Valentine bukan Budaya Islam

GEMA JUMAT, 16 FEBRUARI 2018

Provinsi Aceh merupakan wilayah yang dilegalkan pelaksanaan Syariat Islam. Sehingga setiap kebijakan pemerintah yang mendukung realisasi Syariat Islam, dijamin oleh undang-undang. Gubernur Aceh Irwandi Yusuf  melarang perayaan yang disebut “Valentin Day” di Aceh. Karena tidak sesuai dengan Syariat Islam dan budaya Aceh. Ia menyatakan hal itu seusai menghadap Wakil Presiden Jusuf Kalla di Kantor Wapres, Jakarta, Selasa (13/2/) kemarin, sebagaimana dikutip media Aceh Tribunews.com.

Sehubungan dengan beredarnya berita bahwa dirinya seakan membolehkan perayaan Valentine Day di Aceh.  Gubernur Aceh Irwandi Yusuf  menganggap perlu mengeluarkan pernyataan tentang pelarangan kegiatan perayaan Valentine Day di Aceh. Kepada sejumlah wartawan, Gubernur Irwandi mengklarisifikasi sebuah berita di media online, seolah-olah menyetujui perayaan Valentin Day di Aceh. Menurut  Irwandi perayaan Valentine Day  tidak sesuai dengan budaya Aceh dan bertentangan dengan syariat Islam yang sedang digalakkan di Aceh.

Seirama dengan Gubernur Aceh, Bupati Kabupaten Aceh Besar Mawardi Ali mengeluarkan aturan melarang perayaan Valentine Day pada setiap 14 Februari. Aturan tersebut tertuang dalam urat instruksi Bupati Nomor 451/882/2018 tentang Imbauan Larangan Perayaan Hari Valentine Day.

Dalam surat itu, Mawardi Ali menyampaikan bahwa Valentine Day bukanlah budaya muslim dan bertentangan dengan nilai-nilai syariat Islam. Larangan ini merujuk Undang-Undang Nomor 44 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Aceh.

Selain itu diperkuat juga dengan UU Nomor 11 Tahun 2002 Pelaksanaan Syariat Islam di bidang aqidah, ibadah, dan syiar Islam yang haram hukumnya untuk dirayakan.

Bupati meminta kepada semua pihak untuk tidak merayakan Valentine Day. Bila ada kelompok atau siapapun yang merayakannya, Mawardi Ali meminta untuk melaporkan kepada petugas, khususnya kepada Satpol PP dan Polisi Syariat Kabupaten Aceh Besar.

“Kepada seluruh guru atau orang tua wali murid agar mengawasi siswa dan anak-anak untuk tidak merayakan hari valentine day,” tulis Mawardi Ali dalam surat tersebut.

Selain itu, dalam surat itu, Bupati juga melarang bagi hotel, restoran, cafe dan juga warung kopi memfasilitasi atau menyediakan tempat yang merayakan Valentine Day.

Dia meminta juga kepada seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Aceh Besar dari Satpol PP/Polisi Syariah, para camat dan sejumlah perangkat lainnya untuk melakukan pengawasan agar tidak ada yang merayakan Valentine Day.

Hal serupa juga dilakukan Wali Kota Banda Aceh, H Aminullah Usman, melarang warganya merayakan valentine day dalam bentuk apapun. Pernyataan itu disampaikan orang nomor satu di Banda Aceh dalam acara Wali Kota Menjawab, yang berlangsung di pendapa setempat, Selasa (13/2).

Aminullah menjelaskan, perayaan valentine day tidak diajarkan dalam agama Islam. Sebagai muslim haram hukumnya bila merayakannya. Selain itu, kata Aminullah, perayaan valentine day juga tidak sesuai dengan budaya dan adat istiadat masyarakat Aceh.

“Selain tidak dianjurkan dalam agama, juga tak sesuai dengan budaya Aceh. Jadi tidak perlu dirayakan,” ujar Aminullah, kemarin

Untuk itu, kata Wali Kota, dirinya sudah menugaskan personel Satpol PP dan WH Banda Aceh untuk melakukan pengawasan ketat di tempat-tempat yang rawan dijadikan tempat kegiatan hura-hura saat valentine day nanti.

Untuk diketahui, valentine day dirayakan sekelompok orang pada setiap 14 Februari. Budaya yang berasal dari dunia barat itu sudah dirayakan sejak zaman dahulu sebagai simbol kasih sayang. “Kita minta petugas Satpol PP dan WH lakukan pengawasan. Pastikan tidak ada satu lokasi pun yang dimanfaatkan untuk merayakan valentine day di Banda Aceh,” tegasnya.

Larangan perayaan valentine day di Banda Aceh sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu, yang dilakukan dalam bentuk surat edaran maupun sosialisasi, terutama untuk kalangan remaja. (marmus/dbs)

 

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!