama di bulan suci Ramadhan yang mulia ini,  karena dengan cara itu kita dapat memenuhi perintah Allah dalam ayat: “Wa Tazawwadu, fa inna khaira al-Zadi al-Taqwa, wa Attaquni ya Uli al-Bab” (Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal). (Q.S.Al-Baqarah:197) Semoga bekal yang kita siapkan selama Ramadhan ini mampu mengantarkan kita menjadi hamba pilihan yang mendapat predikat Taqwa di sisi Allah SWT.

            Hadirin Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

            Memasuki Jum’at kedua di bulan Ramadhan 1440 H ini, khatib mengusung tema khutbah “The Power of Ramadhan”. (Dahsyatnya Kekuatan Ramadhan). Tema ini perlu diangkat untuk menjadi renungan bersama, dalam mengisi ibadah-ibadah Ramadhan menuju tujuan suci mewujudkan derajat Taqwa dalam diri para shaimin dan shaimat yang melaksanakan perintah Allah berpuasa di bulan Ramadhan. Kekuatan yang akan dibicarakan disini bukanlah seperti kekuatan Samurai dengan ketajamannya, bukan pula kekuatan Herkules dengan tangan besinya atau kekuatan lain yang bersifat fisik. Namun yang dimaksud di sini adalah kekuatan dahsyat yang sudah Allah titipkan di balik kewajiban melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan.

            Referensi bahasannya tidak keluar dari firman Allah SWT dalam surat al-Baqarah 183:

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (Q.S.al-Baqarah:183)

            Dari ayat ini dapat kita pahami berbagai hal menyangkut dengan ibadah puasa di bulan Ramadhan, diantaranya:

  1. Kekuatan pondasi berpuasa

Berdasarkan pemahaman bahwa orang yang diperintahkan untuk melaksanakan puasa adalah orang-orang yang siap secara fisik dan psikis (lahir bathin). Maka kesiapan fisik adalah kemampuan untuk memenuhi syarat rukun puasa sehingga terpenuhi kewajiban menjalankan puasa sebagai seorang Muslim, karena puasa di bulan Ramadhan adalah salah satu Rukun Islam bukan Rukun Iman. Namun ayat di atas menyeru orang beriman untuk berpuasa, ini maknanya adalah dibutuhkan kekuatan batiniah yang kuat untuk mampu melaksanakan ibadah puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadhan, sehingga tidak hanya mengalami lapar dan haus, namun mampu menjadikan puasa sebagai power (kekuatan) untuk meraih berbagai keutamaan Ramadhan yang telah disediakan Allah untuk dinikmati. Untuk itu kita butuh kekuatan power.

Menjalankan ibadah puasa dengan kekuatan fisik tanpa dorongan iman akan menjadikan puasa Ramadhan hanya sebatas rutinitas dan identitas semata. Nabi pernah mengingatkan hal ini dalam haditsnya: “Banyak orang yang berpuasa, tidak memperoleh apa-apa dari puasanya, kecuali hanya lapar dan dahaga saja”. Berpuasa dengan dorongan iman jauh lebih sempurna dibandingkan dengan menjalan puasa hanya untuk sekedar memenuhi kewajiban menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa dari fajar hingga terbenam matahari. Maka kekuatan iman menjadi pondasi yang prinsip dalam ibadah puasa, agar puasa bisa mencapai sasaran utamanya yakni predikat Taqwa

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah.

  • Kekuatan hukum, legitimasi formal dari ibadah puasa

Di dalam al-Qur’an selain bentuk amar yang merupakan perintah yang wajib dilaksanakan seperti perintah shalat dalam bentuk fi’il amar (perintah langsung), maka ada tiga suku kata yang digunakan untuk menyatakan perintah dan kewajiban melaksanakannya yaitu kata “Faradha”, “Wajaba” dan “Kutiba”. Dasar kata faradha dan wajaba pada umumnya digunakan untuk menjelaskan hal-hal antara lain tentang Haji, Perkawinan dan perkara yang berkaitan dengan hubungan kemanusiaan dan juga perlakuan manusia terhadap hewan (khususnya unta). Sedangkan dasar kata Kutiba, Katabna, Maktuban, banyak yang berkaitan dengan perang (qital), hukum qishash, perlakuan terhadap wanita dan anak yatim.

Menurut hemat khatib, penggunaan kata Kutiba dalam perintah puasa di bulan Ramadhan, mengandung makna bahwa perintah berpuasa adalah perintah yang berkualifikasi tinggi, meski ada sebagian kecil yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa, itupun alasan yang berkaitan erat dengan nyawa manusia, orang uzur karena usia, musafir, sakit, wiladah, haid, nifas dan rodho’ah, semua alasan ini juga berkaitan dengan nyawa manusia. Dengan demikian, perintah puasa adalah klasifikasi perintah yang tidak bisa ditawar-tawar. Terlebih lagi bahwa puasa dijelaskan sebagai ibadah hamba untuk Allah. Dalam hadits qudusi dijelaskan: Allah berfirman; sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku pula yang akan memberi ganjarannya.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah.

  • Kekuatan Sunnatullah

Melihat pada sejarah diwajibkannya berpuasa, maka dari ayat di atas (al-Baqarah:183) dapat dipahami bahwa berpuasa sudah menjadi Sunnatullah bukan hanya kepada umat Nabi Muhammad SAW, melainkan juga telah diwajibkan kepada umat terdahulu. Kita mengenal puasa umat Nabi Daud, ada juga berpuasa dengan jumlah hari yang berbeda-beda, serta ada berpuasa dengan cara tidak berbicara dan sebagainya.

Mengapa puasa menjadi tradisi religi bagi manusia, tentu karena puasa memiliki kekuatan yang dapat membantu manusia memperbaiki diri, baik dari aspek fisik, seperti kesehatan, kebugaran dan keserasian antar fungsi fisik, maupun dari aspek sosial kemanusiaan seperti terbangunnya rasa sosial antar manusia, mampu merasakan penderiataan orang lain serta tertanamnya rasa kepedulian. Demikian juga dari aspek psikis bathiniahnya, puasa mempunyai kekuatan untuk mereformasi keimanan seseorang. Sebut saja pengalaman beberapa orang saat Tsunami melanda Aceh, ada beberapa anggota NGO asing yang akhirnya mengenal Islam dari keunikan berpusanya kaum Muslimin di sekitarnya serta mencoba pengalaman puasa dan merasakan nikmatnya ibadah Ramadhan, akhirnya mengucap dua kalimah syahadah dan memeluk Islam. Betapa dhasyatnya power Ramadhan yang merupakan Sunnatullah bagi umat manusia.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah.

  • Kekuatan nilai

Rasulullah SAW, jauh-jauh hari sebelum Ramadhan tiba, sudah menyiapkan diri untuk menyambutnya. Terlihat dari doa yang dipanjatkan “Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab ini, berkahi pula kami di bulan Sya’ban dan sampaikan kami ke bulan Ramadhan”. Perilaku Nabi ini tentu bukan tanpa dasar. Beliau ingin membesarkan syi’ar agama Allah “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (Q.S.al-Hajj:32).

Syiar-syiar besar terdapat di bulan Ramadhan. Allah SWT menyediakan fasilitas termahal bagi mereka yang mau menghidupkan syi’ar Ramadhan. Rasulullah SAW menjelaskan dalam haditsnya: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan ihtisab akan diampuni dosa-dosanya yang lalu”. Sungguh menggiurkan tawaran Allah berupa keampunan dosa, fasilitas al-Qur’an dengan segudang keutamaannya dibulan Ramadhan, fasilitas malam Lailatul Qadar yang tidak ditemukan selain di bulan Ramadhan, shalat Taraweh yang bersifat sepesial, kebahagiaan saat berbuka hingga doa yang tidak akan ditolak Allah, semua terdapat di bulan Ramadhan.

Pertanyannya, tahukah kita akan hal ini, saya rasa semua kita sudah tahu dan paham betul akan hal ini. Apakah kita mau memanfaatkan fasilitas yang disediakan Allah ini ? semua terpulang kepada kita selaku Shaimin dan Shaimat. Dengan menghitung (ihtisab) keutamaan Ramadhan, kiranya power Ramadhan perlu lebih kita gelorakan pada diri dan keluarga serta lingkungan kita, agar dahsyatnya Ramadhan ini dapat dinikmati, karena belum tentu kita masih bertemu dengan Ramadhan tahun depan.

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah.

  • Kekuatan final dengan happy ending Puncak kekuatan (power) Ramadhan adalah diperolehnya derajat taqwa di hadapan Allah, bukan dihadapan manusia. Seperti disebutkan diawal khutbah bahwa Allah-lah yang mempunyai kewenangan tunggal dalam menilai puasa yang dilakukan oleh hamba-Nya. Tinggal lagi kepada kita semua, apakah kita mampu meniti jalan menuju taqwa yang sesungguhnya ataukah kita laksana perahu yang kandas di tengah jalan. Terpulang kepada kita.

Masih ada waktu untuk mendiskusikan serta chek and re-chek akan puasa yang dilaksanakan, apakah syarat rukun, niat, dan larangan-larangan masih dilanggar ataukah terjaga dengan baik. Kita tentu berharap bahwa puasa kita bukanlah seperti puasanya ayam ketika mengeram telornya, ia berdisiplin tinggi, menjaga diri dari makan dan minum hingga ia menetas. Lalu ia tampil dengan kebanggaan akan anak dan keturunanya tanpa mampu meningkatkan kualitas hidupnya. Atau bukan pula seperti puasanya Ular, yang mampu menjaga diri dan bersemedi selama ia berpuasa. Hasilnya ia berganti kulit menjadi lebih bagus dan mengkilap, namun ia tetaplah predator sejati tanpa ia mampu merubah karakter dan prilakunya.

Harapan kita semua, berpuasa di bulan Ramadhan akan menempa diri kita menjadi orang yang kuat imannya serta penuh keyakinanya hingga akhir hayatnya menjadi husnul khotimah. Mampu memperbaiki karakter dirinya sebagai seorang Muslim sejati dan tampil menjadi tauladan di lingkungannya. Akhlak dan perilaku kesehariannya, menunjukkan bahwa ia telah mampu merajut power Ramadhan dalam dirinya, hingga Allah SWT menilainya sebagai orang yang bertaqwa

Hadirin jama’ah Jum’at rahimakumullah.      

Alhamdulillah, semoga khutbah yang singkat ini, mampu menggugah alam pikir dan pemahaman  kita untuk mengoptimalkan kesuksesan Ramadhan kita tahun ini. Mari kita isi semua peluang Ramadhan ini dengan sungguh-sungguh, semoga dahsyatnya kekuatan Ramadhan mampu mengantarkan kita menuju taqwa dan ridha Allah SWT. Demikianlah khutbah kita pada kesempatan hari ini, semoga Allah swt senantiasa meridhai segala upaya kita dalam mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin ya Mujibassailin. Barakallahu…

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!