David Wharnsby, Pelopor Nasyid Berbahasa Inggris

GEMA JUMAT, 19 OKTOBER 2018

Selalu mencari cara untuk mengekspresikan diri. Seperti itulah hidup David Wharnsby. Pria yang lahir dan dibesarkan di Ontario, Kanada, itu sedari kecil
lebih senang mengekspresikan apa yang dia rasakan terhadap banyak hal daripada harus mendengarkan pelajaran-pelajaran di sekolahnya.

Ketika itu, dia lebih senang menulis cerita dan menggambar kartun. Beranjak remaja, cara David mengekspresikan diri berkembang menjadi fotografi dan teater. Melalui jalur teater itulah, bakat bermusik dan menulisnya terasah dengan baik.

Di umurnya yang masih belasan, dia mulai mencari apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidupnya. Remaja keras kepala ini mulai membaca bermacammacam kitab suci dan berbagai tulisan yang berhubungan dengan kajian spriritual.

Pada usia 18 tahun, remaja introvert itu betah melek sepanjang malam hanya untuk menulis, mendengarkan musik, dan mempelajari buku-buku berisi ajaran Hindu, Buddha, dan Taoisme. Beragam konsep spiritual pun mulai menjejali kepala David. Hal itu kemudian dia keluarkan dalam ekspresi bermusiknya.

David pun mulai banyak menulis lagu dan puisi. Secara autodidak, ia belajar berbagai macam instrumen musik yang kemudian digabungkan dengan lirik-liriknya yang bernada introspeksi serta suaranya yang sederhana. Lewat lagu-lagunya itu, dia mulai banyak tampil di berbagai kafe, universitas, dan festival rakyat.

Pada 1991, David mulai mencemplungkan dirinya dalam berbagai kegiatan sosial. Mulai dari menjadi pemain boneka dan pengajar untuk anak-anak, penyanyi keliling, hingga membantu orang-orang cacat. Kegiatannya ini membuatnya bertualang ke berbagai daerah.

Ia pun mulai melintasi Kanada, Amerika Serikat, bahkan sampai ke Inggris. Melalui
caranya bermusik, David mulai menunjukkan ketertarikannya terhadap fi losofi dan ajaran spiritual negara kawasan Timur. Ia pun mencari bentuk fi losofi spiritual yang sesungguhnya.

Menginjak usia 20 tahun, David akhirnya menemukan Alquran. Dia kemudian memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Setelah mengucapkan dua kalimah syahadat, ia pun menggunakan nama Islamnya, yakni Agama baginya bukan sekadar institusi untuk manusia, melainkan sesuatu yang harus diterapkan dalam kehidupan.

“Saat mengucapkan kata Islam, saya melihatnya sebagai kata kerja, sebuah kata yang merujuk pada aksi,” papar Dawud dalam wawancaranya dengan sebuah majalah pada 2006.

Menurut dia, Islam seharusnya menjadi sesuatu yang dilakukan oleh pemeluknya, bukan sesuatu yang hanya dimiliki. Islam harus diimplementasikan dalam kehidupan.

Bagi Dawud, Islam sepertinya tidak hanya sebuah agama yang ditempelkan kepadanya. Dia ingin menerjemahkan bahasa-bahasa keislaman itu melalui perilaku dan caranya berekspresi.

Alquran menjadi inspirasinya dalam bermusik. David banyak menulis lagu dengan perkusi sebagai instrumennya, menjadi bentuk nasyid.

Dia juga banyak menulis lagu anak yang terinspirasi dari Alquran. Lagu-lagu anak itu pada awalnya hanya direkamnya dengan sebuah gitar. Itu saya lakukan agar berbagai macam pendengar bisa merasa nyaman dengan materi-materi lagunya, paparnya.

Pada 1995, Dawud berhasil menelurkan sebuah album berjudul Blue Walls and The Big Sky. Pada tahun berikutnya, dia meluncurkan album keduanya berjudul A Whsiper of Peace. Pada album keduanya, ia sudah mulai menunjukkan unsur-unsur religi dalam lagunya.

Sebut saja, lagu Al Khaliq, The Prophet, atau Takbir/ Days Of Eid. Lagu-lagu bernuansa religi itu terus berlanjut ke album-album selanjutnya, Colours of Islam (1997), Road to Madinah (1998), Sunshine, Dust and The Messenger (2002), The Prophet’s Hands (2003), A Different Drum (featuring The Fletcher Valve Drummers) (2004), Vacuous Waxing (featuring Bill Kocher) (2005), The Poets And The Prophet (2006), Out Seeing The Fields (featuring Idris Phillips) (2007).

Album-album itu bagi Dawud merupakan hasil dari salah satu caranya untuk menginterpretasi Alquran. Bagi saya, sangat penting untuk bisa jujur pada diri sendiri terhadap pendapat saya tentang musik dan kegunaannya, ujar Dawud. Dalam bermusik, dia banyak bersentuhan dengan musisi mualaf lain, seperti
Yusuf Islam (Cat Stevens) dan Idris Philip (Philip Bubel).

Meskipun caranya menginterpretasi Alquran melalui musik ditentang oleh beberapa kalangan, dia merasa bahwa sebagian besar penganut Islam tidak keberatan dengan caranya itu. Bagi saya, ini penting untuk bisa berbagai tentang nilai-nilai melalui musik dan lagu, kata Dawud.

Para penikmat musiknya di Turki, Malaysia, Pakistan, Australia, Prancis, Amerika Serikat, dan Inggris sangat menyukai perkembangan karyanya. Selain sibuk dengan proyek-proyek album pribadinya, pada 1998, Dawud juga bergabung dengan perusahaan multimedia yang berbasis di Chicago, Amerika Serikat, SoundVision.com.

Di tempat itu, Dawud bekerja sebagai konsultan pendidikan, pengarah audio, dan menjadi asisten produksi untuk lebih dari 15 dalam dokumenter dan program televisi untuk anak-anak. Saat ini, Dawud sedang mengerjakan dua proyek albumnya yang akan muncul pada 2011 dan 2012.Republika

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!