Tindakan Rasul Terhadap Penyebar Berita Bohong

GEMA JUMAT, 25 JANUARI 2019

Oleh. Dr. Tarmizi M. Jakfar, M. Ag.

 Islam adalah agama yang senantiasa mengajak pemeluknya untuk meraih kehidupan yang aman dan bahagia, saling tolong menolong  dan sayang menyayangi, serta menjauhi sifat iri dan dengki yang dapat mengganggu ketentraman bersama. Apabila  kehadiran seorang muslim di tengah-tengah masyarakat menyebabkan terganggunya muslim yang lain bahkan non muslim sekalipun maka ia bukanlah seorang muslim sejati yang dirindukan oleh Nabi saw, sesuai keterangan sebuah hadis beliau bahwa seorang muslim adalah orang yang kehadirannya tidak menggangu muslim lainnya baik melalui lidah maupun tangannya (H.R. Muslim). Inilah muslim sejati yang selalu harus didambakan oleh setiap orang yang mengaku dirinya beragama Islam.

 Ketenteraman dan kerukunan hidup seperti digambarkan di atas terkadang menjadi terusik dan terganggu akibat perilaku sebagian orang yang suka menyebarkan berita-berita bohong di tengah-tengah kehidupan mereka, yang pada zaman sekarang lebih populer disebut dengan hoax. Perilaku yang tidak terpuji ini dalam kenyataannya bukan sekadar menggangu ketenteraman dan kerukunan masyarakat tetapi juga dapat menimbulkan kericuhan dan permusuhan bahkan pembunuhan di antara sesama mereka. Misalnya sebuah kisah klasik yang dituturkan imam Al-Baihaqi bahwa khalifah Al-Rasyid mendengar kabar tentang imam Syafi’iy yang hendak mengusir seorang ‘Alawi (pengikut imam Ali) dari Yaman, padahal kabar itu tidak benar. Al-Rasyid marah lalu beliau mengirim pasukan untuk menangkap imam Syafi’iy dan tujuh belas orang lain  bersamanya. Pada saat itu Muhammad bin Hasan memberikan pertolongan, namun tidak berhasil. Al-Baihaqi menyebutkan Al-Rasyid kemudian membunuh sembilan orang di antara mereka, sementara imam Syafi’iy dibawa menghadap kepadanya. Begitu berhadapan dengan al-Rasyid imam Syafi’iy membaca ayat 6 Surat Al-Hujurat: “Hai orang-orang yang beriman jika seseorang yang fasik datang kepadamu dengan membawa sebuah berita, maka telitilah kebenarannya agar kalian tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan) kalian yang akhirnya kalian menyesal atas perbuatan tersebut.” Al-Rasyid kemudian berkata, apakah berita itu tidak benar? Lalu Syafi’iy menjelaskan ketidakbenaran berita itu sehingga membuat Al-Rasyid terdiam. (Mushthafa Al-Farran, Tafsir Imam Syafi’iy, Juz III, hlm. 1270). Dalam hal ini sikap Al-Rasyid yang percaya begitu saja dan mengambil tindakan penangkapan dan pembunuhan terhadap sebagian yang ditangkap itu sangat dilarang oleh Islam dan lebih dilarang lagi orang yang membuat dan menyebarkan berita tersebut.

Berita bohong atau dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah al-Isya’ah seperti dalam kisah di atas ternyata tidak  berhenti pada zaman dan masa tertentu, ia akan selalu  ada dan terus akan ada selama para pembohong masih eksis di permukaan bumi ini. Apalagi zaman sekarang pengiriman sebuah berita hanya dalam hitungan menit dan detik bisa sampai dan tersebar kemana-mana melalui bermacam media komunikasi, internet, hanphone dan lain sebagainya, baik itu berita benar maupun berita bohong. Hampir tidak ada hari yang kita lalui sekarang ini tanpa bersentuhan dengan berita-berita bohong atau sekurang-kurangnya berita-berita yang tidak jelas kebenarannya. Silakan anda buka hanphone terutama yang memiliki fasilitas WA (WhatsApp) segera anda temukan bermacam postingan berita yang masuk, pada bagian akhir dari berita itu sering tertulis, misalnya “silakan di-share kepada yang lainnya.” Bahkan terkadang ada ancaman tertentu apabila berita tersebut tidak disebarkan kepada pihak-pihak lain. Tanpa ba bi bu dan klarifikasi jari jemari pun langsung bermain memencet tombol-tombol alamat yang dituju  untuk menyebarluaskan perintah tersebut. Jarang yang terlebih dahulu mencari tau kebenaran berita itu. Ketahuilah saudaraku sekalian, hanya dengan cara seperti ini saja kita sudah dianggap sebagai pendusta sebagaimana akan dijelaskan dalam uraian berikut.

Sikap Islam dalam menerima suatu berita Islam mensyariatkan kepada siapa saja yang menerima suatu berita agar selalu bersikap hati-hati dan tabayun sebelum mempercayai dan menindaklanjuti isi berita tersebut, seperti diperintahkan dalam Surat Al-Hujurat ayat 6 sebagaimana yang dibacakan imam Al-Syafi’iy di depan Al-Rasyid dalam kisah di atas. Ayat ini menurut Ibn Abbas diturunkan berkaitan dengan kasus Al Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith yang menjadi utusan Rasul saw untuk memungut zakat dari Bani Musthaliq. Ketika Bani Musthaliq mendengar kedatangan utusan Rasul ini mereka menyambutnya secara beramai-ramai dengan suka cita. Mengetahui hal itu Al-Walid menduga bahwa mereka akan menyerangnya karena pada zaman jahiliyah mereka saling bermusuhan. Lalu belum lagi sampai ke tempat tujuan akhirnya Al-Walid kembali dan melapor kepada Nabi bahwa Bani Musthaliq tidak bersedia membayar zakat, malah akan menyerangnya. Rasul marah mendengar berita ini dan bersiap-siap  mengirim pasukan untuk memerangi Bani Musthaliq. Tiba-tiba datanglah utusan mereka dan menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya, bahwa apa yang disampaikan oleh Al-Walid adalah fitnah belaka. Lalu turunlah ayat 6 Surat Al-Hujurat di atas (Al-Thabari: Tafsir al-Thabari Juz 21, hlm. 350).

 Imam Syafi’iy dalam kitab Al-Umm mengatakan melalui ayat ini Allah memerintahkan kepada seseorang yang akan memutuskan suatu hal kepada orang lain agar terlebih dahulu melakukan klarifikasi terhadap apa yang diputuskan itu.( Imam Al-Syafi’iy: Al-Umm, Juz  VII, hlm. 99).      Ayat ini diturunkan memang terkait dengan kasus Al-Walid, tetapi berdasarkan kaidah “Al-‘Ibrah bi ‘Umum al-Lafzhi la bi khushus al-sabab (makna ayat ditentukan oleh keumumman ungkapan bukan berdasarkan kekhususan sebab), maka ayat ini berlaku untuk umum. Berdasarkan ayat ini pula ulama hadis mewajibkan kehati-hatian dalam menerima hadis Nabi agar terhindar dari riwayat-riwayat palsu dan bohong. Dalam sebuah riwayat Nabi saw malah mengklaim seseoarang telah cukup dosanya hanya karena menyampaikan setiap apa yang dia dengar (H. R. Muslim) Imam Nawawi menjelaskan mengapa demikian, karena pada kebiasaannya tidak semua berita yang beredar di kalangan manusia itu benar, tetapi ada berita yang benar dan ada juga yang salah. Oleh karena itu, ketika ia menyampaikan setiap apa yang dia dengar berarti ia telah menyampaikan juga berita-berita yang bohong, karena sebagiannya ada yang bohong. (Imam Al-Nawawi: Shahih Muslim bi Syarh Al-Nawawi, Juz I, hlm. 75) Demikian juga seperti dikatakan sebelumnya hanya dengan memencet-mencet tombol HP untuk menyebarkan setiap berita yang kita terima secara analogi termasuk sebagai pendusta, karena diantara berita yang kita terima itu ada yang benar dan ada juga yang salah.  

Sanksi terhadap penyebar berita bohong

Pelaku dan penyebar berita bohong diberikan hukuman sesuai pengaruh yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut, ada yang masuk dalam katagori hudud dan ada pula yang masuk dalam katagori ta’zir. Berita bohong yang berhubungan dengan pribadi atau keluarga yang berakibat tercelanya kehormatan, keturunan, penghinaan dan fahisyah, maka pelakunya dikenakan jarimah hudud dengan cara dijilid sampai delapan puluh kali. Ini terbukti dalam keterangan Aisyah riwayat Al-Bukhari dalam hadis yang sangat panjang dimana Aisyah mengatakan  “sehingga turunnya Al-Qur`an dan Nabi menjilid para penyebar fitnah tanpa mempertimbangkan keberatan sebagian sahabat” tetapi beliau menghukum sebagaimana diperintahkan Allah dalam ayat tersebut. Artinya, Nabi memberikan hukuman kepada penyebar berita bohong dengan menjilid delapan puluh kali jilid sesuai yang terdapat dalam Al-Qur`an “fajliduhum tsamanina jaldatan” (Al-Nur: Ayat 4). Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan nama-nama penyebar berita bohong yang dijilid oleh Nabi adalah Misthah bin Utsatsah, Hisan bin Tsabit dan Hamnah binti Jahsyin.(H.R. Abu Dawud)

Sedangkan berita bohong yang berhubungan dengan masyarakat, pemerintahan, keamanan dan persatuan maka ini termasuk dalam jarimah ta’zir, dimana hukuman terhadap pelakunya juga sesuai pengaruh yang ditimbulkan oleh perbuatan tersebut, dalam hal-hal tertentu bisa jadi hukuman mati, terutama apabila hukuman-hukuman lain tidak dapat mencegahnya untuk tidak menyebarkan kebohongan lagi kecuali dengan membunuh pelakunya. Ini didukung oleh sebuah hadis dimana Nabi bersabda yang artinya: “Apabila seseorang datang kepadamu untuk mengacaukan dan memporak-porandakan kamu padahal kamu berada di bawah seorang pemimpin (yang sah), maka bunuhlah ia (H. R. Al-Bukhari). Imam Nawawi mengatakan bahwa hadis ini mengandung perintah untuk membunuh orang-orang yang keluar dari jamaah kaum muslimin atau bermaksud memecah belahkan kaum muslimin dan lain sebagainya. Jika kejahatan yang dilakukan itu tidak dihentikan (dalam hal ini penyebaran berita bohong) maka ia diperangi, jika kejahatannya tidak teratasi maka ia dibunuh.  (Al-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarh Al-Nawawi, Juz XII, hlm. 241). Sebagaimana dilakukan Nabi saw kepada Ka’ab bin Asyraf yang telah membatalkan janji sepihak dengan Nabi. Menurut Al-Maziri Nabi menghukum bunuh Ka’ab karena ia telah membatalkan janjinya dengan Nabi dimana ia berjanji tidak akan meminta bantuan kepada pihak lain untuk menyerang Nabi, tetapi kemudian ia datang bersama pasukan perang untuk menyerang beliau. (Al-Maziri, Al-Mu’lim bi Fawaid Muslim, Juz III, hlm. 41). Sementara penyebaran berita bohong yang berkaitan dengan peperangan dan menakut-nakuti kaum muslimin dan penghinaan kepada mereka, maka hukumannya juga ta’zir.

Singkatnya, orang-orang yang membuat dan menyebarkan berita bohong diancam sekurang-kurangnya dengan dua jenis hukuman oleh Rasulullah saw. Pertama, hukuman ukhrawi dengan memberi gelar pendusta yang akan dibalas di akhirat seperti dalam hadis riwayat Muslim di atas. Kedua, hukuman duniawi, seperti yang diterapkan kepada para penyebar berita bohong tentang Aisyah, Di antaranya Misthah bin Utsatsah, Hisan bin Tsabit dan Hamnah binti Jahsyin. Semua mereka diberikan hukuman qadzaf  dengan dijilid delapan puluh kali. Wallahu A’lam bi Al –Shawab.

Khatib Dosen UIN Ar Raniry Banda Aceh

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!