Rekonsiliasi Umat Pasca Pemilu

GEMA JUMAT, 5 JULI 2019

Seiring berakhirnya Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 pada 17 April lalu, polarisasi yang terbentuk karena perbedaan pilihan calon wakil rakyat, khususnya presiden-wakil presiden, seharusnya juga dapat berakhir. Beberapa bulan masa kampanye ditambah sejumlah momen sosial-politik yang muncul sebelumnya sudah sangat melelahkan bagi persatuan rakyat Indonesia. Ikatan persaudaraan banyak yang putus akibat perbedaan pilihan ini mengingat begitu tajamnya sentimen pada masing-masing pendukung.

Keterbelahan juga dirasakan oleh umat Islam. Seperti yang kita tahu, masing-masing pasangan calon menampilkan narasi keislaman dalam kampanyenya. Mendaku diri paling islami dan merasa jalan keislaman yang diperjuangkan paling kaffah sedangkan kelompok sebelah adalah salah. Sejumlah ulama tampil memoles citra calon yang didukung. Umat yang sudah kadung sami’na wa atha’na dengan ulama mati-matian membela fatwanya.

Hingar bingar dukungan ini tak tampak menggambarkan hakikat demokrasi yang sejatinya bertujuan memilih pemimpin dari calon terbaik. Sebab yang sering ditampakkan adalah upaya saling menjatuhkan melalui keburukan lawan. Mirisnya, umat Islam terbawa dengan gaya politik culas semacam ini. Bukannya mengadu gagasan masing-masing calon, terutama berkaitan dengan kepentingan umat Islam, para pendukung fanatik tersebut malah sibuk membuka aib dan menebar fitnah. Para ulama pun tak luput dari serangan-serangan ini.

Rekonsiliasi Umat

Apapun keputusannya dari sidang PHPU Pilpres 2019 oleh Mahkamah Konstitusi (MK), masyarakat harus ikhlas menerimanya. Siapapun Presiden terpilih mudah-mudahan membawa Indonesia tercinta ke arah yang lebih baik.

“Kita pada posisi harus menerima hasil yang sudah ada dan masuk ke dalam pemerintahan, suka tidak suka jokowi akan dilantik, suka tidak suka Jokowi sudah pada periode kedua,” jelas Dosen Fakultas Psikologi UIN Ar-Raniry, Fajran Zain,  Rabu (3/7) di Fakultas Psikologi Banda Aceh.

Sebagai masyarakat memilih dan berdoa agar Presiden yang terpilih merupakan orang yang tanggungjawab, adil dan bijaksana. Masalah siapa yang menjadi Presiden nantinya ada yang kewajiban menentukan dalam hal ini MK.

Dalam setiap persaingan pasti ada yang kalah dan menang, “Pasca konstestasi mesti ada yang disebut rekonsiliasi politik, yaitu upaya untuk memenangkan hati dari orang-orang yang merasa dikalahkan di politik itu, proses ini harus dilakukan oleh pasangan yang menang,” kata Fajran.

Sebagai rakyat tidak perlu merusak silaturrahmi sesama hanya karena Presiden yang didukung kalah atau menang. “Mau tidak mau kita harus belajar mengobati hati untuk menerima keputusan yang ada. Berdamai dengan fakta yang ada walau terkadang menyakitkan,” tambah Fajran.

Saling membuli, menjatuhkan, meremehkan sudah menjadi dilema dalam masyakat Indonesia yang harus dihapuskan. Untuk antisipasi dilema tersebut menurut Fajran harus ada rekonsliasi politik dan kubu Jokowi harus menjemput hati pada kubu 02 direkontruksi kembali untuk sama-sama membangun Indonsia yang satu melupakan semua proses konstestasi politik sebelumnya.

Aceh harus bangun dan kembali menata kehidupan yang layak dan normal tanpa ada saling menjatuhkan dan menyalahkan. “Kita berharap jokowi tidak dendam dengan Aceh dan program yang sudah ada tetap berjalan tidak terganggu,” harap Fajran.

Ketidaknyamanan bagi setiap hati itu pasti terjadi, karena disetiap konstentasi pasti ada yang menang dan kalah. Jika hati belum bisa menerima keputusan yang ada, kembali meminta petunjuk pada Allah SWT. (Jannah)

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!