Calon Mufassir Muda Aceh

GEMA JUMAT, 17 MEI 2019

Mauliza Juliantika,  (Hafizh 30 Juz )

Menjadi mufassir atau ahli tafsir Al Qur’an bukanlah cita-cita dari Liza. Karena sedari kecil keinginan mulia, ia ingin menjadi dosen. Namun sejak Februari 2019 lalu, pemudi bernama lengkap Mauliza Juliantika ini tergiring belajar dan mendalami untuk menjadi mufassir.

Liza adalah salah seorang kafilah Musabaqah Tilawatil Qur’an Aceh yang telah mengantungi banyak predikat juara Cabang Tahfizh. Prestasi nasionalnya dimulai meraih juara Harapan I Tahfizh 10 Juz MTQN Batam 2014. Lalu Juara II Tahfizh 20 Juz pada MTQN Tarakan 2017. Selanjutnya Juara Harapan III Tahfizh 30 Juz saat perhelatan MTQN Medan 2018 lalu. Ia juga pernah mengikuti Cabang Tahfizh 30 juz pada MTQ Internasional di Dubai, 2017.

Melihat prestasinya dan faktor pendukung selaku mahasiswi Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Arab UIN Ar-Raniry Banda Aceh, pembimbingnya yaitu Ustad Amin Qusairi dan Ustad Sualeb menyarankan agar putri dari pasangan Abdul Malek – Harmiati ini beralih ke Cabang Tafsir Al Qur’an Bahasa Arab 30 Juz. “Saya didorong guru karena selain melancarkan hafalan juga mendapatkan ilmu baru keislaman serta penguasaan bahasa dan sastra Arab,” sebut remaja kelahiran Lhokseumawe, 6 September 1997. 

Menurutnya, syarat utama menjadi mufassir harus hafizh 30 juz. “Dengan hafizh 30 juz maka akan mudah mengaitkan antara ayat yang satu dengan ayat yang lain dan memahami makna kosa perkata. Walau tergolong baru sebagai pemula tapi alumni Madrasah Aliyah Negeri Lhokseumawe ini langsung kebut, belajar dan terus belajar. “Saya juga selalu membaca referensi buku tafsir untuk menambah wawasan,” sebutnya. Bukti keseriusannya, Liza mengambil cuti kuliah sementara. “Saya ingin fokus berlatih dan tidak ingin mengecewakan masyarakat Aceh” katanya.

Menafsirkan Al Qur’an merupakan amanah berat.  Saat Gema menyambanginya, Rabu (15/5), Liza tengah menjalani Training Center Seleksi Tilawatil Al Qur’an (STQ) di Unit Pelaksana Teknis Daerah Pengembangan dan Pemahaman Al Qur’an (UPTD PPQ) Dinas Syariat Islam di Komplek Keistimewaan Aceh, Banda Aceh. Ia bersama Dolly Isma Indra memang dipersiapkan mufassir seperti Tgk. Prof. Azman Ismail, Tgk. Dr. Fauzi Saleh dan Tgk. Sulaiman Hasan, Lc. MA untuk menghadapi Tahfizh 30 Juz dan Tafsir Bahasa Arab pada MTQ Nasional di Pontianak, Juni mendatang.

Warga Ujong Blang, Lhokseumawe ini menambahkan, syarat lain calon mufassir dari kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw di Bulan Ramadhan ini adalah berguru pada sumber yang benar. Untuk memahami Al-Qur’an tanyakan kepada ahlinya.  “Dan Kami tidak mengutus sebelum engkau (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” QS. An Nahl: 43. Sebaliknya, tidak mengambil tafsir dari ahli bid’ah dan menjauhi kesesatan dalam menafsirkan, jujur dan teliti dalam penukilan.

Baginya, menghafal Al Qur’an bukan untuk MTQ, tapi mengikut MTQ agar hafalan bertambah berkualitas. Lebih penting lagi, selain tadabbur juga mengamalkan Al-Quran secara mendalam. Semoga Mauliza jadi Mufassir Muda Aceh. Aaamin. NA RIYA ISON

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!