Problema Lahan Kuburan

GEMA JUMAT, 16 MARET 2018

Seorang pedagang kaki lima asal luar Banda Aceh dengan gelisahnya datang ke Baitul Mal Aceh (BMA). Anaknya baru saja meninggal karena sakit. Sedihnya, ia tidak memiliki biaya untuk membeli lahan kuburan di Banda Aceh senilai Rp 2,5 juta, atau membawa jenazah anaknya ke kampung halaman. Jumlah dana begitu besar baginya yang sehari-hari berjualan di lapak kaki lima.

Begitulah salah satu kasus yang terjadi di Banda Aceh. Beranjak dari kisah ini, menunjukkan, pemerintah mesti turun tangan mengatasi sulitnya mencari lahan kuburan. Terutama bagi mereka bertaraf hidup menengah ke bawah. Sehingga, persoalan lahan kuburan harus menjadi perhatian.

Kepala Bidang Pengumpulan BMA Jusma Eri  membenarkan bahwa beberapa titik di Banda Aceh kesulitan mencari lahan kuburan, khususnya bagi masyarakat miskin. Dalam hal ini, BMA merencanakan penyediaan lahan gratis. Lahan tersebut nantinya bisa dimanfaatkan oleh orang membutuhkan. Sudah 10 titik lokasi yang telah disurvei untuk dijadikan tempat pemakaman umum (TPU). Beberapa di antaranya di Krueng Raya (Banda Aceh), Blang Bintang (Aceh Besar). Lokasi paling strategis di Blang Bintang.

“Hasil survei akan kita serahkan kepada tim penilai, apakah lahan tersebut cocok atau tidak,” terangnya.

Kata Jusma Eri, perencanaan tersebut sudah dicetuskan sejak 2011. Namun terkendala pada pengadaan lahan. Kalau pembahasan pengadaan lahan selesai tahun ini, diharapkan dapat segera direalisasikan. Kemudian, BMA akan berkoordinasi dengan masjid-masjid dan rumah sakit. Bila ada jenazah tanpa identitas bisa dikebumikan di lahan yang telah disediakan.

Dari pemantauan BMA, kebutuhan lahan kuburan sudah mendesak. Buktinya, masyarakat Banda Aceh sudah banyak mencari lahan kuburan di luar Banda Aceh, terutama Aceh Besar.

Antisipasi pihak gampong

Gampong-gampong di Banda Aceh harus segera bergerak mengantisipasi kelangkaan lahan kuburan, seperti halnya yang dilakukan Gampong Laksana Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. Keuchik Gampong Laksana Rahmad menuturkan, antisipasi berkurangnya lahan kuburan di Banda Aceh sudah dilakukan sejak 1980-an. Warga mengumpulkan dana patungan guna membeli lahan di Lampeuneurut, Aceh Besar. Pasalnya, TPU yang mereka manfaatkan sebelumnya, bersama dua gampong lainnya, yakni Gampong Mulia dan Gampong Peunayong, tidak lagi mencukupi kebutuhan.

Katanya, lahan kuburan yang dibeli diharapkan bisa mencukupi kebutuhan hingga 10 tahun mendatang. Mereka juga sudah mengatur pengebumian jenazah menurut perbedaan usia, seperti anak-anak, dewasa, dan lanjut usia. Di setiap nisan akan dituliskan nama beserta urutan nomor, seperti halnya kuburan di Taman Makam Pahlawan. “Waktu ahli waris berziarah, akan mudah mencari kuburannya,” terangnya.

Lanjutnya, lahan tersebut bisa digunakan oleh siapa saja yang meninggal di Gampong Laksana tanpa dipungut biaya.

Iuran fardu kifayah

Ia menjelaskan bahwa, masyarakat Gampong Laksana dibebankan iuran Rp 7.500-Rp 15.000 per bulan bagi setiap warga. Dikelola oleh masing-masing dusun. Dana yang terkumpul digunakan ketika salah satu warga di sana meninggal, seperti biaya untuk melakukan fardu kifayah terhadap jenazah, seperti biaya penguburan, pembelian kain kafan. “Kalau fardu kifayah tidak dilaksanakan, masyarakat akan berdosa,” pungkasnya.

Gampong Laksana juga memudahkan keluarga yang ditinggalkan. Mereka tidak perlu menyediakan makanan kenduri selama tiga hari. Masyarakatnya akan saling membantu secara bergiliran menyediakan makan rantangan untuk kenduri tersebut.  Hal ini juga berlaku bagi perantau yang meninggal di Banda Aceh. Rahmad tidak tahu kapan tradisi seperti ini bermula. Namun menurutnya, tradisi di gampongnya itu dapat meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

“Dan kalau sudah membayar iuran pun, belum tentu meninggal di sini (Gampong Laksana),” terangnya. Zulfurqan

 

 

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!