Perkembangan Muslim di Australia Meningkat

GEMA JUMAT, 6 JULI 2018

Dr. H. Teuku Chalidin Yacob, MAPendiri Ashabul Kahfi Islamic Centre Sydney

Ditemui di sela-sela kepulangannya ke Aceh dalam urusan keluarga, Dr. H. Teuku Chalidin Yacob, MA (63 tahun), banyak berbicara tentang perkembangan Islam di Negara Kangguru khususnya Sydney tempat ia bermukim selama 25 tahun lebih.

Menurut pendiri Ashabul Kahfi Islamic Centre Sydney Australia, perkembangan muslim selama kurun waktu tiga dasarwarsa terakhir di wilayah New South Wales (NSW) sangat signifikan, dimana jumlah ummat Islam meningkat dari 0,8 persen menjadi sekitar 2 persen saat ini. Kebanyakan muslim di Australia berada di Sydney, mereka umumnya berasal dari Libanon, Turki, Iran, Irak dan Pakistan, sedangkan dari Indonesia berjumlah 5 persen dari total muslim yang ada.

Ia juga berobsesi Aceh harus dapat mengembalikan martabat dan kejayaan Aceh sebagaimana zaman Sultan Iskandar Muda. Masjid dan meunasah harus difungsikan seperti zaman Rasulullah, tidak hanya sebagai tempat shalat namun berbagai aktivitas keagamaan dan persoalan ummat lainnya. “Kalau sekarang sangat memungkinkan dengan berlakunya qanun syariat Islam, UUPA untuk pelaksanaan syariat Islam secara kaffah di Aceh,” ujarnya.

Sebelum hijrah ke Australia sekitar 1993,  pria kelahiran Beurabo Padang Tiji – Kabupaten Pidie, 2 Oktober 1955, pernah dipercayakan sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII), masa bakti 1986-1989 yang bermarkas di Jalan Menteng Raya No. 58 Jakarta Pusat.  Justru karena jabatannya itulah, Chalidin harus meninggalkan tanah air tercinta dan memutuskan tinggal di Sydney yang dinilai lebih aman. Maklum untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang saat itu lumrah terjadi sebab organisasi yang dipimpinnya menolak Pancasila sebagai asas tunggal sebagai landasan semua organisasi masyarakat. Akibatnya ayah satu putra dan 2 putri ini kerap berurusan dengan pihak berwajib saat itu.

Anak pasangan Teuku H. Yacob bin Teku Raja Bukot dan Cut Tihawa binti Teuku Gade yang  menikah dengan Hj. Darliana bt Tgk. H. Abdullah Hasan pada 10 September 1989 ini resmi melepaskan kewarganegaraan Indonesia sejak 25 tahun silam. Dengan kemampuannya dalam Bahasa Arab dan Inggris membuat dirinya mudah berdaptasi di Australia. Dia lalu mendirikan Ashabul Kahfi Language School Inc Sydney (1993) yang menjadi cikal bakal lahirnya Ashabul Kahfi Islamic Centre Sydney pada tahun 2006.  Selain itu Chalidin berkesempatan melakukan safari dakwah keliling dunia seperti ke Arab Saudi, Belanda, Cina, Hongkong, Inggris, Jepang, Malaysia, Maroko, Mesir, Pakistan, Perancis, Singapura, Spanyol, Swedia, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Indonesia  dan lain-lain.

Kini lulusan S3 bidang Pendidikan Islam Universitas Malaya Kuala Lumpur (2009) ini menetap bersama keluarganya di Willey Park  NSW 2195 Sydney. Sehari-hari selain sebagai Kepala Sekolah pada Ashabul Kahfi Language School Inc Sydney, juga sebagai Penghulu Qadhi (Muslem Marriage Celebrant) pada Kantor Pendaftaran Kelahiran dan Perkawinan (NSW Attorney General’s Department) Sydney sejak 1998 sampai sekarang.

Awalnya Dr. Chalidin pernah diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil sebagai guru pada SMA Negeri Beureunuen Pidie (1981), namun tidak sempat datang karena kesibukannya di organisasi PII, akhirnya setahun setelah menerima SK, terpaksa memutuskan keluar dari PNS. Alumni FKIP Unsyiah jurusan Civic Hukum (1980)  ini hanya sempat mengajar pada beberapa SMA di Banda Aceh.  Juga mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Ekonomi dan Fakultas Kedokteran Unsyiah. Sebelum kuliah di kampus Unsyiah, pria berjambang ini pernah menjadi siswa Sekolah Menengah Pertama dan Menengah Atas di Dayah Ma’hadal Ulum Dieniyah Islamiyah (MUDI) Samalanga Bireuen (1975).

Sejak 2014, Chalidin Yacob ditunjuk sebagai Ketua Forum Silaturrahim Kemakmuran Masjid Serantau (Forsimas) Australia. Selain itu menjadi anggota Majelis Imam Nasional Australia (ANIC) Sydney sejak 2008 dan Majelis Fatwa serta Majelis Agama Islam Agung Halal Australia (SICHMA) Sydney sejak 2010 hingga sekarang.

Beberapa buku dan karya tulisnya sudah diterbitkan, seperti 1. Demokrasi dan Islam di Australia, 2. Islam dan Masyarakat Modern; Refleksi tentang Penerapan Nilai-nilai Islam, 3. Islam di Australia, 4. Migrasi Muslim Indonesia di Australia, 5. Pelajar Islam Indonesia ; Sejarah dan Sumbangannya bagi Pendidikan Masyarakat di Indonesia, 6. Pelaksanaan Hukum Syariah di Aceh, 7. Tantangan dan Peranan Masjid di Negara Non-Muslim dan lain-lain.

Ia juga pernah mendapat penghargaan Hakim Perdamaian (Justice of the Peace) sebagai anggota Persatuan Hakim NSW Sydney Australia (2000) dan Anugerah Piagam dan Bintang Datuk Hang Tuah Sempena Konvensyen ke 8 DMDI oleh PM Malaysia Abdullah Badawi tahun 2007. (Baskar)

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!