Pendiri Klinik Al Fatihah

Ustadz H. Mubashshirullah, Lc, M.Ag,

GEMA JUMAT, 11 OKTOBER 20198

Sewaktu Mubashshirullah umrah pada Ramadhan tahun 2016. Usai shalat fardlu di Masjid Nabawi, suami dari Rahmiyati, Lc, M.Us, ini acap menyaksikan beberapa syeikh mengajak jamaah di dekatnya untuk membaca surah-surah pendek, khususnya Surah Al Fatihah. Syeikh tersebut menyimak, evaluasi dan kemudian membimbing “santri dadakannya” agar Ummul Kitab dibaca benar.

Pengalaman tersebut begitu berbekas pada Bashir, panggilan akrabnya. Putra sulung dari empat bersaudara pasangan Drs. Musa Umar – Bastiah ini menilai bahwa kaum muslimin di Aceh pasti banyak keliru dalam melafazkan isi tujuh surat yang sering dibaca ulang tersebut. Menurutnya, walau surah ini paling sering dibaca dan dihapal kaum muslimin namun dianggap sepele sehingga diyakini telah dibaca sempurna. Padahal Surat Al Fatihah menjadi bagian dari rukun shalat yang dapat mengurangi bahkan shalat sia-sia.

“Sekembali dari Saudi, saya ingin merealisasikan retorasi baca Al Fatihah”, kata pria kelahiran Aceh Utara, 5 Desember 1984 ini. Niat tulus ini disampaikan kepada Ketua Remaja Masjid Baitul Musyahadah (RMBM) Banda Aceh pada Ramadhan 2017, namun belum terlaksana.

“Saat kepengurusan RMBM di bawah komando ust Hasbul Haq, program ini diusulkan kembali dan menjadi agenda kegiatan tarbiyah dan rihlah mungguan RMBM dan Anak-anak Masjid Baitul Musyahadah (AMBM),” sebut Pascasarjana UIN Ar-Raniry ini. Sempat diusulkan kegiatan digelar di masjid, namun dikuatirkan hanya termanfaatkan jamaah itu-itu saja. Pada akhirnya disetujui bahwa Klinik Al Fatihah  digelar di Lapangan Blang Padang, agar lebih banyak audiens yang memanfaatkannya.

Nama Bengkel Al Fatihah sempat diusung sebagai nama aksi. Namun konotasi bengkel terkesan bising dan kumuh. Dan akhirnya tempat mengecek bacaan Surat Al Fatihah itu dinamakan Klinik Al Fatihah (KAF), pada 21 Januari 2018.

Awal KAF memulai klinik, sejumlah relawan yang juga kader  RMBM dan AMBM bersegera merebut “lapak” di lapangan ucapan terima kasih Aceh pada relawan dunia itu. “Ada yang membawa rehal dan tikar. Sebagian lagi membeli air mineral atau kue. Ada juga yang menyiapkan pencatatan,” kenang Direktur Wilayah LPPTKA BKPRMI Aceh ini. Bashir begitu terkesan atas semangat dan kekompakan relawan. “Giat perdana itu ditingkahi sandiwara. Adik-adik membawa dan bermain bola. Mereka berperan menggiring sasaran khususnya kawula muda yang tengah berolahraga bersedia uji materi bacaan Surat Pembuka.

Menurut Sekjen Ikatan Keluarga Alumni Timur Tengah (IKAT) Aceh ini, kegiatan belum menemui kendala berarti. Tapi jika hujan, kita tidak bisa beroperasi,” tambah Ayah dari Bashirah (7 th), Bilal (4 th) dan Rufaidah (1,5 th) ini. Maklum KAF hanya menyiapkan alas lesehan tanpa atap atau tenda. Atapnya adalah rimbunnya dedaunan trembesi.

Kini KAF telah berjalan 34 pekan. Sebanyak 1.170 pasien sebutan bagi yang bersedia didiagnosa berhasil terjaring. “Banyak masyarakat yang kurang teliti melafalkan Al Fatihahnya dan kesalahan mendominasi adalah memanjangkan bacaan mad thabi’i lebih dua harakat disebabkan mengikuti irama,” sambung Bashir.

Bashir menyebutkan, KAF mungkin bukan yang pertama berkiprah. Tapi belajar tajwid atau memperbaiki tahsin Al Fatihah di ruang terbuka bisa jadi Klinik Al Fatihah pelopornya. Buktinya sahabatnya di beberapa kabupaten/kota di Aceh banyak berdiskusi dan berkeinginan membuka kegiatan yang sama, agar kaum muslimin lebih teliti membaca Al Fatihah berharap shalat lebih Bermutu, sesuai motto KAF. NA RIYA ISON

 .

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!