Membangkitkan Motivasi Berqurban

GEMA JUMAT, 27 JULI 2018

Qurban adalah suatu ibadah yang sangat dicintai oleh Allah SWT, yang dilaksanakan mulai tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah. Secara spiritual, semangat berqurban mencerminkan ketundukan dan keridhoan terhadap segala ketentuan-Nya. Diharapkan, dampak dari ibadah qurban ini akan melahirkan pribadi yang memiliki komitmen dan semangat untuk mengorbankan segala yang dimiliki, demi tegaknya kalimat Allah di muka bumi.

Al-Quran dalam surat al-Kautsar ayat kedua menegaskan bahwa menyembelih hewan qurban adalah suatu ibadah yang mulia dan bentuk pendekatan diri pada Allah, bahkan seringkali ibadah qurban digandengkan dengan ibadah shalat.

“Kisah Nabi Ibrahim alaihi salam mengajari kita tiga spirit ‘ubudiyah yaitu ibadah Haji, Idul Adha dan Idul Qurban,” ujar Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry, H. Muhammad Siddiq Armia, MH, PhD beberapa hari lalu.

Ibadah qurban juga mengandung sejumlah hikmah. Sekurang-kurangnya, ada dua hikmah ibadah qurban. Pertama, hikmah vertikal dan horizontal. Vertikal, karena ibadah qurban bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan horizontal, lantaran dengan menyembelih hewan qurban, dagingnya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membutuhkan. Dan dari sinilah akan terbentuk solidaritas dan kesetiakawanan sosial.

Kedua, hikmah sosial, moral, dan spiritual. Hikmah sosial, karena qurban berdampak strategis bagi ikhtiar membangun kebersamaan dan pemerataan dalam masyarakat. Misalnya, ada dalam masyarakat kita yang belum tentu dapat makan daging sekali dalam setahun. Qurban dapat dijadikan sarana membangun kebersamaan dan keharmonisan hubungan antara orang kaya dengan orang miskin. Hikmah moral, karena perintah berqurban mengingatkan bahwa pada hakikatnya kekayaan itu hanyalah titipan Allah. Dari sini, seharusnya manusia menyadari bahwa pada harta yang dimilikinya ada hak orang lain, yang harus ditunaikan dengan cara mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah, wakaf, termasuk qurban.

Hikmah spiritual, qurban yang secara bahasa berasal dari kata: qarabayaqrobuqurbaanan, yang berarti “dekat”,  dimaksudkan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia melalui ibadah qurban.

Imam Ghazali menegaskan bahwa penyembelihan hewan qurban adalah sebagai simbol dari penyembelihan atau penghilangan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia, seperti sifat rakus, tamak, serakah, dan mau menang sendiri. Dengan  berqurban, diharapkan semua manusia dapat membuang sifat-sifat kebinatangan yang dapat mendatangkan musibah dan bencana.

Faidah dan pahala berkurban tergambar dalam hadits Rasulullah SAW: “Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang paling disukai Allah pada hari raya haji (selain) dari mengalirkan darah (berkurban). Sesungguhnya orang yang berkurban itu datang pada hari kiamat membawa tanduk, bulu, dan kuku binatang kurban itu dan sesungguhnya darah (kurban) yang mengalir itu akan lebih cepat sampai kepada Allah SWT dari (darah itu) jatuh di permukaan bumi. Maka sucikanlah dirimu dengan berkurban” (HR.al-Titmidzi dan Ibnu Majah dari Aisyah).

“Cara merayakan hari raya qurban adalah dengan mengumpulkan uang, bila perlu dengan berhutang berdasarkan imam Hanafi, guna membeli sapi atau kambing untuk diqurbankan. Jika tidak berkorban, maka tidak ada takbir untuk orang bersangkutan. Qurban itu bukan tentang kaya atau miskin, tetapi tentang syukur nikmat atau tidak,” terang Dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah, Said Muniruddin, SE.Ak, M.Sc.

Said mempertanyakan apakah kita sudah mempersiapkan qurban? Atau kita sedang pura-pura tidak tau bahwa besok ada perintah bagi kita untuk berqurban? Atau jangan-jangan kita sedang mempersiapkan diri untuk bertemu Tuhan sambil menunjukkan betapa miskinnya kita sehingga tak mampu mempersembahkan kepada-Nya walau hanya satu ekor kambing. Padahal berjuta-juta uang kita habiskan setiap bulan sepanjang tahun untuk berbagai jenis konsumsi yang bahkan tak ada faedahnya.

Aspek ekonomi
Sementara itu, Dr Irfan Syauqi Beik menjelaskan secara ekonomi bahwa pelaksanaan ibadah qurban ini juga memiliki empat implikasi. Pertama, dari sisi demand dan supply. Pada sisi permintaan, ibadah qurban ini menjamin adanya permintaan terhadap hewan qurban. Bahkan permintaan ini memiliki kecenderungan untuk meningkat dari waktu ke waktu, seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Kondisi permintaan yang seperti ini memberikan sinyal kepada kita untuk melakukan penataan dari sisi supply.

Sisi penawaran ini harus bisa dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat, terutama industri peternakan rakyat, yang notabene termasuk ke dalam kategori UMKM.

Kedua, dari sisi ketahanan ekonomi. Ibadah qurban ini bisa menjadi instrumen untuk menjaga keseimbangan perekonomian domestik dalam menghadapi tekanan krisis global. Tentu saja dengan catatan bahwa hewan qurban tersebut merupakan hasil produksi dalam negeri. Jika pasokan hewan qurban tersebut berasal dari impor, maka yang akan menikmati adalah perekonomian negara eksportir hewan qurban. Solusinya adalah dengan membangun dan mengembangkan sentra industri peternakan rakyat.

Ketiga, qurban dapat membantu memperkuat ketahanan pangan nasional, dimana kelompok dhuafa mendapatkan tambahan pasokan daging yang siap dikonsumsi. Meskipun sifatnya sangat temporer, tapi paling tidak, qurban ini diharapkan dapat meningkatkan konsumsi daging per kapita masyarakat. Dengan qurban, minimal mereka memiliki kesempatan untuk mengkonsumsi daging.

Keempat, qurban dapat meningkatkan produktivitas perekonomian. Semangat berqurban akan melahirkan pribadi-pribadi yang produktif. Jika tidak produktif, maka seseorang tidak mungkin memiliki kemampuan untuk berqurban. Produktivitas individu dan masyarakat merupakan modal sosial yang sangat berharga dalam upaya membangun peradaban ekonomi syariah. (kur/dbs)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!