Masih Perlukah Aturan Jam Malam?

GEMA JUMAT, 6 APRIL2018

Masih ingat dengan keinginan Pemerintah kota Banda Aceh menerapkan kebijakan jam malam?.  Jauh sebelum ditemukan kasus mahasiswi yang terlibat dalam PSK online di beberapa daerah seperti  Banda Aceh, Meulaboh dan Kota Lhokseumawe. Pada Medio 2015 lalu, Walikota Banda Aceh, saat itu dijabat oleh H. Illiza Saaduddin Jamal, SE ingin menerapkan jam malam bagi perempuan.

Apa yang terjadi kemudian?  Pro kontra pun terjadi di media sosial. Tidak sedikit yang menghujat rencana aturan tersebut dan ada juga yang mendukung untuk mencegah perbuatan negatif. Perdebatan pun hingga merembet pada persoalan lain seperti persediaan air bersih hingga persoalan kesejahteraan dan pelayanan publik lainnya.

Menyikapi hal ini, Walikota Banda Aceh, Illiza Saaduddin Djamal saat itu angkat bicara. Illiza menyebutkan aturan tersebut sebenarnya bermula instruksi Gubernur Aceh. Gubernur menginstruksikan pada seluruh kabupaten/kota agar perempuan tidak keluar rumah di atas pukul 21.00 WIB, kecuali bersama muhrim atau keluarga.

“Selama ini ada di internet ada yang menghujat Banda Aceh, sebenarnya itu semua informasi sesat dan menyesatkan, ini aturan yang dibuat oleh Gubernur,,” kata Illiza, Rabu (3/6) di Banda Aceh sebagaimana dikutip sejumlah media saat itu.

Saat itu Walikota meminta semua pihak agar tidak menilai seluruh aturan yang ada di Banda Aceh dari luar. Dia mempersilakan datang ke Banda Aceh untuk melihat dan mempelajari secara langsung apa yang terjadi, tidak hanya menilai dari jauh.

Akan tetapi, kekeliruan tersebut sekarang sudah diperbaiki dan pemberlakuan jam malam tersebut dikhususkan untuk pekerja perempuan. Ini bagian dari upaya perlindungan pekerja perempuan tidak diperbolehkan mempekerjakan wanita di atas pukul 23.00 WIB.

Oleh karena itu, Illiza meminta kepada seluruh pengusaha di Banda Aceh agar mematuhi aturan tersebut. Baik pembatasan jam kerja bagi perempuan hingga penggunaan pakaian yang sesuai dengan syariat Islam. “Ini terutama pengusaha kafe, temat hiburan, tempat wisata harus mematuhinya, termasuk sisi pakaian yang sesuai syariat,” ujarnya saat itu.

Dikawal Dengan Regulasi

Sementara itu, Imum Gampong Punge Jurong Tgk. Basri M Yahya mengatakan, maju mundurnya negara ditentukan dari generasi penerus. Baginya, anak dan remaja putra-putri merupakan investasi bagi kelangsungan bangsa dan negara.

Melihat perkembangan generasi muda dan remaja di Aceh begitu memprihatinkan. Temuan kasus kekerasan pada anak masih kerap terjadi, seperti pelecehan seksual dan kekerasan anak.

Pada malam hari masih terlihat anak di bawah umur berkeliaran seperti tak terkendali. Kemana kontrol orang tua, dinas terkait juga dimintana melakukan razia menekan anak keluyuran malam hari.

Belum lagi persoalan pecandu obat terlarang dan ngelem terus meningkat tiap tahunnya. Sudah saatnya pemkot melakukan tindakan nyata dalam program aksi yang lebih konkret. “Sebaiknya segera berlakukan jam malam bagi anak di bawah umur,”ujarnya.

Perlindungan pada anak tambahnya harus dilakukan lintas instansi. Namun sepertinya  sulit untuk melakukan koordinasi dalam implementasi program jika hanya dilihat tapi tak dijalankan.

Disamping itu melalui lembaga pendidikan dapat memberikan penyadaran pada org tua akan pentingnya perlindungan anak. “Saya yakin kalau ada regulasi melarang anak keluar malam tanpa pendampingan orang tua maka dapat menekan kejahatan terhadap anak dan dapat menekan penggunaan obat terlarang dan ngelem,” tutupnya. (marmus)

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!