Kiprah Ulama dalam Pembangunan Umat

1Gema JUMAT, 29 JULI 2016

Para ulama adalah kelompok orang yang ikut menentukan baik-buruknya suatu bangsa. Jika ulama memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi serta akhlaqul karimah maka penguasa dan umat secara keseluruhan juga akan menjadi baik. Ulama tentu diharapkan selalau berperan aktif dalam memberikan arahan pada kehidupan umat dalam berbagai macam bidang kehidupannya, sekaligus memberikan panutan dan keteladanan, baik bagi para penguasa maupun umat secara keseluruhan. Sebaliknya, jika ulama rusak (banyak ulama su’) maka akan rusak pula penguasa dan bangsanya.

Dalam kitab Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali menulis: “Sesungguhnya, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasa; dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama; dan kerusakan ulama disebabkan oleh karena cinta harta dan cinta kedudukan; dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat, apalagi penguasanya.”

Kitab Ihya’ Ulumiddinmenjadi saksi sejarah yang penting bagaimana peranan ulama dalam kebangkitan umat Islam pada zaman Perang Salib, sebagaimana diungkapkan Dr Majid Irsan al-Kilani dalam bukunya, Hakadza Dhahara Jiilu Shalahuddin wa-Hakadza `Adat al-Quds. Ketika kekuasaan politik dan kemajuan teknologi yang dimiliki umat Islam tidak mampu lagi menahan keterpurukan, mereka dijajah dan ditindas, bahkan Kota Yerusalem pun jatuh ke Pasukan Salib (1099 M).

Para ulama yang dimotori oleh Syekh Abdul Qadir al-Jilani dan lain-lain berhasil membangun madrasah sebagai kekuatan sentral untuk melahirkan generasi baru yang hebat, yaitu generasi Shalahuddin. Di Indonesia pun (Adian Husaini: 2015) sejarah telah menunjukkan peranan sentral para ulama dalam melawan penjajahan dan mempertahankan serta mengisi kemerdekaan.

Bahkan, perumusan Konstitusi Negara RI, UUD 1945, yang memberikan penegasan bahwa negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhid), juga pentingnya kemanusiaan dibangun di atas landasan konsep adil dan beradab, serta rakyat yang dipimpin oleh hikmah dan kebijaksanaan, sampai tujuan mewujudkan keadilan sosial, tak lepas dari peran para ulama, seperti KH Wahid Hasyim, Haji Agus Salim, Kahar Muzakkir, dan Abikoesno Tjokrosoejoso.

Begitu juga ketika penjajah akan kembali lagi, para ulama di bawah kepemimpinan KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa: wajib hukumnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Tentunya terlalu banyak jika disebutkan satu per satu, peranan ulama dalam mengawal perjalanan NKRI sehingga menjadi “baldatun thayyibatun wa-rabbun ghafur”.

Lalu, bagaimana peran ulama dalam Pembangunan Aceh? Sejarah turut mencatat, ulama dan umara di Aceh bagai dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, menyatu padu, saling melengkapi.

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Provinsi Aceh, H. Faisal Ali mengatakan MPU memiliki tugas dan tanggung jawab dalam pembangunan moral dan akidah masyarakat. Karenanya, keberadaan ulama harus bersinergi dengan pemimpin (Umara) dalam membangun daerah.

“Secanggih dan se-modern apapun dunia ini, peran dan fungsi ulama tak bisa tergantikan dalam membangun akidah dan moralitas masyarakat, terlebih di Aceh yang merupakan daerah bersyariat,” jelas Tgk H Faisal Ali pada acara Eksistensi Peran Ulama Dalam Pembangunan Daerah yang dilaksanakan MPU Aceh di Aula Hotel Bandar Khalifah, Idi Rayeuk Kabupaten Aceh Timur, beberapa waktu lalu.

Menurut Lem Faisal, pentingnya eksistensi ulama di tengah kehidupan umat secara otomatis membawa konsekuensi bahwa hidup matinya umat sangat tergantung bagaimana ulama dan begitu pula sebaliknya. Karenanya, umat Islam harus bisa mengemban tugas berat di tengah kehidupan modern yang kerap bersingunggan dengan  budaya hidup menjurus pendangkalan akidah.

Peran ulama sangat melekat dalam meneguhkan moralitas masyarakat, akidah, persatuan dan kesatuan daerah. Ulama juga berkepentingan untuk mempersatukan masyarakat sehingga perdamaian yang telah dirajut dapat terawat secara berkelanjutan dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat sesuai dengan nilai-nilai religius.

Maka sangat penting bagi ulama meningkatkan dan menumbuhkan nilai nasionalisme di tengah kehidupan masyarakat. Karena menurutnya, ulama memiliki peran strategis dalam mencegah dan mengawal masuk dan berkembangnya paham-paham sesat di tengah-tengah kehidupan umat di Aceh. [dbs/marmus]

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!