Toleransi dalam Semangat Egalitarian

GEMA JUMAT, 12 OKTOBER 2018

Dr. Mizaj Iskandar, Lc., LL.M (Khatib Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry dan Wakil Ketua Ikatan Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh)

Lebih kurang 1440 yang lalu, di padang Arafah, ketika Rasulullah mengerjakan haji wada’ pada tahun 10 H. Beliau menyampaikan salah satu khutbah yang sangat dikenang bukan saja dalam sepanjang sejarah Islam, namun juga dalam sejarah panjang umat manusia. Dalam khutbah panjang tersebut Rasulullah menyampaikan beberapa point penting kepada kita berkaitan dengan kehidupan beragama dan berbangsa yang dilandasi prinsip toleransi dalam semangat egalitarian. Diantara point-point tersebut adalah:

Pertama, Rasulullah menyampaikan kepada sahabatnya tentang kewajiban ibadah haji. Dalam hal ini Rasulullah bersabda, “wahai manusia, telah diwajibkan kepada kalian ibadah haji, maka berhajilah”. Pada saat itu, seorang sahabat yang bernama Aqra’ bin Habis bangun dari duduknya dan bertanya kepada Rasulullah. Apakah kewajiban tersebut wajib pada setiap tahun ya Rasulullah. Pertanyaan tersebut membuat Rasulullah terdiam dan menundukkan kepalanya sejenak seolah-olah menunggu ilham dari Allah. Kemudian Rasulullah mengangkat kepalanya dan berkata, “Seandainya aku katakanya ya, maka haji menjadi kewajiban setiap tahun dan kalian tidak akan sanggup mengerjakannya”.

Pernyataan Rasulullah di atas menunjukkan kemampuan bertolerasi yang diajarkan oleh Rasulullah kepada umatnya bukan sebatas dalam kehidupan berbangsa. Namun juga dalam kehidupan beragama. Dalam contoh populer, Rasulullah pernah memerintahkan para sahabatnya yang bergerak menuju ke Khaibar untuk tidak mengerjakan shalat Ashar kecuali jika telah sampai ketempat tersebut. Rombongan sahabat kemudian berselisih paham apakah mereka tetap mentaati perintah Nabi tersebut walaupun waktu Ashar hampir berakhir atau mengerjakan shalat Ashar dipertegahan jalan walaupun belum sampai ke Khaibar. Hal ini kemudian ditanyakan kepada Nabi, Nabi pun membenarkan sikap yang diambil masing-masing sahabatnya itu.

Kedua, Rasulullah juga menyampaikan bahwa “Seluruh manusia memiliki derajat yang sama di sisi Allah sebagaimana ratanya gigi sisir, tidak ada perbedaan antara Arab dan non-Arab, orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa”. Dalam pesan ini Rasulullah menghembuskan nafas toleransi kepada umatnya melalui semangat egalitarian. Sabda tersebut bukan hanya retorika Nabi dalam berkhutbah. Tetapi Ia wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Semenjak kedatangannya, Rasulullah mensederadajatkan laki-laki dengan perempuan, kulit putih dengan kulit hitam, kaum kaya dan orang miskin.

Jamak kita dengar bahwa anak perempuan yang baru lahir dikubur hidup-hidup, perempuan tidak diberikan hak waris. Dengan kedatangannya Rasulullah menunjukkan sikap sebaliknya. Ia sangat simpatik kepada perempuan. Bahkan dalam sebuah sabda Ia menempatkan surga di bawah kaki perempuan (ibu). Tidak cukup sebatas itu, Rasulullah juga berkata, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik dengan keluarganya, dan Aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik dengan keluarga (perempuan)”. Begitu juga dengan orang berkulit hitam, mustahil bagi mereka menduduki posisi penting dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Namun Rasulullah tidak segan-segan menunjuk Bilal bin Rabbah sebagai juru azannya. Bahkan dalam sebuah hadis ia berpesan, “Perbanyaklah oleh kalian mendengar dan taat kepada pimpinan, walaupun kalian dipimpin oleh seorang budak hitam Etiopia”. Lebih kauh lagi, semangat egalitarian juga diwujudkan oleh Rasulullah dalam penegakkan hukum (law enforcement). Diriwayatkan dalam sebuah hadis bahwa suatu hari seorang perempuan bangsawan Arab dari suku Makhzumiyah kedapatan mencuri harta rakyat biasa. Ketika Rasulullah ingin menegakkan hukuman potong tangan kepada perempuan tersebut, Usamah bin Zaid salah seorang kerabat perempuan tersebut memohon kepada Nabi agar mengurungkan niatnya untuk mengeksekusi hukuman potong tangan. Mendengar permintaan tersebut Nabi marah dan berkata, “Sesungguhnya sebab kebinasaan umat terdahulu jika yang mencurinya bangsawan dibiarkan, dan jika yang mencurinya rakyat jelata dihukum habis-habisan. Demi jiwaku yang dalam gengaman Allah, jika Fatimah putriku yang mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tanganya.

Keiga, Rasulullah juga mengirim pesan kepada umatnya, “Sesungguhnya jiwa kalian, harta kalian dan kehormatan kalian haram sesama kalian sebagaimana haramnya hari ini, bulan ini (bulan zulhijjah), dan tanah ini (Mekkah)”. Kemudian Rasulullah menengadahkan kepalanya ke atas langit sambil berkata, “Wahai Allah telah aku sampaikan apa yang Engkau perintahkan, maka saksikanlah”. Pernyataan ini menjadi sangat bermakna di masa kita sekarang. Di mana banyak muslim mengabaikan jiwa, harta dan kehormatan muslim lainnya hanya karena perbedaan pandangan politik, perbedaan cara memahami dan mengamalkan ajaran agama atau bahkan karena perbedaan status sosial. Padahal kalau kita menyadari dengan baik potongan khutbah Nabi di atas, bagi siapapun yang tidak menghormati sesama muslim apapun sebab yang melatarbelakanginya. Maka Rasulullah mengkatagorikan mereka sebagai peleceh kehormatan hari Arafah, kehormatan bulan Zulhijjah dan bahkan melecehkan kesucian dan kehormatan tanah haram Mekkah al-Mukarramah.

Keempat, diakhir khutbah Rasullulah juga menyampaikan, “Semoga kalian yang hadir mendengarkan khutbahku hari ini menyampaikan ke genarasi berikutnya dan semoga generasi berikutnya lebih sadar terhadap isi khutbah ini dari pada kalian yang hadir mendengarkan langung khutbah ini”. Pernyataan Nabi dalam penutup khutbah Arafah tersebut menjadi harapan bagi kita semua agar kita termasuk kepada orang-orang yang lebih sadar terhadap pentingnya kebersamaan, tolerasi, egalitarian dalam kehidupan beragama dan berbangsa.

Semoga tulisan singkat ini ada manfaatnya, kepada Allah penulis berserah diri, kepada-Nya dipersembahkan bakti dan kepada-Nya pula penulis memohon ampunan, tawfiq, hidayah dan perlindungan. Wallahu a‘lam bi al-haqiqah wa al-shawab.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!