Pro dan Kontra Pengeras Suara Masjid

GEMA JUMAT, 31 AGUSTUS 2018

Oleh: Zulfurqan

Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia telah mengeluarkan surat edaran tentang pelaksanaan instruksi Direktur Jenderal Bimas Nomor: KEP/D/101/1978 tentang tuntunan penggunaan pengeras suara di masjid, langgar, dan musala. Dalam surat edaran yang ditandatangani Direktur Jenderal Muhammadiyah Amin pada 24 Agustus 2018 itu mengintruksikan jajaranya menyosialisasikan tentang penggunaan pengeras suara di rumah ibadah.

Sontak saja intruksi tersebut membuat kehebohan mulai dari tingkat nasional hingga ke daerah. Kehebohan ini diprediksikan karena masyarakat Indonesia belum tahu bahwa aturan tersebut sudah ada jauh sebelumnya. Akibatnya, muncullah pro dan kontra di kalangan masyarakat yang baru mengetahui instruksi tersebut. Meskipun sebelumnya, di beberapa daerah sempat terjadi ketegangan di antara warga soal penggunaan pengeras suara. Sebagian warga merasa terganggu akibat pengeras suara yang dianggap tidak digunakan secara bijak.

Di pihak kontra dengan instruksi tersebut menilai pemerintah sedang melakukan tindakan diskriminatif terhadap umat Islam. Pengeras suara dianggap sudah sangat lazim dan hampir tidak ada yang melakukan protes karenanya. Dengan adanya pengeras suara, misalnya untuk kegiatan ibadah wajib maupun sunat dapat meningkatkan semangat umat Islam dalam beribadah. Artinya, segala sesuatu yang berhubungan dengan kegiatan ibadah boleh menggunakan pengeras suara.

Pada dasarnya, pengeras suara merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi demi kelancaran kegiatan ibadah. Dalam lampiran instruksi penggunaan pengeras suara bermanfaat memperluas jangkauan dakwah dan pengajian. Masyarakat yang tidak dapat hadir ke pengajian masih bisa mengikuti materi pengajian di tempatnya berada yang terjangkau pengeras suara. Tentunya, berbicara soal azan, aturan pengeras suara mutlak diperlukan sebagai seruan dan pengingat salat lima waktu.

Namun demikian, penggunaan pengeras suara yang tidak tepat dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Hal ini sangat dirasakan oleh orang yang rumahnya berada cukup dekat dengan masjid, musala, atau langgar. Bahkan dalam surat tersebut juga dijelaskan bahwa orang yang baru pulang kerja mestinya dapat beristirahat dengan nyaman. Selaras dengan ajaran Islam bahwa tidak boleh menimbulkan gangguan kepada tetangga karena meskipun yang dilantunkan ayat-ayat Alquran.

Masyarakat diharapkan dapat memahami mengapa instruksi penggunaan pengeras suara kembali disosialisasikan. Pemerintah sudah berupaya menjaga ketertiban dalam bermasyarakat maupun beribadah. Sampai saat ini baru beberapa orang yang mengeluhkan penggunaan pengeras suara di rumah ibadah secara tidak tertib. Akan tetapi, sepertinya masih ada masyarakat yang merasakan hal seperti  itu. Tampaknya, mereka belum berani menyampaikan pendapat sebab takut dihakimi sebagai orang yang tidak mencintai kegiatan keagamaan.

Dapat dikatakan, sesuatu yang baik bisa merugikan orang lain bila hal tersebut tidak tepat penggunaannya, seperti halnya pengeras suara. Di beberapa tempat di meunasah dan masjid yang ada di Aceh, penggunaan pengeras suara mulai memerhatikan ketertiban penggunaan pengeras suara. Misalnya, jika bulan Ramadan sebelumnya tadarus menggunakan pengeras suara suara bagian luar. Tetapi sekarang hanya menggunakan pengeras suara bagian dalam dengan volume yang dikira tidak menganggu masyarakat sekitar.

Akan tetapi, tidak semua poin-poin aturan pengeras suara cocok dengan kondisi Aceh yang hampir 100 persen penduduknya muslim. Misalnya, di dalam aturan tersebut dikatakan pengajian subuh menggunakan pengeras suara dalam. Sebaiknya, penggunaannya dapat dilakukan menggunakan pengeras maupun luar sebagai bagian dakwah. Terutama di perkampungan yang dapat menyemarakkan kondisi perkampungan.

Kondisi umat Islam di setiap daerah Indonesia berbeda. Kementerian Agam RI perlu memberikan kesempatan kepada Kementerian Agama di setiap daerah mengatur sendiri tentang penggunaan pengeras suara. Perbedaan kondisi umat Islam di setiap daerah dapat dipengaruhi oleh geografis, kemajemukan masyarakat, jumlah rumah ibadah, dan sebagainya. Pastinya Kemenag di setiap daerah lebih paham kondisi masyarakatnya.

Hal yang dikhawatirkan adalah ada pihak-pihak yang mempolitisir isu tentang penggunaan pengeras suara. Sehingga muncul tuduhan terhadap pihak tertentu bahwa mereka tidak mencintai agama Islam. Apalagi sekarang merupakan tahun politik menjelang pemilihan Presiden Indonesia 2019 nanti. Semoga kekhawatiran tersebut tidak terjadi. Amiin.

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!