Guru Profesi Terhormat

GEMA JUMAT, 30 NOVEMBER 2018

Akademisi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry (UIN Ar-Raniry) Fuad Mardhatillah, mengatakan, perguruan tinggi seharusnya memainkan posisi sentral untuk melahirkan calon guru yang andal. Namun persoalannya, kadang-kadang perguruan tinggi belum cukup andal bagaimana memproduksi guru yang andal. Bisa saja warisan masa lalu, yakni sistem belajar “tradisional” sehingga lulusan sekolah yang masuk pendidikan guru di perguruan tinggi kompetensinya menjadi guru lemah.

“Kita terkadang terjebak pada pola belajar yang tidak eksploratif. Guru cara mengajarnya hafalan, dikte, mereka tidak mengekplorasi apa peran keguruan,” paparnya.

Ia menjelaskan, pada masa orde baru sampai 1998 tidak ada proses modernisasi perguruan. Saat itu, ketika direkrut guru tidak ada mekanisme bertahap untuk menguji kapasitas guru, wawasan keguruan, dan minat mereka terhadap profesi guru. Mereka yang menjadi guru kala itu tidak diuji sebelum adanya Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 yang kemudian guru dianggap sebagai profesi.

“Sekarang yang kita terima input (mahasiswa pendidikan guru) di perguruan tinggi mereka sangat lemah minatnya, bakat, tidak tahu tentang peran keguruan itu apa,” lanjutnya.

Menurut Fuad, kemauan membaca, berpikir, berdiskusi, berdebat, sangat rendah di perguruan tinggi. Rendahnya kemampuan maupun kemauan mahasiswa keguruan menjadi guru menyulitkan perguruan tinggi merekayasa mereka menjadi guru andal. Karenanya, untuk segera mendapatkan guru-guru andal masih sulit kecuali mendapatkan input mahasiswa yang bagus, peka terhadap lingkungan, dan andal.

Ia memaparkan bahwa pendidikan guru harus khusus, spesifik, dengan segala kompetensi yang dimiliki mahasiswa calon guru, tetapi prosesnya masih perlu waktu. Guru ideal memiliki kompetensi pedagogik, manajerial, sosial, personal, dan profesional. Guru harus tahu apa yang mereka kuasai dan apa yang harus mereka lakukan. “Guru tidak dapat diberikan kepada mereka yang tidak mencintai guru,” lanjutnya.

Guru sepatutnya mampu berperan sebagai narasumber, inspirator, mediator, serta mampu menguasai teknologi agar proses belajar mengajar lebih efektif. Ketika mengajar sosok guru tidak boleh seperti antara majikan dan anak buah, melainkan mampu membangun hubungan seperti ayah dan anak. Sayangnya, sekarang kita melihat hubungan antara murid dan guru memiliki jarak.

Pemerintah perlu menganggarkan dana memadai membangun kapasitas guru seperti kemampuan berinteraksin, manajemen kelas, melalui training dan workshop. Banyak hal yang perlu dibenahi melalui kedua kegiatan tersebut. “Terjadinya peningkatan tajam kualitas guru dalam waktu dekat masih sebatas harapan, melainkan 10 tahun ke depa,” imbuhnya.

Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh, Tabrani Yunis, mengatakan, guru adalah ujung tombak perubahan. Idealnya seorang guru merupakan orang yang memiliki keterampilan mendidik, berilmu, serta kepribadian dan akhlak mulia.

Guru memiliki tanggung jawab menstransfer pengetahuannya sehingga peserta didik dari tidak tahu menjadi tahu. Guru juga sebagai sosok teladan yang mengajarkan membaca, menulis, dan mengembangkan ilmu kepada para murid.

Sebagai pencerah guru sepatutnya mengajarkan anak muridnya tentang keagungan Allah. Karena itu guru menjadi profesi terhormat, mulia, yang seharusnya mendapatkan perhatian lebih dibandingkan profesi lain.

“Menghormati guru dengan menghargai bagaimana guru mengajar, serta mengapresiasi mereka. Sekurang-kurang menghormati guru adalah dengan mengucapkan terima kasih,” terangnya.

Katanya, kerja sama guru, wali murid, dan masyarakat sangat penting dalam mengembangkan pendidikan. Akan tetapi, sekarang masyarakat mulai bersikap apatis terhadap kenakalan remaja. “Masyarakat sudah apatis. Kenakalan anak tidak lagi diawasi,” imbuhnya. Zulfurqan

 

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!