Pengabdian, Loyalitas dan Totalitas

GEMA JUMAT, 28 SEPTEMBER 2018

Pada awal 2017 lalu, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Aceh, Drs H. Daud Pakeh  memerintahkan tim humas untuk membuat film dokumenter menggambarkan pendidikan daerah pedalaman di wilayah Aceh Tengah dan Aceh Tamiang. Tim humas harus bekerja dalam dinginnya cuaca di puncak gunung Kala Wih Ilang. Jauhnya perjalanan ke Bandar Pusaka memakan waktu berhari hari demi kepentingan berbagai dokumentasi. Dengan seluruh kreatifitas dan inovasi tim humas akhirnya mampu melahirkan film dokumenter ” Cahaya di atas Bukit” yang dapat disaksikan di Youtube.

“Dengan film dokumenter tersebut, berbagai donasi datang baik dari pihak pemerintah, BUMN, swasta, bahkan perorangan sehingga telah mengubah wajah madrasah di dua wilayah pedalaman tersebut dari tidak layak menjadi bangunan permanen dengan berbagai fasilitas,” ungkap H. Rusli, Lc, MSi, Kasubbag Informasi dan Humas Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh, membuka pembicaraan dengan Wartawan Tabolid Gema Baiturrahman beberapa waktu lalu.

Selama dipercayakan sebagai Kasubbag di Kanwil Kemenag Aceh, banyak hal yang telah ia lakukan untuk mendukung terobosan-terobosan “out of the box” yang dilakukan oleh  Kakanwil Kemenag Aceh Daud Pakeh demi  memperbaiki kualitas pendidikan anak bangsa di daerah pedalaman Aceh.

“Sebagai abdi negara, kami siap ditugaskan pimpinan untuk melaksanakan pelayanan kepada masyarakat, termasuk menjadi Petugas Haji Embarkasi/Debarkasi Aceh,” ujar Rusli yang sekarang menjabat Kasubbag Informasi dan Humas di Kanwil Kemenag Aceh kepada Gema Baiturrahman beberapa waktu lalu di sebuah warung kopi di Banda Aceh. Saat itu jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.00. Wajah Rusli terlihat begitu lelah.

Selama ditugaskan melayani jemaah haji, baik pemberangkatan maupun pemulangan jemaah haji, hampir seluruhnya ia bekerja di atas pukul 00.00 hingga selesai subuh.  Kemudian pada siang harinya ia pergi ke kantor menyelesaikan tugas  penting lainnya. Baginya melayani jemaah haji merupakan tugas mulia dan  menjadi ibadah. Karena itu, ia siap melaksanakan tugas sebaik mungkin kapanpun diperintahkan.

“Kita siap melayani jemaah kapanpun. Kalau mendapatkan honor alhamdulillah, kalau tidak juga tidak apa-apa,” ujar lelaki kelahiran 29 Oktober 1979 yang mulai menjabat Kasubbag sejak 2016 itu.

Rusli menyelesaikan studi S1 di Fakultas Ushuluddin Jurusan Filsafat Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, pada 2003. Banyak pengalaman menarik selama ia menempuh proses pendidikan di sana.

Berawal dari cita cita ingin belajar ke Mesir, sejak sekolah di MAK dulunya MANPK Banda Aceh terus mempersiapkan diri dengan belajar bahasa Arab, menghafal Alquran, dan pelajaran-pelajaran lainnya yang berhubungan dengan ilmu agama. Tahun 1998 ia dipanggil mengikuti pemantapan bahasa Arab di Jakarta selama 3 bulan. Akhirnya diberangkatkan ke Mesir bersama 75 orang lainnya dari seluruh Indonesia yang lulus beasiswa.

Saat sampai di Mesir, bahasa yang digunakan ternyata tidak sama dengan Bahasa Arab baku yang di pelajari di Indonesia. Mereka menggunakan bahasa ‘ammiyah, yaitu bahasa umum yang digunakan masyarakat Mesir. Sehingga, banyak mahasiswa harus berusaha memahami bahasa tersebut. Caranya dengan banyak berinteraksi dengan mahasiswa dan masyarakat Mesir, serta menyaksikan drama-drama yang disiarkan di televisi Mesir. “Karena terkadang di kampus sekalipun dosen yang mengajar juga menggunakan bahasa ‘ammiyah tersebut,” sambungnya.

Pada saat belajar di Mesir pada tahun 1998 di tengah puncaknya krisis moneter adalah sesuatu yang sangat sulit untuk dilakukan selain biaya yang sangat mahal juga akses informasi belajar ke Mesir saat itu masih sangat minim.

Masyarakat Mesir adalah masyarakat pemurah. Di saat Indonesia mengalami krisis moneter yang dimulai tahun 1997, masyarakat Arab memberikan sumbangan dalam bentuk uang maupun barang kepada mahasiswa Indonesia yang ada di sana. Alhasil, mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir saat itu tidak ada yang merasakan kesulitan hidup karena krisis moneter yang melanda di tanah air. Selain itu berbagai lembaga beasiswa juga terus berupaya untuk menyalurkan beasiswa kepada seluruh mahasiswa Indonesia dengan catatan memiliki nilai minimal cukup dan dinyatakan naik ke tingkat berikutnya.

Sejak berakhirnya Program Pemulihan Pasca Tsunami di Aceh pada akhir 2009, ia langsung melanjutkan pengabdian sebagai PNS pada 2010 sebagai pegawai KUA di Kecamatan Pirak Timu, daerah pedalaman di Aceh Utara. “Hampir semua masyarakat di sana tidak memiliki buku nikah karena masa konflik tidak ada yang berani nikah di KUA atau menghadirkan pegawai KUA ke tempat pernikahan,” ujar suami dari Dewi Yulita Samsuar itu kini sudah dikaruniai tiga buah hati yaitu Zuhra Yulia Hasanah (11), Muhammad Haris Albukhari (5), dan Nazra Annisa Faiha (1 bulan). Zulfurqan

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!