Menuntut Ilmu Tiada Batas Waktu

GEMA JUMAT, 23 NOVEMBER 2018

Prof Dr H. Zainal Abidin Alawy, MA – Dosen

Meski sudah berusia 82 tahun, namun  Prof Dr H. Zainal Abidin Alawy, MA masih tampak energik dan kuat melaksanakan berbagai kegiatan baik sebagai dosen maupun mengisi pengajian di berbagai tempat. Itulah sosok pria kelahiran Montasik, 12 Desember 1936 yang saat ini menjadi imuem syik di Masjid Al Wustha Jeulingke Banda Aceh. Suami dari Hj Wardhiah ini mencatat dengan rapi sejak akhir 2002 hingga sekarang telah mengisi pengajian rutin di Masjid Raya Baiturrahman sebanyak 731 kali.

Yang menyemangati generasi muda adalah bahwa H. Zainal Abidin berhasil meraih gelar Doktor pada UIN Syarif  Hidayatullah pada usia 66 tahun. Judul disertasinya “Konsep Ijtihad Syalthut dalam Konteks Pembaharuan Hukum Islam” bertujuan ingin membuka cakrawala berpikir ummat bagaimana ulama Syalthut mengulas pikirannya dalam Kitab  “Al Fatawa” dan memberikan landasan berpikir dalam menulis sekian banyak buku termasuk Tafsir.

Itu sebabnya, ia berpesan bahwa siapapun tidak boleh berhenti untuk belajar. “Apalagi kalau ada keinginan untuk mengajar orang banyak, tentu harus memiliki modal ilmu pengetahuan”, ujarnya. Kepada mahasiswa ia berpesan bahwa belajar itu tidak pernah ada masa berhenti. “Belajarlah sampai ke pucuk”, tambahnya. Demikian pula kepada teman-teman dosen ia katakan, pendidikan tidak cukup hanya S1, harus lanjut S2 sampai S3. Bahkan belum sempurna kalau belum jadi Guru Besar.

Setelah dua tahun meraih gelar Doktor, kakek tiga cucu ini diangkat jadi Guru Besar di IAIN Ar Raniry yang sekarang berubah nama menjadi UIN. Saat pengukuhan Guru Besar pada 2008, ia menulis tentang “Reformasi hukum Islam kaitannya dengan pelaksanaan syariat Islam di Aceh”. Ketika pensiun dari guru besar, bahkan ayah empat putra putri ini diminta lagi untuk menjadi guru Besar Emeretus untuk lima tahun yang didanai oleh program UIN.

Tahun 2014 ia pernah mencalonkan diri sebagai DPR RI sebagai anggota dewan dari partai berlambang Ka’bah, namun belum berhasil terpilih. Professor Zainal mengingatkan kepada caleg agar jangan membuat janji yang tidak sanggup ditepati. “Jangan terlalu muluk memberikan janji. Dan siapapun yang berhasil jangan lupa bahwa ia wakil rakyat dari semua golongan rakyat di wilayah hukum dimana ia terpilih”, pesannya.

Pendidikan formal ditempuh di SRI Montasik selama 7 tahun, kemudian melanjutkan ke SMI 3 tahun. Ia mengaku satu tahun tidak sempat belajar karena peristiwa DI-TII, lalu lanjut lagi ke SMP Islam di Montasik. Pada tahun 1959, ia mengikuti test ujian akhir PGA Banda Aceh dan sempat belajar di kelas 5 dan 6.

Prof. Zainal memulai profesi sebagai guru MIN Bukit Baru Montasik, kemudian pindah dari guru menjadi dosen Fak Tarbiyah IAIN pada 1977. Sebelumnya pernah mendapat tugas belajar pada Fak Tarbiyah (1963). Sarjana Fakultas Tarbiyah diraih pada 1974, sedangkan S2 jurusan Qadha Peradilan Islam selesai tahun 1995. Baskar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!