Gema Baiturrahman Universitas Menulis bagi Saya

GEMA JUMAT, 30 NOVEMBER 2018

Mukhlisudin Ilyas – Dosen dan penulis

Mukhlisuddin tak pernah melupakan Gema Baiturrahman, karena di media inilah ia belajar menulis dan memperoleh banyak pengalaman.  “Gema Baiturrahman itu universitas menulis bagi saya. Skripsi tentang “Konsep Islamisasi Pengetahuan” saya tulis dengan komputer Gema”, paparnya mengenang. Berkat dunia tulis menulis yang ditekuni, Mukhlis sempat menjadi salah seorang tim penulis teks pidato pemerintahan Aceh, asisten sejumlah Profesor di Banda Aceh, Lhokseumawe dan Sumatera Utara.

Mukhlis kecil, lahir di Banda Aceh 16 Februari 1981 kemudian  pada 1984, keluarganya pindah ke Samalanga Kabupaten Bireuen.  Anak pertama dari 4 bersaudara ini menjadi yatim pada usia 12 tahun.  “Hari terakhir ujian EBTANAS SD ayah saya meninggal. Ketika itu saya sudah tidak semangat lagi melanjutkan sekolah. Maunya ke sawah saja membantu ibu supaya adik-adik bisa sekolah dari hasil panen padi,” kenang Mukhlis.

Menurut pemilik Bandar Publishing ini, ibunyalah  yang selalu memompa semangat, yang diucapkan di makam ayahnya Tgk. Ilyas. “Merubah nasib itu bukan dengan meninggalkan sekolah nak. Tapi harus rajin sekolah dan belajar dengan siapa saja dimana saja,” pesan Hurriah sang ibu tercinta.

Mukhlisuddin tinggal di Kiran Pidie Jaya di tempat neneknya tahun 1996-1999. Paginya sekolah di SMP 1 Samalanga, malamnya menjadi santri di Dayah Babul Ilmi Kiran. Setamat SMP, ia melanjutkan ke Dayah Jeumala Amal (1997-2000).  Awal masuk asrama, ia mengaku berbicara bahasa Indonesia saja tidak mampu. Karena masa SMP, Aceh sedang didera konflik. Bahasa Aceh menjadi bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar terutama sekolah-sekolah di kampung.

Berkat tekadnya yang membara, siapa sangka Mukhlis sekarang berbeda dengan sebelumnya. Tanggal 22 November 2018 lalu, ia baru saja menyelesaikan ujian tertutup program doktoral jurusan Manejemen Pendidikan Universitas Negeri Medan. Insya allah awal tahun 2019, Mukhlis sudah berhak menyandang gelar Doktor (Dr) di depan namanya.

Berbekal ijazah S1 pada awal 2005 ia sempat bekerja di Save The Cildren di Aceh dan Sumatera Barat. Bahkan di sela-sela kesibukannya, pada tahun 2009 Mukhlis berhasil menyelesaikan program Magister bidang Manajemen Pendidikan.

Sejak tahun 2010 menjadi dosen STKIP BBG Banda Aceh. Menyadari ayahnya sudah tiada, Mukhlis berusaha membantu dua adiknya sampai sarjana dan adik bungsunya memperoleh Magister Kesehatan.  Tidakhanya itu, bulan Mei 2018 lalu, ia juga mendorong istrinya Zahrila mendaftar sebagai mahasiswa pada program Doktoral di UIN Ar-Raniry.

Sejak tahun 2008, Mukhlis sudah fokus memulai dunia penerbitan, penelitian dan percetakan. Pada awal-awal berdirinya Bandar Publishing, ayah tiga putra putri ini mengaku sempat menjual emas istrinya untuk menutupi kekurangan modal awal penerbitan sejumlah buku rekan-rekannya.

Belakangan sejumlah lembaga memakai jasanya untuk riset-riset sosial, seperti Menristekdikti, Bank Indonesia Kantor Banda Aceh, Bappeda Aceh, Bappeda Nagan Raya, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Aceh, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, STKIP BBG Banda Aceh, Pemkab Pidie Jaya dan sejumlah NGO Internasional.

Yang paling disenangi dalam hidupnya adalah orang-orang yang mau terus belajar, sementara yang dibenci adalah orang-orang berperilaku malas, tidak mau belajar dan cenderung selalu menyalahkan orang lain.  Baskar

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!