Merawat Perdamaian Aceh

GEMA JUMAT, 17 AGUSTUS 2018

Konflik Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Indonesia yang berkepanjangan di Aceh membuat masyarakat trauma. Oleh karena itu, perdamaian yang sudah tercipta selama 13 tahun melalui perjanjian damai di Helsinki (MoU Helsnki) ini harus kita pertahankan sampai kapanpun. Perdamaian ini telah menghadirkan dampak positif yang sangat signifikan bagi perkembangan Aceh.

Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Prof Yusny Saby memaparkan bahwa perdamaian membawa keuntungan yang sangat baik. Ia sangat mengharapkan seluruh pihak mempertahankan perdamaian itu. Bagaimana tidak, perdamaian membuat masyarakat lebih leluasa menjalankan aktifitasnya sehari-hari, seperti pergi ke kebun. Dulu sebelum perdamaian, masyarakat Aceh selalu dirundung ketakutan. Masyarakat seolah serba salah dalam bertindak.

“Kita harus mengisi perdamaian dengan berbagai kegiatan seperti pengembangan ekonomi, pertanian, dan perbaikan pendidikan,” ujarnya kepada Gema Baiturrahman, Rabu (15/8) di Banda Aceh.

Mou Helsinki antara GAM-RI merupakan bentuk kesepakatan penyelesaian masalah bukan lagi dengan berkonflik. Seluruh pihak harus sepakat membangun bangsa, bukan kelompok atau partai politik tertentu. Perdamaian perlu diisi dengan perubahan sikap masyarakat maupun pemerintah ke arah lebih. Tidak boleh ada lagi pungutan liar (pungli), lemahnya penegakan hukum, serta menjaga ketertiban dalam seluruh kehidupan.

Ia mencontohkan Banda Aceh sebagai ibu kota provinsi. Salah satu bukti wujud perdamaian adalah berupaya menciptakan Banda Aceh sebagai kota yang teratur. Menurutnya, Banda Aceh harus menjadi model kota lain. Teraturnya Banda Aceh dapat dikatakan sebagai tindakan menjaga marwah Aceh di hadapan daerah lain.

Dari segi pendidikan, pemerintah perlu berusaha lebih keras mewujudkan kualitas pendidikan di Aceh. Ia menyayangkan kualitas pendidikan Aceh berada pada nomor akhir. Selain itu, langkah strategis yang mendesak adalah membuka lapangan kerja serta memperbanyak pelaksanaan kelas keterampilan. Dikhawatirkan, meningkatnya angka pengangguran dari kalangan pemuda mendorong mereka terjerumus ke dalam dunia hitam, misalnya penggunaan narkoba. Parahnya lagi apabila mereka bertindak lebih jauh sebagai pengedar.

“Pemerintah harus sigap membuka lapangan kerja. Angka pengangguran kerja di Aceh besar,” lanjutnya.

Agar bisa membuka lapangan kerja, katanya, pemerintah seyogianya dapat menghadirkan para investor besar untuk menanamkan modalnya. Misalnya investor di bidang transportasi laut yang tnagguh untuk menghubungkan antarpulau.

Ia menambahkan, seluruh masyarakat Aceh adalah korban konflik. Yang terpenting dilakukan saat ini adalah memperkuat kerakyatan. “Tidak boleh lagi dikelompok-kelompokkan, ini mantan polisi, ini mantan GAM. Itu tidak akan pernah ada habisnya. Kalau itu terus kita bicarakan, kapan majunya. Sekarang, perkuat rakyat atas nama masyarakat,” lanjutnya.

Diingatkannya, untuk mengisi perdamaian ini seluruh pihak harus melaksanakan tugas dan kewajibannya. Caranya bekerja dengan jujur dan tekun, bukan hanya mementingkan kelompoknya saja. Zulfurqan

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!