Apresiasi kepada Para Pahlawan Aceh

GEMA JUMAT, 16 NOVEMBER 2018

Pada era peperangan melawan penjajah, kegigihan masyarakat Aceh mempertahankan tanah airnya sangat membanggakan.  Aceh tidak pernah dikuasai sepenuhnya oleh tentara penjajah, contoh penjajah dari Belanda. Bahkan Jenderal Kohler yang berasal Belanda berhasil dibunuh oleh pahlawan Aceh. Atas jasa mereka terdahulu sudah sepantasnya para pahlawan Aceh mendapat posisi dalam tatanan sejarah.

Namun demikian, dokumen sejarah perlawanan dan tokoh pejuang Aceh sulit ditemukan kini. Dokumen sejarah sang tokoh sangat diperlukan agar nama mereka ditabalkan ke dalam daftar pahlawan nasional. Dari sekian banyak tokoh pejuang Aceh, hanya delapan tokoh yang masuk ke dalam daftar pahlawan nasional. Mereka adalah Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, Teungku Chik di Tiro, Teuku Umar, Teuku Nyak Arif, Sultan Iskandar Muda, Teuku Muhammad Hasan, dan Laksamana Malahayati.

“Kita sulit mendapatkan dokumen sejarah sang tokoh sebagai referensi untuk dimasukkan namanya ke dalam daftar pahlawan nasional,” ujar Kepala Dinas Sosial (Dinsos) Aceh Drs Al-Hudri MM kepada Gema Baiturrahman, Rabu (14/11) di BandaAceh.

Anehnya dokumentasi sejarah peperangan Aceh lebih banyak ditemukan di museum Belanda. Kata Al-Hudri, salah satu dugaan dokumen sulit ditemukan karena pejuang dulu benar-benar ikhlas membela Aceh. Padahal dokumentasi yang mencakup data diri sang tokoh serta bagaimana dirinya berjuang sangat diperlukan sebagai bukti historis perjuangan mereka.

Melihat fenomena tersebut, menurut Al-Hudri, masyarakat Aceh perlu membudayakan menulis agar menjadi peninggalan generasi ke depan.

Al-Hudri menambahkan bahwa ada puluhan tokoh pejuang Aceh yang bisa masuk daftar pahlawan nasional. Akan tetapi, proses pengusulannya sulit karena kurangnya referensi. Bahkan bila dilakukan kajian dan penelitian seluruh Aceh akan semakin banyak muncul tokoh-tokoh pejuang lainnya.

Bentuk penghormatan Pemerintah Aceh selama ini kepada ahli waris para pahlawan Aceh adalah dengan memberikan santunan melalui Dinsos. “Jangan dilihat dari jumlahnya, namanya saja bungoeng jaroe, tapi bagaimana kita mengapresiasi jasa para pahlawan. Tanpa mereka (pahlawan) mungkin kita tidak akan seperti ini,” ujar Al-Hudri.

Al-Hudri menambahkan, generasi sekarang tidak boleh lupa jasa para pahlawan. Salah satu caranya yakni dengan melestarikan kebudayaan sebagai identitas. Kalau budaya hilang maka Aceh kehilangan identitasnya.

Menanamkan patriotisme

Para pemuda harus berada pada garda terdepan suatu bangsa. Pemuda memiliki potensi menjadi pahlawan zaman sekarang. Menurut peraih juara 3 Duta Bahasa tingkat nasional asal Aceh, Al-Muarif, pahlawan dapat dimaknai sebagai upaya membela negara dengan kemampuan dan kapasitas masing-masing. Presiden Soekarno pernah berkata, beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.

“Hal yang paling efektif membentuk jiwa patriotisme adalah dengan memberi lapangan dan kesempatan kepada para pemuda dalam menginterpretasikan sikap kepatriotismenya,” pungkasnya kepada Tabloid Gema Baiturrahman.

Pemuda perlu menyadari bahwa sikap kepatriotisme identiknya dengan pemuda yang rela berkorban kepada bangsanya. Patriotisme paling efektif dibentuk sejak usia dini. Contohnya, pemuda mulai melatih dirinya dalam menyelesaikan kewajiban dan jujur dalam bertindak.

Katanya, membela negara merupakan kewajiban dari setiap warga negara seperti termaktub dalam Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 22 ayat 3. Dalam UUD disebutkan bela negara sama halnya menjaga identitas negara. Artinya, bila warga negara turut membela negaranya itu juga bermakna ia telah juga menjaga identitas dirinya.

Ia menjelaskan bahwa pengaruh pemuda terhadap kemajuan bangsa. Pemuda merupakan salah satu tolok ukur kualitas suatu bangsa dalam menyiapkan generasi pemuda menghadapi globalisasi yang dipenuhi tantangan serta peluang.

“Pemuda saat ini memiliki tantangan bersaing, bagaimana mereka peduli akan sesame, serta bersikap kritis dan aktif akan lingkungan sekitar,” imbuhnya. Zulfurqan

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!