Pentingnya Melestarikan Budaya Aceh

GEMA JUMAT, 10 AGUSTUS 2018

KEBUDAYAAN suatu bangsa merupakan identitas diri yang perlu dikenal dan dilestarikan sesuai dengan perkembangan zaman. Mengingat pentingnya mengenal budaya bangsa sendiri ini, Aceh telah meresponnya semenjak tahun 1958 dengan menggelar Pekan Kebudayaan Aceh (PKA). Kali ini menjadi perhelatan ketujuh yang dilaksanakan pada sejak tanggal 5 – 15 Agustus 2018 mendatang di Kota Banda Aceh.

Pelaksanaan PKA yang mengangkat tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat” kali ini berusaha mengangkat kembali sejumlah khazanah adat dan kebudayaan masyarakat Aceh dari berbagai etnis yang ada. Tidak hanya itu, sejumlah produk kerajinan masyarakat dari berbagai daerah di Aceh. Tujuannya agar masyarakat dan generasi muda Aceh dapat mengetahui kekayaan dan keaslian budayanya sendiri, di samping memperkuat status Aceh sebagai destinasi wisata budaya kepada mancanegara.

Perkembangan zaman dan kemajuan teknologi turut mempengaruhi unsur-unsur kebudayaan suatu daerah hingga mengalami perubahan, bahkan bisa menggeser nilai dari keaslian budaya itu sendiri. Sebagai upaya pelestarian dan penguatan kembali unsur-unsur kebudayaan Aceh, maka PKA VII mengangkat tema “Aceh Hebat dengan Adat Budaya Bersyariat”.

Tema ini menjadi penting karena kebudayaan Aceh sangat identik dengan nilai-nilai syariat. Religi telah menjadi fokus kebudayaan Aceh sejak islam pertama kali masuk ke Nusantara melalui daerah Aceh. Syiar islam kemudian memberi banyak pengaruh dalam perjalanan dan perkembangan kebudayaan Aceh itu sendiri. Sehingga religi menjadi unsur dominan dalam kebudayaan Aceh dibandingkan dengan enam unsur kebudayaan universal lainnya. Maka sudah sepantasnya budaya Aceh yang islami digaungkan ke dunia internasional sebagai daya tarik pariwisata Aceh yang tidak ada di daerah lain.

“Aceh memiliki adat dan budaya yang beragam. Keberagaman tersebut harus tetap terjaga dan bisa diwariskan kepada generasi mendatang,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Prof Dr Muhadjir Effendy saat  membuka PKA VII di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh,  Minggu (5/8) malam.

Dijelaskan dia, PKA, merupakan momentum melestarikan adat dan kebudayaan. Karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengapresiasi terselenggaranya PKA 2018. Oleh karena itu, pemerintah pusat memberikan perhatian serius dalam menjaga adat dan budaya.

Menurut Muhadjir, masyarakat Aceh melalui kegiatan PKA ini menjadi saksi atas terselenggaranya event kolosal kebudayaan yang digelar Pemerintah Aceh . “Atas nama Pemerintah RI, saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas terselenggaranya event megah ini,” katanya.

Terselenggaranya event PKA Ke-7 ini, menurut Muhajir, menunjukkan bahwa masyarakat Aceh sangat menjunjung tinggi budaya dan menghormati keberagaman suku dan etnis yang ada. “Sehingga diperlukan event dengan interval yang lebih singkat untuk menggelorakan dan merayakannya,” terang Muhajir.

Pembukaan PKA di Stadion Harapan Bangsa dihadiri ribuan pengunjung terdiri dari pejabat pemerintah provinsi, kabupaten/kota, tokoh masyarakat, serta undangan lainnya. Seremoni pembukaan diawali penabuhan rapai oleh Mendikbud Muhadjie Effendy yang dilanjutkan defile kontingen 23 kabupaten/kota. Berikutnya dilanjutkan dengan penyerahan piala bergilir oleh Bupati Aceh Besar Mawardi Ali selaku juara umum PKA ke- 6 pada 2013 kepada Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Pembukaan PKA itu juga dirangkai dengan beberapa tarian Aceh yang dimainkan secara kolosal oleh lebih seribu penari.

Muhadjir menambahkan bahwa pada tahun 2017 Pemerintah Indonesia telah menetapkan Undang-Undang tentang Kebudayaan untuk memajukan kebudayaan secara nasional. Artinya pemerintah telah memberikan perhatian yang sungguh-sungguh kepada kebudayaan bangsa Indonesia. “Mulai tahun depan kegiatan kebudayaan akan memiliki anggaran tersendiri dan ada dana alokasi khusus untuk kebudayaan,” ungkap Muhadjir Effendy.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT dalam sambutannya di hadapan Mendikbud, Prof Dr Muhadjir Effendy sebelum membuka PKA VII berharap agar pemerintah pusat memberi perhatian serius bagi kemajuan Aceh di segala bidang, termasuk perhatian khusus dalam program keberlanjutan perdamaian di Aceh.

“Ke depan, kami berharap pemerintah pusat terus berkenan memberi perhatian bagi kemajuan Aceh untuk bidang-bidang pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, pariwisata, infrastruktur, investasi, syariat Islam, dan program keberlanjutan perdamaian di Aceh,” kata Nova Iriansyah.

Perhatian itu diharapkan Nova Iriansyah, agar keistimewaan Aceh yang selama ini diberikan oleh pemerintah pusat tidak hanya sekadar identitas, tapi haruslah benar-benar nyata melalui pengembangan wilayah serta peningkatan kesejahteraan rakyat di Provinsi Aceh.

Puluhan Agenda Seni

Dilaporkan bahwa setidaknya ada 56 rangkaian atraksi seni dan budaya yang dikemas dalam 7 kegiatan utama untuk memeriahkan PKA VII, meliputi Pembukaan; Pawai Budaya yang akan menampilkan parade adat dan budaya dari berbagai daerah; Pameran Budaya dan Eksibisi yang akan menampilkan pameran kebudayaan, sejarah, kuliner, produk kreatif dan bisnis kepariwisataan; Festival Seni dan Budaya yang  akan menyuguhkan ragam penampilan adat istiadat, seni dan budaya Aceh.

Selain itu juga akan ada Seminar Kebudayaan dan Kemaritiman yang akan mengulas berbagai isu menarik tentang kekayaan budaya dan potensi bahari Aceh; Anugerah Budaya yang akan memberikan apresiasi budaya kepada masyarakat Aceh yang telah berkontribusi dalam melestarikan adat dan budaya di daerah; dan Penutupan PKA VII yang akan menampilkan ragam pesona hiburan kepada masyarakat sebagai tanda berakhirnya PKA VII.

Nova Iriansyah menjelaskan bahwa sudah seharusnya PKA VII  ini memberikan nilai tambah dan menciptakan perbedaan bagi pengunjung. Selain dihadiri oleh 35 ribu lebih peserta dan tamu undangan dari luar negeri, seperti beberapa negera ASEAN, Timur Tengah dan Eropa, 7 ribu peserta dari perwakilan 23 kabupaten/kota se Aceh dan masyarakat umum, peserta dari berbagai provinsi se Indonesia dan penampilan tari kolosal bertema “Aceh Lhee Sagoe” dengan melibatkan 1000 penari, Tari Guel dan Rapai Pasee. (kur/dbs)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!