Syariat Islam Bersifat Universal

GEMA JUMAT,12 MEI 2017

Sudah belasan tahun sejak syariat Islam diberlakukan secara resmi di Aceh. Pemberlakuan syariat Islam di Aceh bertujuan demi kemasalahatan ummat. Sebagian masyarakat merasa puas terhadap kinerja pemerintah menerapkan hukum, sedangkan sebagian lainnya belum.

Untuk itu, Lembaga Studi Agama dan Masyarakat  Aceh (LSAMA) bekerjasama Senat Mahasiswa Pascasarjana UIN Ar-Raniry menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) yang bertajuk Kepuasan Masyarakat Terhadap Pelaksanaan Syariat Islam di Aceh. Kegiatan ini berlangsung di Aula Pascasarjana UIN Ar-Raniry, Darussalam, Rabu (10/5).

Mantan Rektor IAIN (UIN) Ar-Raniry Prof Dr Yusni Sabi MA, dihadapan puluhan peserta mengatakan, salah satu pokok dari ajaran Islam adalah saling toleransi. Hubungan antar manusia harus dijaga dengan baik. Misalnya antara guru dengan murid, mahasiswa dengan dosen, pemimpin dengan rakyat, dan sebagainya.

Katanya, kehadiran agama Islam merupakan rahmat. Ajaran Islam mencakup segala lini kehidupan. Tujuannya, supaya manusia yang hidup di muka bumi memiliki aturan dan tidak saling merusak. Negeri dengan mayoritasnya ummat Islam diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai Islam. “Kita sangat malu bila negeri kafirun tapi islami, sedangkan negeri islami tapi jahili,” pungkasnya.

Ia menegaskan, pokok ajaran Islam di Aceh bukan hanya mengenai hukuman cambuk ataupun jilbab. Persoalan pendidikan dan perekonomian juga merupakan bagian dari Islam itu sendiri. Jangan berbangga hati apabila seringnya terjadi pelaksanaan hukuman cambuk. Itu artinya masyarakat masih banyak melakukan pelanggaran syariat. Dengan kata lain, inti syariat Islam yang sebenarnya belum dilaksanakan secara baik. “Seharusnya kita malu kalau banyak cambuk,” paparnya.

Pedoman ummat Islam adalah Al-Quran. Kitab suci ini penting untuk dibaca, dipahami, dihafal, dan mengamalkan ajaran yang dikandungnya. Prof Yusni menambahkan, Islam mendidik ummatnya untuk melaksanakan shalat. Tujuannya adalah untuk mencegah terjadinya perbuatan keji dan mungkar. Ramainya jamaah salat di masjid merupakan salah satu indikator berjalannya syariat Islam.

Kepala Bidang Hukum Dinas Syariat Islam (DSI) Aceh Dr Syukri M Yusuf, menuturkan, seluruh elemen masyarakat harus bersatu untuk menerapkan syariat Islam lebih baik. DSI tidak mampu bekerja sendiri. Katanya, cita-cita terhadap penerapan syariat Islam sangat tinggi. Sedangkan perubahan yang terjadi setelah penerapan syariat Islam berjalan lamban, sehingga perubahan tersebut sulit diukur.

Ia menamsilkan seseorang yang melihat cermin setiap hari. Tidak perubahan berarti yang nampak. Namun, wajah seseorang dibandingkan dengan fotonya sepuluh tahun lalu, tentu saja mudah ditemukan perbedaannya.

“Tinggi sekali cita-cita, mengukur pencapaian penerapan syariat Islam dengan cita-cita, masih jauh panggang dari api,” tuturnya.

Ia mengakui, DSI masih memiliki berbagai macam keterbatasan. Sehingga, penerapan syariat Islam melalui dinas ini terkadang masih mengalami kendala. Sedangkan berjalan atau tidaknya syariat Islam, hal tersebut bisa dilihat dari kondisi masyarakatnya.

Prof  Dr M Hasbi Amiruddin MA, menuturkan, objek syariat Islam yang selalu diperhatikan masyarakat sekarang adalah  jilbab dan cambuk, misalnya dalam kontek pendidikan. Padahal masih banyak para siswa sekolah belum memahami apa itu syariat Islam.

Walaupun demikian, menurutnya, pencapaian syariat Islam sudah cukup tinggi dibandingkan sebelum dicanangkan syariat Islam di Aceh. Dulu, pelacur dan warung penjualan minuman keras bebas beroperasi. Masyarakat berkontribusi besar dalam penerapan syariat Islam. “Dulu, begitu merajalela kemaksiatan,” paparnya. Zulfurqan

 

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!