Heri Ansari, Operator Sound System Masjid Raya Baiturrahman Di Balik Layar Suara Baiturrahman

Gema JUMAT, 24 JUNI 2016

Kali ini, kita ingin mengenal lebih dekat dengan Heri Ansari, karyawan Masjid Raya Baiturrahman (MRB) Banda Aceh. Laki-laki kelahiran Banda Aceh, 14 Nopember 1964 ini salah seorang dari tiga petugas operator sound system masjid megah ini.

Heri, panggilan akrabnya, pemeran di balik suksesnya berbagai kegiatan di MRB. Tidak seperti imam, khatib, penceramah, muadzin, qari, pembawa acara dan petugas lainnya yang biasa tampil di depan jamaah atau undangan.

Saat bekerja, Heri berada di ruang berukuran kecil dan tersembunyi. Namun dari ruang yang merupakan studio mini ini, aneka kegiatan dakwah dapat disiarkan lebih luas kepada masyarakat di luar MRB. Karena perangkat suara yang ada, tidak saja untuk memanjakan pendengar dalam lingkungan masjid bersejarah ini, tetapi juga direlay langsung melalui stasiun Radio Baiturrahman FM dan RRI Pro 2 FM. Dari kedua stasiun radio ini, kembali dipancarluaskan stasiun radio lainnya.

Berkat kepiawaian anak dari pasangan Ahmad Barawas – Tuti Zubaidah dalam mengolah efek suara, para jamaah dan pendengar dapat menikmati suara jernih dan bening. Bakat dan kegemarannya menurun dari ayahnya yang pernah menjabat Kepala Studio RRI Banda Aceh. “Sejak kecil saya suka melihat ayah bekerja di studio radio, ” katanya. Dia juga pelaku siaran radio amatir dan interkom yang marak kala itu.

Bergabungnya ayah dari Ahmad Syauqi (9 th) dan Hanum Atqia (2 th) dengan MRB menjadi bagian dari pelayan ummat setelah menamatkan SMA Negeri I Banda Aceh tahun 1985. “Saya mulai bekerja di Baiturrahman tahun 1986,” ungkapnya. Kala itu, yang mengajaknya adalah abang iparnya Adnan, operator utama MRB.

Perangkat sound system di masjid bersejarah ini tergolong modern. Pengadaannya sehubungan pelaksanaan MTQ Nasional ke-XII di Banda Aceh, 1981.  Namun kualitas sound system tanpa penataan tangan terampil tentu tidak dapat optimal penggunaannya.

Amat mudah mengenal Heri yang kini beristerikan Juriah ini. Apabila shalat fardhu segera dimulai, iqamat sudah dibacakan dan imam telah siap takbir, maka dia adalah orang terakhir yang menempati jamaah. “Saya selalu telat mengisi shaf, karena mesti memastikan sound system berfungsi baik,” ungkap Heri, yang berperawakan tinggi ini.

Tugasnya tidak saja memastikan audio tidak feedback dan suara tidak mencuit. Bagi jamaah dan pendengar radio di bulan Ramadhan selalu menunggu suara sirine penanda waktu berbuka atau batas imsak yang direlay radio, khususnya di Banda Aceh dan Aceh Besar. Dialah yang menjaga dan memelihara sirine tua itu, yang masih terpelihara baik.

Melalui peran Heri bersama kedua teman operator lainnya, kadang mesti menaiki keempat menara, serta menara utama untuk memelihara, menservis houten speaker yang berulah. Kita kadang kala hanya menikmati suara corong dakwah MRB, tanpa tahu siapa pemeran di balik layar. Dialah Heri Ansari. NA RIYA ISON

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!