Toleransi Sesama Muslim

GEMA JUMAT, 9 NOVEMBER 2018

Oleh. Dr. Tgk H. M. Jamil Ibrahim, MH, MM (Ketua Mahkamah Syar’iah Aceh)

Prinsip ajaran Islam sebenarnya sangat indah dan ini diyakini oleh orang Islam, bahkan juga dikagumi oleh orang-orang non muslim yang menyatakan bahwa ajaran Islam mampu menjawab tuntutan dan tantangan zaman, karena tidak ada sesuatu yang dianggap penting dalam kehidupan ini dilupakan oleh ajaran Islam. Yang menjadi pertanyaan kita sekarang kenapa ummat islam tidak menyikapi kondisi yang berkembang, masih berbeda pandangan dalam hal-hal yang penting yang seharusnya seragam, masih berselisih dalam hal-hal yang seharusnya damai bahkan kadang-kadang terjadi sesama kaum muslimin bermusuhan, sementara kita adalah bersaudara. Kita patut mengambil pelajaran dari pengalaman – pengalaman yang terjadi dalam sejarah perkembangan islam, bahwa permusuhan adalah awal dari kehancuran dan kerugian. akibat dari timbulnya perselisihan dan pertentangan yang tidak pada tempatnya. Rasulullah SAW bersabda:

Artinya :

Yang paling cepat menimbulkan pahala atau manfaat adalah bersilaturahmi dan yang paling cepat mendapat kerugian adalah bermusuhan.

Mencermati kondisi ini, sudah sepatutnya kita menggali kembali petunjuk Allah dan Rasulnya tentang makna ukhuwah islamiyah yang diibaratkan sebagai sebuah bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain. Rasulullah SAW telah memberi arahan tentang adanya kerukunan antara sesama bahkan kerukunan dan kedamaian itu adalah amal yang melebihi tingkat Puasa, Shalat dan Sadaqah.

Prinsip Islam sangat menekankan adanya kebersamaan, karena dengan kebersamaan itu akan melahirkan saling pengertian, saling menghargai serta mampu berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam dan komitmen terhadap hal sudah disepakati. Biasanya kebersamaan akan hilang ketika masing-masing atau kelompok mengutamakan kepentingan sendiri dan mengabaikan kepentingan bersama.

Umar bin Abdul Aziz khalifah pada periode tabi’in yang terkenal sebagai pemimpin yang bijak dan adil dalam menjalankan tugas kenegaraannya terlebih dahulu membangun kebersamaan melalui mesyawarah. yang dilakukan oleh pembesar negeri dan para ulama. Dan khusus dalam bidang hukum Islam kadang-kadang terjadi perbedaan pendapat para pakar dan ahlinya dan beliau sangat menghargai perbedaan – perbedaan itu selama dijalankan dengan benar dan ikhlas, dan beliau mengatakan “saya akan memilih pendapat sesuai dengan kebutuhan yang dikehendaki oleh umat”. Maka para ulama menerima dengan baik meskipun ada yang tidak sesuai dengan pendapatnya.

Salah satu kebijakan Umar bin Abdul Aziz dalam penanganan bidang pemerintahan adalah sangat hati-hati dan teliti dalam bidang keuangan , karena menurut beliau sumber keretakan dan komplik adalah bermula dari penyimpangan uang  negara dan beliau tidak segan-segan memberi sanksi kepada mereka yang mencurangi kepentingan rakyat sehingga masyarakat menjadi lebih aman dan pemerintahnya dipercaya dan disegani. Dalam masa dua tahun jabatannya, negeri yang dipimpinnya menjadi makmur dan rakyat merasa sangat rukun dan bahagia.

Dari sejarah singkat ini dipahami bahwa kebersamaan dan toleransi dalam perbedaan adalah langkah yang sangat menunjang keberhasilan yang dicita-citakan.

Al-Qur’anul karim telah menyinggung masalah toleransi ini dalam surat Al Balad dan ayat 17

Yang artinya “ kemudian kebiasaan orang-orang yang beriman senantiasa saling berpesan untuk kesabaran dan saling berpesan untuk berkasih saying atau toleransi.

Sikap toleransi telah diperlihatkan oleh Rasulullah SAW pada masa hidupnya yang selalu mendapat tantangan bahkan terjadi peperangan, namun beliau tidak pernah merasa dendam terhadap musuh-musuhnya. kita kenal dengan Sayyidina Hamzah tubuhnya dibelah, hatinya diambil oleh Hindun, dan Khalid bin Walid yang pernah berperang bersama Rasulullah SAW dan sebahagian gigi Rasulullah ada yang rontok, dan setelah mereka bersyahadat mereka bersatu sebagai saudara yang saling melindungi, dan mereka melupakan masa-masa silam yang sangat menyedihkan, dan mereka sepakat membangun peradaban baru yang damai dan harmonis dalam pergaulan serta maju dalam bidang kesejahteraan umat.

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, masyarakat Aceh yang telah mendapat kehormatan dari Negara untuk menjalankan syari’at Islam, maka peluang ini harus dimanfaatkan dengan baik dan benar sehingga akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi rakyat Aceh dan disisi lain Pemerintah Republik Indonesia akan mengambil contoh dengan nilai-nilai syari’at yang dikembangkan di Aceh, diantaranya Masyarakatnya yang damai dan sejahtera serta menjaga nilai-nilai kebersamaan sebagai bangsa yang besar dan luas Indonesia Raya.

Toleransi dalam hidup bermasyarakat disamping bermakna ibadah juga akan memperoleh tempat yang sangat tinggi dan mulia pada hari Kiamat, karena mereka akan bersama para Nabi dan para Syuhada, mereka tidak merasa ketakutan dan gelisah disaat manusia lainnya merasakan ketakutan yang luar biasa. Pada hari pembalasan (hadist riwayat abu daud)

Adapun yang menjadi kunci sebagai landasan filosofi dari toleransi adalah kita harus menetapkan sebuah paradigma bahwa kita sebagai hamba Allah dan sesama muslim bersaudara. Dan dalam menyikapi kondisi-kondisi ditengah-tengah masyarakat harus memperhatikan petunjuk Rasulullah SAW bahwa senang dan benci, suka dan tidak suka harus dilandasi karena Allah semata.

Hadist Rasullah SAW:

Artinya :

Barang siapa mencintai sesuatu karena Allah, marah dan benci karena Allah, memberi dan menolak sesuatu karena Allah, maka sungguh telah sempurnalah imannya. (H.R. Bukhori).

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!