Pers Garda Depan Pembela Syariat

GEMA JUMAT, 7 SEPTEMBER 2018
Pers memiliki pengaruh besar dalam masyarakat, misalnya mampu menggiring opini publik. Karenanya, pers perlu diatur dengan baik supaya tidak memberikan dampak negatifnya. Juga sebaliknya, kelebihan pers bisa dimanfaatkan untuk hal kebajikan, seperti membela syariat Islam.
Wartawan senior Yarmen Dinamika menjelaskan, berdasarkan Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999, pers memiliki lima fungsi, yakni media informasi, mengedukasi masyarakat, kontrol sosial, hiburan, dan komersial.
Dijelaskan, pencerdasaan masyarakat dapat dilaksanakan media melalui konten-konten yang dipublikasikan. Pers dari segi komersial, itu merupakan kebutuhan pers agar bisa menjalankan
keempat fungsi lainnya. Hiburan yang dimuat media juga mampu membuat kehidupan bergairah dan bersemangat. Sedangkan yang paling membuat media begitu disegani adalah kontrol sosial
sebab bisa menyorot kinerja lain, seperti eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pers merupakan pilar ke-4 negara demokrasi.
“Hampir semua fungsi media bila dilihat dari sisi agama, itu adalah kebajikan,” ujarnya kepada Gema Baiturrahman, Kamis (9/6) di Banda Aceh.
Pers dan Syariat Islam Ia menambahkan, dalam penerapan syariat Islam, pers mengambil peran yang sangat besar sebagai pengontrol. Ia mencontohkan di Aceh, proses pelaksanaan hukuman cambuk bagi pelaku khalwat, khamar, dan maisir, tidak luput dari sorotan media. Juga demikian saat pemaparan grand design syariat Islam di Aceh.
Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Dr Fakhri S Sos MA menuturkan, kalau dilihat dari perspektif agama, media terbagi kepada media Islam dan nonmuslim. Dari pengamatannya mengikuti perkembangan media di Indonesia, media yang memiliki karakter islami, persentasenya lumayan kecil. “Dilihat dari ideologi, pers di Aceh masih pro syariat Islam,” ungkapnya.
Ia menilai, fungsi media yang berkedudukan di kawasan syariat Islam, harus membela syariat Islam. Membela syariat Islam sama dengan membela agama. Membela agama melalui pers, misalnya menyebarkan dan menanamkan nilai karena Allah. Dalam Quran ayat 7 surat Muhammad, Allah mengatakan, orang yang membantu agama Allah maka senantiasa Allah akan membantunya.
Isu-isu yang berkembang dalam masyarakat cukup beragam. Menurut Fakhri, pers harus mempertimbangkan baik buruknya bila isu tersebut dipublikasikan. Pers seyogyanya tidak memberitakan isu dengan tujuan semata-mata menaikkan ratingya tanpa pertimbangan baik dan buruk dampaknya.
“Tradisi dalam Islam adalah rahmatal lil alamin. Jadi dakwah yang harus dilakukan adalah menyelamatkan orang banyak. Sebagai orang Islam, kita harus memikirkan baik dan buruk sebuah isu yang akan diberitakan,” lanjutnya.
Ia memaparkan, ada perbedaan pers Barat dan pers Islam. Pers Barat lebih mementingkan keuntungan komunikan dibandingkan keuntungan audien. Sementara itu dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad mengungkapkan bahwa yang baik itu di tengah-tengah. Artinya, pers Islam di dalam pemberitaannya sepatutnya memberikan keuntungan bagi audien dan komunikan.
Pers bisa memosisikan dirinya sebegai pencerah bagi masyarakat. Misalnya, menjelang pemilihan presiden (Pilpres) Indonesia pada 2019, terjadi gesekan-gesekan di kalangan masyarakat.
dengan memuat konten tentang bagaimana karakteristik pemimpin ideal. Meskipun demikian, ia menjelaskan bahwa tidak ada jaminan bahwa pers bisa menghilangkan eskalasi politik menjelang Pilpres tersebut. Hanya saja, menurutnya tidak salah bila pers mencoba
menenteramkan keadaan masyarakat. “Media memiliki pengaruh yang sangat besar untuk amar makruf nahi munkar,” sambungnya.
Hal senada disampaikan Wakil Dekan III Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry T Lembong Misbah MA. Media merupakan alat informasi yang mampu mengubah opini masyarakat. Pengaruh media sangat penting dan berdampak luas terhadap cara berpikir masyarakat, seperti cinta menjadi benci atau sebaliknya. Pers mesti memberitakan kebenaran, cara menyampaikannya dengan cara benar, dan maksudnya juga benar.
Ia menilai, secara umum media sudah menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Hanya saja,idealiasme di zaman sekarang dapat dibeli dengan uang. “Media harus mempunyai indepedensi
dan tidak dikebiri oleh kepentingan pragmatis. Kalau dia berdiri pada indepedensi, makasuaranya adalah suara kebenaran. Tidak akan ada pengaruh cengkeraman atau afiliasi politik,” terangnya.
Berbicara tentang syariat Islam, itu merupakan tanggung jawab bagi mereka yang mengaku dirinya muslim. Dalam konteks penegakan syariat, jurnalis memiliki kewajiban menyebarkan kebaikan, sesuai dengan fakta, dan mencerahkan.
“Terkadang ada hal penting yang bisa diberitakan, tapi bisa merusak tatanan kehidupan. Nah, hal seperti itu tidak perlu diberitakan karena lebih banyak muzaratnya,” paparnya.
Selain kehadiran media mainstream, media sosial memiliki pengaruh yang tidak kalah besarnya. Sayangnya, sering sekali terjadi penyalahgunaannya sehingga menimbulkan keresahan dalam masyarakat akibat hoaks. Karenanya, masyarakat dianjurkan lebih memercayai media mainstream karena lebih terikat kepada kode etik jurnalistik. “Kita patutnya cek dan ricek terhadap informasi yang belum jelas kebenarannya,” tambahnya lagi. Zulfurqan
comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!