Meningkatkan Kualitas Pembinaan MTQ Aceh

GEMA JUMAT, 19 OKTOBER 2018

Anak-anak kebanggaan Aceh berhasil mengharumkan nama Aceh dengan perolehan peringkat 7 di Musabaqah Tilawatil Quran Nasional (MTQN) ke-27 Medan, Sumatera Utara. Angka tersebut lebih baik satu tingkat dibandingkan MTQN ke-26 Nusa Tenggara Barat dua tahun lalu. Dari 50 peserta MTQN kali ini, dua orang juara I, empat juara II, dua orang juara III, dan 11 orang meraih juara harapan.

Sekretaris Kafilah MTQN Provinsi Aceh, Drs Tgk Ridwan Johan mengatakan, jumlah bonus yang direncanakan untuk para juara MTQN asal Aceh sebanyak Rp 1,9 miliar yang akan diberikan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) tahun 2019. “Sekarang sedang proses pembahasannya,” tuturnya kepada Tabloid Gema Baiturrahman.

Ia mengungkapkan prestasi Aceh kali ini sangat membanggakan karena memenangkan banyak medali. Selain itu, selisih nilai Aceh dengan provinsi lain yang masuk enam besar kecil sekali.

Menurutnya, peserta MTQN asal Aceh sudah berusaha semaksimal mungkin agar bisa mempersembahkan hasil terbaik. Kata Ridwan Djohan, sejauh ini mereka merasa sangat puas serta mensyukuri atas penampilannya.

Ridwan Johan mengharapkan agar mereka selalu belajar mengembangkan kualitasnya serta tidak sombong atas prestasinya kali ini. Sementara itu ia berpesan kepada peserta yang belum juara agar tetap semangat. “Yang belum berhasil, anggap saja kegagalan hari ini adalah kemenangan hari esok,” terangnya yang juga Ketua Harian Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Aceh kepada Gema Baiturrahman.

Ia menuturkan, Aceh berkomitmen untuk terus meningkatkan prestasi di tingkat nasional melalui pembinaan yang semakin baik yang dipacu mulai pada tingkat daerah untuk seluruh cabang MTQ. Apalagi sekarang LPTQ Provinsi memberikan dukungan penuh terhadap pembinaan MTQ di daerah tingkat dua.

Ke depan, Ridwan Johan yang juga menjabat Kepala UPTD Pengembangan dan Pemahaman Al-Qur’an (PPQ) Aceh ini mengharapkan, pada MTQ Provinsi Aceh 2019 terjaring peserta-peserta yang semakin berkualitas untuk mewakili Aceh bersaing pada MTQN di Padang pada 2020. Ia menargetkan Aceh meraih lima besar juara pada MTQN itu.

Hal senada disampaikan oleh Ketua Ikatan Persaudaraan Qari-qariah dan Hafizh-hafidzah (IPQAH) Aceh Dr Ir Agussabti. Ia menjelaskan bahwa Aceh memiliki potensi yang bagus untuk berprestasi di MTQN. Rata-rata peserta anak-anak di MTQN mampu meraih juara. Sayangnya untuk kalangan remaja hingga dewasa prestasinya semakin berkurang. “Aceh punya potensi yang bagus. Tapi kita selalu gagal pada tingkat remaja dan dewasa. Artinya apa, keberlanjutan dia tidak tersalurkan dengan baik. Berarti persolan di pembinaan,” imbuhnya.

Ia menambahkan, untuk mengukir prestasi Aceh di MTQN tidak dapat terlepas dari pembinaan, termasuk kualitas orang yang dibina dan pembinanya. Pembinaan MTQ di Aceh seyogianya dilaksanakan secara terstruktur, sistematis, dan jangka panjang. Pembinaan jangan hanya dilaksanakan ketika ada MTQ saja sehingga terkesan terburu-buru. “Kita tidak bisa merencanakan dalam jangka waktu satu atau dua tahun saja. Tetapi bagaimana lima tahun ke depan kita akan mensyiarkan bahwa Aceh betul-betul memang bermartabat sebagai daerah syariat,” ujarnya yang juga Wakil Rektor II Universitas Syiah Kuala.

Diterangkan, perlu adanya kombinasi antara para pelatih MTQ, misalnya untuk cabang tilawatil Quran. Dalam pembinaan MTQ kecamatan, sesekali dapat mendatangkan pelatih di  tingkat kabupaten. Kemudian di tingkat kabupaten turut sesekali mengundang pelatih tingkat provinsi. Selanjutnya pembinaan di tingkat provinsi menghadirkan pelatih tingkat nasional.

Perlunya keterlibatan pelatih nasional yang juga nantinya menjadi dewan hakim di MTQN akan memudahkan Aceh membaca selera dan perkembangan tren MTQ. Misalnya pada cabang tilawatil Quran berkaitan tren irama dan lagu yang digunakan.

Menurutnya, setiap kabupaten/kota membutuhkan lembaga pendamping untuk membina peserta MTQ, terutama daerah yang berpotensi. Ia mencontohkan Gayo Lues, Bener Meriah, dan Aceh Singkil yang memiliki potensi bagus untuk cabang tilawatil Quran. Akan tetapi mereka sering kalah sebab bermasalah dengan tajwid. “Aceh secara umum, karena tidak ada pembinaan yang bagus, qari kita lebih mengutamakan irama daripada tajwid. Padahal kalau tajwidnya benar irama masih bisa disesuaikan,” tuturnya. Zulfurqan

 

 

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!