Ummi Rostina Dewi Pola Asuh Anak dalam Dimensi Taubat

Gema JUMAT, 17 JUNI 2016

Suasana panas di siang hari tak memudarkan perjuangan ibadah dalam bulan suci Ramadhan. Terlihat seorang wanita berbalut mukena putih menyinari raut wajah yang teduh penuh dengan cahaya ilmu. Dari ruang utama rumah yang biasanya digunakan untuk majelis ilmu yang diajarkannya, Ummi Rostina Dewi memberitakan tentang pola asuh anak berbasis taubat.

Perempuan berusia 50 tahun ini telah mensyiarkan ajaran islamsejak tahun 2009. Dia sebelumnya menuntut ilmu pada seorang guru bernama Tgk. Asyek Ma’in alumni Dayah Mudi Mesra Samalanga, mulai 1986 sampai 2000. Saat ini, Ummi Rostina mengajar ngaji (guree seumeubeut) dan memimpin Dayah atau Pesantren Zawiyah ‘Arafatul ‘Arsyi, sesuai wasiat gurunya selepas menuntut ilmu dalam kurun waktu 23 tahun lamanya.

“Ramadhan merupakan bulan maghfirah, waktu mustajab dalam berdo’a. , bulan yang penuh berkah, bulan taubat dan merupakan bulan renungan akan keterbatasan diri untuk mencapai amal yang sebanyak-banyaknya”, Demikianlah dialog pembuka diikuti senyuman penuh makna dari sosok Syaikhah yang mendalami ilmu tauhid dan tasawuf ini.

Sambil merapikan tikar duduk yang berulangkali diganggu cucunya. Ia melanjutkan bahwa renungan dan taubat merupakan pokok dari diterimanya setiap pelaksanaan ibadah yang dilakukan manusia. Kesadaran taubat oleh manusia sangat susah dicapai, karena masih diliputi nafsu yang bergejolak dalam jiwa. “Salah satu fenomena terkait kesadaran taubat yang dapat menjadi tadabbur sekalian kita adalah disorientasi pemahaman awam para orang tua dalam pola asuh pendidikan keluarga, sehingga terbentuklah anak-anak yang berperilaku amoral” tegasnya.

Wanita paruh baya yang akrab disapa Ummi ini memiliki pandangan berbeda tentang konteks pola asuh keluarga yang dibangun atas dasar taubat suami istri selaku pembina dan pelaku rumah tangga dalam mendidik anak. “Ketika manusia telah kembali ke asal hakikat filsafat ketauhidan maka Allah menjanjikan kebaikan dan kemudahan kepadanya dalam hal apapun. Kebaikan disini termasuk pula kebaikan keturunan yang dihasilkan. Inti ketqwaan bukan hanya menyambangi  hubungan manusia dengan tuhannya akan tetapi juga akan memperbaiki kehidupan dalam hubungannya dengan sesama makhluk”, ujar nenek dari dua cucu ini.

Menurutnya, realitas sosial yang terjadi sekarang, banyak orang tua yang sibuk mengasuh anak dengan patokan berpendidikan tinggi tanpa pengawasan dan terkesan memaksa anak untuk menjadi baik hanya karena berpendidikan akademis. Esensi keberhasilan, kebanggaan dan kebahagiaan yang menjadi mainset kebanyakan orang tua saat ini diukur dari tercukupinya berbagai kebutuhan financial termasuk dalam pemenuhan kebutuhan pendidikan formal sebagai salah satu bentuk nafsu, sehingga perhatian yang merupakan salah satu wujud dari terdorongnya upaya doktrin kebaikan dalam diri anak terabaikan karena terlalu sibuk bekerja.

Disisi lain, kondisi ini diperparah dengan kurangnya pemahaman orang tua tentang ilmu agama, sehingga kemerosotan moral yang dilakukan anak dianggap kesalahan total yang bersumber dari anak. “Padahal, orang tua sebagai panutan untuk anak-anaknya merupakan pelaku dosa yang tidak menyadari kesalahan masa lalu dalam proses perkembangan anak dimulai sejak dalam kandungan. Jika ditinjau lebih lanjut, asal ataupun akar dari baik buruknya akhlak dan perilaku anak bergantung pada pola dasar asuhan sejak dalam kandungan. Kandungan yang dimaksud bukan hanya kandungan ibu saja, akan tetapi juga kandungan ayah yang memproduksi benih -benih anak dalam sulbi secara usul”, ungkap ibu dari tiga anak ini.

Himbauan Ummi kepada para orang tua, hendaklah mawas diri terhadap tindakan-tindakan keseharian anak yang menyimpang, “Perbuatan menyimpang anak terhukum taubat orang tua yang telah dahulu menzhaliminya, karena anak cerminan kedua orang tuanya. Oleh karena itu, upaya pembersihan atau pensuciam rahim dan sulbi orang tua guna melahirkan anak sholeh dan sholehah dapat diwujudkan dengan kesadaran taubat keduanya,” pungkas Ummi yang juga telah diijazahkan oleh seorang ulama Aceh, Abuya Djamaludin Waly sebagai pimpinan tawajoh putri se-Aceh dan dimanapun yang dibutuhkan pada tahun 2012 ini. (Anwar Ridha)

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!