Alam Tanggung Jawab Kita

GEMA JUMAT, 26 OKTOBER 2018

Aceh memiliki kawasan hutan yang luasnya sekitar 3.557.928 hektar yang terbagi kepada lima awasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam, hutan lindung, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, dan hutan yang dapat dikonversi. Luas tersebut berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor SK.103/MenLHK-II/2015 tentang Perubahan Atas Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.865/Menhut-II/2014 tanggal 29 September 2014 tentang Kawasan Hutan dan Konservasi Perairan Provinsi Aceh.

Direkur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Provinsi Aceh Muhammad Nur, mengatakan, hampir seluruh hutan di daerah Aceh mengalami persoalan lingkungan yang tidak jauh berbeda. Seperti kawasan hutan Tangse, Pidie dan Seulawah, Aceh Besar, masyarakat di sana  yang awalnya mengkapling lahan untuk bertani mulai merambah hutan untuk membangun pemukiman yang sekarang semakin tumbuh.

Kemudian, di Aceh Selatan terjadi peralihan kawasan produksi pala berubah menjadi perkebunan sawit dan pertambangan emas emas tanpa izin (PETI). Adapun di Nagan Raya, kawasan yang dikenal sebagai sumber produksi air yang berasal dari Krueng Woyla, terjadi pertambangan ilegal serta pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit. Aceh Tamiang, wilayah pertaniannya berubah menjadi kawasan industri semen dan perkebunan sawit. Pidie, area pengembalaan ternak di sana kemudian berpindah ke pemilik lain yang merencanakan lahan itu untuk mendirikan pabrik tambang.

“Sejak 2009-2018 bertambah pertambanagan ilegal sudah menambah daftar masalah lingkungan,” terangnya kepada Gema Baiturrahman di Banda Aceh.

Selanjutnya, di Aceh Jaya, selain terjadinya ilegal logging, sudah mulai ada pembukaan perkebunan kelapa sawit. Di Aceh Besar terdapat penambangan liar, sementara itu aktivitas galian C tergolong banyak. Sedangkan di Langsa, hutan lindung di sana mulai dijadikan lokasi pembuangan sampah oleh masyarakat dan bisnis. Sementara di Aceh Utara, persoalannya berkaitan pembukaan perkebunan kelapa sawit.

“Kita menyayangkan banyak pemanfaatan lahan tanpa mengedepankan kelestarian lingkungan. Misalnya pengerukan lahan demi kepentingan sektor pertambangan yang kemudian dibiarkan begitu saja tanpa upaya melakukan reklamasi,” ujarnya.

“Kegiatan  reklamasi itu belum ada, baik pertambangan yang masih melakukan produksi maupun yang sudah berakhir,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, menyempitnya area hutan mengakibatkan rentannya terjadi banjir dan longsor. Saat hujan tanah tidak sanggup menampung debit air sehingga menyebabkan longsor. Sementara saat musim hujan terjadinya kekeringan akibat tidak adanya penyimpanan debit air.

Kata Muhammad Nur, seharusnya pelaku usaha industri atau pihak terkait menerapkan pola tebang tanam. Kemudian, pembangunan-pembangunan infrastruktur tidak dilakukan di daerah yang memang rawan banjir atau longsor.

“Banjir selama ini karena ulah manusia. Yang paling merasakannya masyarakat yang tinggal di dataran rendah,” paparnya.

Aceh Sebagai Model

Ia menjelaskan Aceh yang menerapkan syariat Islam harus menjadi contoh teladan terhadap pengelolaan hutan. Pemerintah patutnya peka, tertib anggaran, dan mengambil kebijakan yang tepat agar hutan Aceh tetap lestari. Apalagi sumber perekonomian masyarakat berasal dari sektor pertanian yang erat kaitannya dengan sumber daya lingkungan. Kerusakan ekosistem dapat merusak sumber air sebagai yang berdampak kepada pertanian masyarakat, flora dan fauna.

Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Dr Tgk H Abdul Gani Isa SH MA, menjelaskan, seluruh makhluk yang terdapat di langit, bumi, laut, dan gunung adalah makhluk Allah. Seluruh makhluk Allah bertasbih, hanya saja manusia tidak mengerti bahasa mereka. “Kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga alam,” sambungnya.

Allah berfirman dalam Alquran surat Ar-Rum ayat 41,”Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Katanya, alam bisa mendatangkan rahmat apabila manusia mau merawatnya. Islam mengajarkan manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Tuntutan dalam Islam adalah menjaga kebersihan lahiriah dan bathiniah. Kondisi lingkungan yang semrawutan, kota yang kotor membuat pikiran orang sekitarnya tidak jernih. Seyogianya setiap orang menjaga lingkungan, terutama lingkungan sendiri.

Allah mendesain alam yang indah sehingga berdosa bagi orang yang merusaknya. Kerusakan alam berdampak kepada ekosistem yang hidup di dalamnya. Misalnya, ketika salah satu bagian tubuh manusia rusak akan menganggu bagian tubuh lain.  “Maka tidak heran kalau sesekali alam ini murka (karena manusia tidak menjaganya),” ujarnya.

Ia mengajak untuk masyarakat mengintrospeksi diri untuk menjaga lingkungan agar alam tidak murka. Pencegahan penyalahgunaan narkoba, perzinaan, dan meminum minuman keras adalah juga bagian dari menjaga lingkungan.

“Allah memberikan manusia kemampuan untuk mengelola alam. Tapi ketika alam murka tidak ada yang mampu membendungnya,” lanjutnya.

Ditambahkan, manusia bisa menjelaskan penyebabnya terjadi bencana alam secara ilmiah, seperti gempa yang disebabkan oleh pergeseran lempengan bumi. Tapi ia menegaskan bahwa manusia tidak boleh lupa bahwa ada Allah yang mengaturnya. Zulfurqan

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!