Hijrah dari Sistem Konvensional

GEMA JUMAT, 14 SEPTEMBER 2018

Islam telah mengatur sistem perekonomian umatnya agar membawa keberkahan. Akan tetapi, sistem perekonomian konvensional masih memiliki daya tarik kuat sebab diiming-imingi mendatangkan keuntungan yang besar dibandingkan sistem syariah.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Universitas Islam Negeri (FEBI UIN) Ar-Raniry Dr Zaky Fuad Chalil MAg mengatakan, umat Islam secara umum mengetahui bahwa sistem ekonomi konvensional sarat riba. “Persoalan sekarang bukan lagi pada tataran keilmuan, tetapi soal keimanan, yakin tidak kita kepada Islam. Seharusnya kita sami’na wa atha’na. Sudah saatnya kita berhijrah. Pindah tabungan dari bank konvensional ke bank syariah,” ungkapnya kepada Gema Baiturrahman.

Sistem perekonomian konvensional sudah merajai ratusan tahun lamanya. Sementara perekenomian syariah baru diperkenalkan kembali pada tahun 1970-an. Turki menjadi salah satu negara yang kini menerapkan sistem syariah dan terbukti membangkitkan perekonomian mereka.

Ia menjelaskan, Aceh sudah memiliki bank syariah milik daerah. Seyogianya masyarakat dapat beralih dari bank konvensional. Meskipun demikian, ia mengajak masyarakat untuk memahami sejumlah kekurangan yang masih mereka alami. Sebenarnya itu hal lumrah sebab konversinya bank tersebut terbilang baru.

“Orang Aceh yang umumnya Islam banyak menggunakan bank konvensional. Sayangnya begitulah kenyataannya,” pungkasnya.

Lembaga keuangan syariah mampu membawa keberkahan. Sementara sistem konvensional yang sarat riba sudah jelas diharamkan Allah. Dalam Surat Al-Baqarah ayat 275 Allah berfirman,”Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba”.

Sepatutnya, para pejabat pemerintahan, menggunakan bank syariah untuk menyimpan uang pembangunan daerah maupun uang pribadi. Bank syariah sendiri akan sulit menutupi kekurangannya bila tidak memeroleh dukungan optimal. Oleh karenanya, tidak perlu heran jika bank syariah memberikan pinjaman sedikit kepada nasabah sebab uang yang dikelolanya mungkin tidak sebesar bank konvensional.

“Jangan sampai menyimpan uang pembangunan daerah di bank konvensional agar bisa menikmati bunganya, Islam sendiri menjelaskan bahwa uang tidak boleh diperanakkan, melainkan sebagai alat pembayaran,” tegasnya.

Ruginya Mengonsumsi Riba

Hal senada disampaikan Wakil Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Tgk H Faisal Ali. Ia menerangkan bahwa kehidupan di dunia untuk beribadah kepada Allah. Ibadah harus memenuhi ketentuan agar bernilai di mata Allah. “Nah, apabila kita mengonsumsi sesuatu yang haram seperti riba, maka ibadah tidak diterima Allah, doa tidak makbul, dan perilaku kita akan jahat,” lanjutnya yang akrab disapa Lem Faisal.

Makanan hasil riba yang dikonsumsi manusia akan menjadi darah dan daging. Sebab ada kandungan haram dalam tubuh maka manusia sulit membedakan kebenaran dan kesalahan, haknya dan hak orang lain. Itulah imbas pengonsumsi barang haram.

Kalau seseorang muncul dari makanan haram, maka nerakalah yang layak baginya. Untuk menjalani kehidupan yang diliputi keberkahan maka mesti jauh dari riba. Memang sebelumnya sistem ekonomi masyarakat Aceh tidak terlepas dari riba. Sedangkan sekarang lembaga keuangan syariah sudah hadir. Artinya, tidak ada lagi alasan bagi masyarakat terlibat dari sistem ekonomi konvensional.

Ia mengatakan sangat memungkinkan mensyariahkan seluruh lembaga keuangan konvensional. Semua itu asalkan ada kemauan dari stakeholder untuk mendorong, menyemangati, mencari solusi untuk menerapkan sistem syariah. Diakui, mensyariahkan lembaga keunganan tidak mudah serta membutuhkan waktu.

“Karena kita sudah ada bank syariah, maka masyarakat Aceh yang menyimpan uang di bank syariah. Untuk apa memiliki banyak uang jika tidak berkah,” tutupnya. Zulfurqan

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!