Syeh Maneh; Dari  Panggung Beola ke  Imam  Masjid

GEMA JUMAT, 3 AGUSTUS 2018

NAMA aslinya  H. Ismail Bin Sabi (75) tahun, kelahiran  Gampong Pulo U,  Kemukiman Beureueh, Beureunuen Pidie.  Ayahnya Tgk Sabi seorang seniman Dalailul Khairat  juga. Nilai-nilai agama telah ditanam oleh keluarganya sejak kecil. Ia senang mengaji dan mempelajari agama. Ia sekolah tamat Sekolah Rendah (SR), dan pernah  mengaji di dayah beberapa tahun.

Waktu remaja ia memang sangat manis (maneh), berkulit sawo matang, tubuh ramping, rambut ikal dan bergigi indah. Suatu hari ia diajak orang main  piasan Aceh “Mob-mob” nama zaman itu. Ismail yang baru berusia 17 tahun masa itu langsung setuju. Ia sendiri memang suka kesenian tersebut.

Dalam grup mob-mob itu  Ismail  menjadi penari perempuan,  ada seorang pelawak dan seorang Syeh yang gosok biola. Jika di make up  dan berbusana perempuan , Ismail sangat mirip dengan seorang gadis yang jelita. Apalagi setelah menyambung rambut palsu,  pakai celak mata, lipstick dan gelang kaki. Jika tersenyum sangat manis, sebab zaman itu orang suka menggunakan sarung gigi emas.

Menurut  Ismail, sekitar tahun 1060 -an itu, grub lawak mobmob itu sangat banyak, terutama  Pidie, Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur. Tiap tahun dipertandingkan. Siapa yang juara dapat sepeda zaman itu. Ada juga yang dapat lembu. Masyarakat sangat menyukai mob-mob. Dalam  mob-mob biola Aceh tersebut ada syair-syair cinta, pantun dan petuah-petuah agama.

Syeh Maneh  menuturkan kalau grupnya sering menang, di samping Syeh kami pandai sekali gosok biola, beliau juga bersuara indah bila mendendangkan lagu. “Pelawak kami juga sangat lucu. Saya  yang meniru perempuan juga memiliki kemampuan untuk bersuara perempuan. Orang memanggil saya Nyak Maneh,” kata H. Ismail ketika diwawancarai Gema  Baiturrahman, Senin lalu.

Dosen IAIN Langsa, Dr. H. Ahmad Fauzi Hasan, MA dalam akun-FB-nya menulis; sekitar tahun 60-an saya menonton biola Aceh (mob-mob) di Langsa. Memang sangat indah dan terhibur. Ada lucu, ada pelajaran dan memang sangat hebat perempuan yang dilakonkan  Nyak Maneh. Masyarakat menyebutkan; Nyak maneh kupruk-kupruk.

Menurut Ahmad Fauzi, Nyak Maneh mempunyai karakter tersendiri dalam berlakon, penuh kemanjaan dan genit. Di antara pantun yang masih saya ingat, Syeh Seuhak (Ishak) sambil gosok biola berpantun; Ta ek u gle, ta tron di glee, meuteumeng gajah meukude. “Pue nyan ayah?” Tanya Syeh Kade (Abdul Qadir), Syeh Seuhak sebagai ayah menjawab :”Boh panaih hai”. “Kupike di lon gajah beutoi-beutoi”. Sambung Syeh Kade yang dalam lakon itu sebagai suami Nyak maneh.

Sulit kita gambarkan kalau tidak kita saksikan, sebab seluruh lakon itu dituturkan dalam bahasa Aceh yang lucu. Mungkin sekarang tinggal kenangan tidak ada lagi generasi baru yang melanjutkan; Biola Aceh (mobmob). Nasibnya sama dengan “Sandiwara Aceh” yang juga tak ada lagi.

Menurut  pengamatan sosiolog; mundurnya kesenian tradisional Aceh seperti biola dan sandiwara itu ada beberapa sebab. Pertama  munculnya televisi di Aceh era tahun 1970-an. Dengan ada televisi, hiburan sudah ada di rumah. Kedua ada kemungkinan, ada sebagian ulama yang mengharamkan musik biola dan laki-laki memakai pakaian wanita. Ada kemungkinan yang ketiga, yakni kondisi Aceh yang kurang aman ketika itu.

Syeh Maneh, terakhir tampil di publik adalah tahun 1984  di panggung Pekan Kebudayaan Aceh (PKA-3) di Banda Aceh. Waktu itu bukan tunang tetapi eksibisi. Beliau sudah menjadi Syeh Maneh, bukan lagi penari. Penari dan lawak orang lain yang masih muda. Setelah itu beliau menyimpan biolanya.

Setelah puas dalam berkesenian, Syeh Maneh menjadi penjual obat kaki lima. Beliau keliling seluruh Aceh, bahkan Medan. Untuk menarik penonton beliau gosok beola dan bersyair. Sekejap saja orang sudah penuh mengelilinginya. Beliau sering menjual jamu yang diracik sendiri yakni Jamu Cap “Kupiah Meukutop dan Rencong Aceh” untuk sakit pinggang, meningkatkan vitalitas lelaki dan beberapa penyakit lain. “Jual obat lebih kurang 10 tahun, dari 1971 sampai 1981,” ujar Syeh Maneh, ayah dari empat putra-putri, Jamalul Hakim, Herawati, Anwar Fuadi dan Rahmi Fajrianti, hasil kongsi hidup dengan Hj. Fauziah Affan yang selalu setia mendampinginya dalam suka dan duka.

Menjadi Imam Kampung dan Keuchik

Setelah berhenti dari kesenian, beliau menetap di kampungnya Pulo U. “Saya diangkat oleh masyarakat menjadi Imam Gampong merangkap sekretaris Keuchik.(1983—1993). Setelah periode keuchik habis, saya dipilih menjadi Keuchik Gampong Pulo U.(1993 –2002). Setelah selesai mengabdi di kampung kelahiran, saya hijrah ke Banda Aceh, tepatnya di Asrama PHB Bandar Baru,” ceritanya.

“Ke manapun saya pergi, yang saya cari adalah masjid. Saya selalu shalat berjamaah. Masyarakat PHB mengangkat saya menjadi Imam Syik di Masjid Ar-Rahman.  Selain itu, saya dan isteri juga jualan di depan SD Persit. Alhamdulillah dari usaha jualan itu kami diberi rezeki yang banyak  oleh Allah SWT. Dengan hasil jualan kelontong tersebut, saya dan isteri Naik Haji tahun 2011 yang lalu. Kami juga sudah punya rumah sendiri walaupun sederhana.

Syeh Maneh seperti dilupakan oleh Panitia PKA dari masa ke masa. Beliau satu-satunya seniman Aceh yang belum mendapat Anugerah Seni. Sangat pantas beliau diberikan  penghargaan tersebut. Beliau riil sebagai sebagai seniman, bukan direkayasa. Semoga Panitia PKA-7 segera menghargainya.(Ameer Hamzah)

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!