Dua Tahun Jadi Imam Tarawih di Bangkok

GEMA JUMAT, 27 JULI 2018

Muhammad SayutiImam Muda

Ada kesan dan pengalaman menarik bagi Muhammad Sayuti (25) terutama saat berada di Bangkok Thailand untuk menjadi imam tarawih. Ia mengaku seakan-akan berada di tanah air karena nyaris tidak berbeda cara-cara pelaksanaan shalat tarawih di Masjid Jawa dan Masjid Indonesia terutama bacaan selawat dan tasbih dan doa-doa yang dibacakan. Hanya saja di bulan Ramadhan, tantangan berada di negara minoritas muslim lebih berat. Kedai-kedai dan warung terbuka di mana-mana demikian pula pakaian yang dipakai warga sangat minim sehingga tampak aurat. “Terpaksa harus menundukkan kepala supaya tidak melihat aurat warga non muslim di sana,” tuturnya.

Muhammad Sayuti pertama kali diundang sebagai imam tarawih berdua dengan Ust Irhamullah yang juga asal Aceh pada tahun 2017. Namun pada tahun 2018, hanya ia sendiri yang diundang untuk mengimami shalat tarawih di beberapa masjid seperti Masjid Jawa kampong Sathorn, Masjid Indonesia dan Masjid dalam komplek KBRI Bangkok atas rekomendasi pengurus Forum Silaturrahim Kemakmuran Masjid Serantau (Forsimas).

Pemuda kelahiran Lhoksukon 24 April 1993 ini mengaku masyarakat muslim di Bangkok meski minoritas, namun sangat antusias beribadah dan berbagi takjil berbuka, “Di masjid Jawa misalnya,  tiap hari menyediakan menu berbuka dan sahur bagi setiap muslim yang berpuasa yang dananya disumbangkan oleh kaum muslim,” paparnya. Ia juga terkesan di beberapa masjid yang ia kunjungi, disediakan kaca mata bagi jamaah yang ingin baca Al Quran, dan kursi bagi jamaah usia renta dan uzur pada setiap shaf.

Anak keenam dari pasangan Tgk Ismail dan Nurhafifah ini sejak kecil sudah memiliki bakat qari, suaranya merdu saat mengimami shalat. Waktu kecil ia belajar mengaji di kampungnya termasuk menyelesaikan sekolah formil dari SD hingga MAN. Selanjutnya hijrah ke Banda Aceh  kuliah di Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam Arab (LIPIA) program Diploma II lulus tahun 2017. Saat ini pria yang masih single ini tercatat sebagai  mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora jurusan Bahasa dan Satra Aran UIN Ar Raniry.

Setamat MAN, Sayuti mulai berusaha menghafal Al Quran, dan saat ini alhamdulillah sudah mencapai 10 juz. Imam muda pengagum Syech Musyari Rasyid ini bercita-cita suatu saat nanti bisa menjadi imam Masjid Nabawi di Madinah. Ia mengaku mulai menjadi imam sejak di kampung, sedangkan di Banda Aceh ia mulai dipercayakan sebagai imam di Masjid Gedung Keuangan.

Di kalangan teman-teman seusianya saat di kampung halaman, Muhammad Sayuti terbilang pintar sehingga banyak menjuarai aneka lomba. Sebut saja Juara I lomba menghafal kitab Masailal Muhtadi se Aceh Utara (2006), Juara Umum Dayah Nurul huda (2008), Juara III Lomba Pidato Dayah Darul Huda (2009), Juara II Lomba Pidato Kecamatan Lhoksukon (2009), dan Juara I Lomba Pidato antar dayah  se- Aceh Utara (2010). Ia juga dapat menyelesaikan kuliah di LIPIA dengan predikat Cum Loude (2017). Baskar

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!