Gencar Menolak Produk Yahudi

GEMA JUMAT, 29 JUNI 2018

Prof. Dr. H. Farid Wajdi Ibrahim, MA – Plt Rektor UIN Ar Raniry

Bicaranya tegas dan lugas terutama saat menyampaikan khutbah dan ceramah, sehingga membuat pendengar terkesima dengan materi yang disampaikan. Itulah sosok Prof Dr H. Farid Wajdi Ibrahim, MA (57 tahun) yang saat ini menjabat Plt Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry. Farid Wajdi berakhir jabatan Rektor UIN periode kedua kalinya 2014 – 2018 pada tanggal 18 Juni 2018. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin menunjuk Farid Wajdi sebagai pelaksana Tugas Rektor UIN Ar Raniry melalui surat bernomor B.II/3/18375 tertanggal 21 Juni 2018 hingga penetapan dan pelantikan Rektor UIN Ar-Raniry definitif.

Sebagaimana diketahui, sejak Februari lalu, UIN Ar-Raniry sedang menjaring calon rektor periode 2018 – 2022. Saat ini, ada lima nama guru besar kampus itu yang bersaing menduduki kursi rektor untuk lima tahun mendatang yakni  Prof Dr Farid Wajdi Ibrahim MA, Prof Dr Misri A Muchsin Le MA, Prof Dr H Warul Walidin AK MA, Prof Dr Syamsul Rijal MA, dan Prof Dr Syahrizal MA.

Pria kelahiran Rukoh Aceh Besar, 5 Maret 1961 ini gencar meneriakkan agar ummat Islam memboikot setiap produk Yahudi dan kroninya  terutama makanan siap saji, soft drink serta air mineral. Farid Wajdi dengan geram menegaskan, siapa pun umat Islam yang masih ikut memperjualbelikan produk-produk Yahudi, mereka sama saja telah menjadi bagian dari Yahudi. Karena itu, Guru Besar UIN ini meminta agar mulai sekarang umat Islam khususnya di Aceh jangan lagi ikut-ikutan menjual, apalagi mengonsumsi dan memakai produk Yahudi.

Selain itu, alumnus S3 jurusan Tamaddun Islam Universitas Sains Malaysia  (USM) ini mengharapkan agar umat Islam memperiapkan generasi yang tangguh di bidang sains dan teknologi serta bidang lainnya. “Targetnya supaya mereka mampu bersaing dan melawan kelompok manusia yang anti-Islam tersebut,” ujarnya bersemangat.  Disebutkan, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ar-Raniry Banda Aceh yang berubah secara resmi statusnya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry sejak 1 Oktober 2013 mencetak generasi Islam yang tangguh.

Menurut  anak pasangan H. Ibrahim dan Hj. Cut Radenmah,  Aceh hari ini jauh tertinggal dibandingkan dengan provinsi lain di Sumatra, baik dari segi pendidikan, ekonomi dan kesejahteraan sosial. “Padahal Aceh sejak tahun 2000 atau 18 tahun lalu dananya melimpah jika dibandingkan dengan jumlah penduduknya”, paparnya. Yang nampak lebih bagus hanya di bidang sarana transportasi atau jalan raya nasional, namun transportasi laut dan udara masih belum menggembirakan. Hal tersebut lebih disebabkan pembangunan Aceh belum tepat sasaran dan kurang fokus bidang terkait. Penyebab lain adalah ketidakkompakan para pengambil kebijakan di tingkat elit sehingga saling salah menyalahkan.

Ayah 3 putra dan 3 putri ini menempuh pendidikan formal mulai MIN Tungkop (1973), PGAN 4 tahun Banda Aceh (1976), PGAN 6 tahun Banda Aceh (1980), selanjutnya S1 IAIN Ar Raniry jurusan Pendidikan Bahasa Arab (1986), S2 IAIN Ar Raniry jurusan Pemikiran Modern (1993) dan S3 USM Malaysia jurusan Tamaddun Islam (2000).  Debut karirnya dimulai sebagai Kabid. Akademik BP MKDU IAIN Ar Raniry (1999 – 2000), Kepala Pusat Penelitian IAIN Ar Raniry (2001 – 2004), Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN Ar Raniry (2004 – 2009) dan Rektor UIN sejak 2009 sampai sekarang.

Demikian pula banyak organisasi profesi dan ilmiah yang diurus oleh suami dari Ir Hj. Adzniar Araby.  Sebut saja mulai Pengurus Wilayah Al-Jam’iyatul Washliyah Provinsi Aceh sejak 2013 hingga sekarang, Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (FP- PTAIN) mulai 2013 – 2015,  Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) 2009 – 2014,  Ketua Orwil Ikatan Cendikia Muslim se-Indonesia (ICMI) Provinsi Aceh (2013 – sekarang),  dan lain-lain. (Baskar)

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!