Masjid Baiturrahman Rumah Keduaku

Gema JUMAT, 10 JUNI 2016

 

Tgk. H. Syafruddin Miga, SE, Imam Masjid Raya Baiturrahman

Usianya sudah renta, fisiknya prima, suaranya masih jelas dan merdu. Pria kelahiran Banda Aceh, 29 November 1949 ini tidak perlu berkacamata bila membaca atau mengaji.

Kakek tujuh cucu ini adalah salah seorang imam rawatib di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Sejak 2003, bertepatan Ramadhan 1424 hijriah lalu, dia diangkat sebagai imam di masjid kebanggaan masyarakat Aceh ini. Abi–panggilan akrabnya– mengisi posisi tugas mulia itu menggantikan Dr. H. Idris Mahmudy, karena pindah tugas di Kalimantan.

Pengurus Masjid Raya Baiturrahman memberikan amanah kepadanya menjadi salah seorang dari tujuh imam ini, karena dianggap memenuhi persyaratan yang mesti dimiliki seorang imam.

Abi Syafruddin pernah Juara Harapan I pada MTQ Nasional di Surabaya, 1974. Karena fasih dan merdu dalam bertilawah Qur’an dia menjadi imam di Masjid Jami’ Gedung Keuangan Banda Aceh saat sebagai PNS di Ditjen Anggaran.

Abi juga merupakan seorang Majelis Imam di Mushalla Komplek BTN Ajuen, sebelum menetap di Kompleks Perumahan Imam Masjid Raya Baiturrahman (eks Sekretariat MUI) di Jl Prof A Majid Ibrahim I, Punge Jurong, Banda Aceh.

Saat tawaran menjadi imam di masjid bersejarah itu, Syafruddin tidak langsung menerima. “Saya merasa berat menjadi imam di Baiturrahman, karena kuatir akan bertindak yang tidak sesuai dan dapat merusak citra Aceh, Islam dan Baiturrahman,” sebutnya.

Sebelum membuat keputusan, dia meminta saran pendapat dari keluarga dan sahabat, yang kesemuanya menyarankan padanya untuk menerima tawaran menjadi  ‘pemimpin jamaah’. Sahabatnya juga menyatakan, apabila telah menjadi imam, maka prilaku akan lebih terpelihara untuk berbuat kebaikan dan mampu mencegah perbuatan keji dan munkar.

Tugas pensiunan PNS 2006 ini tidak saja memimpin imam shalat rawatib, tetapi juga menjadi salah seorang pengurus bidang administrasi sekretariat di masjid yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda ini, 1912. Kadang tugasnya sebagai naib atau imam pengganti. Salah seorang dewan hakim dan pelatih MTQ Cabang Tilawah ini selalu mengikuti kegiatan dakwah dan peringatan hari-hari besar Islam di masjid ini.

Karenanya, hampir setiap saat Abi yang kini beristerikan Hj. Khatijah, SE berada di masjid yang kini tengah diperluas dan akan dipasang payung elektrik. “Bila saya tidak sedang bertugas menjadi imam atau naib, saya menjadi jamaah di sini,” ujarnya. Maka tak salah, Masjid Raya Baiturrahman ibarat rumah kedua baginya.

Walaupun tempat tinggalnya tidak jauh dari masjid indah ini, apabila mendapatkan giliran mengimami shalat Shubuh, dia bermalam di masjid. Pengurus Masjid Raya Baiturrahman memang menyediakan kamar khusus bagi imam, penceramah, qari, muazin dan petugas lainnya agar pelaksanaan shalat Shubuh tepat waktu.

Di saat orang seusia dia banyak yang berkurang ingatan, sebaliknya Abi Syafruddin yang merupakan imam tertua di masjid bersejarah ini tetap bertadabbur dan berupaya menjaga dan menambah hafalan ayat-ayat Qur’an.

Dia merasa berbahagia, diantara cucu-cucunya ada yang mengikuti jejaknya. Cucu pertamanya, Ahmad Muzaiyyinul Asyir (16 th) salah seorang kafilah MTQ cabang tilawah anak-anak Kabupaten Aceh Besar dan Zamil Ghifari (11 th) juga andalan kafilah Aceh saat berlaga di MTQ Nasional di Batam, 2014. NA RIYA ISON

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!