Zakat untuk Pendidikan Memberikan Dampak Jangka Panjang

GEMA JUMAT, 22 MARET 2019

Baitul Mal Aceh (BMA) sebagai lembaga zakat resmi pemerintah Aceh memiliki kewenangan dalam menghimpun dan mengelola zakat di Aceh. Begitu pula dalam praktiknya, pendayagunaan zakat yang dilakukan pun tidak selalu bersifat konsumtif, namun juga banyak programnya bersifat produktif.

Salah program yang bersifat produktif BMA yaitu pemberian beasiswa kepada putra-putri Aceh yang kurang mampu. Putra-putri Aceh diharapkan mendapatkan pendidikan yang memadai layaknya generasi muda lainnya.

Program-program dalam bentuk beasiswa ini menjadi perhatian penuh BMA, mengingat Aceh masih berstatus sebagai provinsi termiskin di Sumatera. Dengan hadirnya pemberdayaan bidang pendidikan ini setidaknya membantu mengurangi angka kemiskinan jangka panjang.

Berdasarkan laporan penyaluran zakat BMA tahun 2018, dana zakat yang tersalurkan sebesar Rp 41,7 miliar. Dari jumlah 41,7 miliar zakat tersebut, sekitar 37 persen dana zakat digelontorkan untuk beasiswa. Penyaluran tersebut dibagi ke dalam tujuh senif zakat sesuai dengan Keputusan Dewan pertimbangan Syari’ah BMA yaitu; senif Fakir, Miskin, Amil, Mualaf, Gharimin, Fisabilillah, dan Ibnu Sabil.

Dari tujuh senif tersebut, beasiswa dan biaya pendidikan berada pada dua senif yaitu senif Mualaf dan Ibnu Sabil. Kemudian dari kedua senif muallaf juga terbagi beberapa program yaitu, beasiswa penuh dan bantuan pendidikan.

Beasiswa penuh yang dimaksudkan BMA yaitu menanggung semua biaya mulai dari SPP, biaya tempat tinggal, dan kebutuhan-kebutuhan mustahik lainnya untuk penunjang pendidikan seperti seragam sekolah dan uang jajan. Sedangkan bantuan pendidikan yaitu beasiswa sekali kasih, artinya setahun hanya mendapatkan sekali saja.

Melalui program-program tersebut, hingga tahun 2018 saja, BMA telah membantu 2.476 putra-putri Aceh. Tahun 2018 BMA memberikan beasiswa Penuh Tahfi z Quran tingkat SMP dan SMA 30 orang, Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) 20 orang mahasiswa baru dan 104 lanjutan tahun 2016 dan 2017. Selanjutnya, program beasiswa penuh anak muallaf tingkat SMP dan SMA sebanyak 29 orang dan 72 lanjutan dari tahun 2015, 2016, dan 2017.

Kemudian Beasiswa penuh tingkat mahasiswa D3/S1 untuk anak muallaf (Lanjutan Program 2017) sebanyak 8 orang dan Bantuan Pendidikan Berkelanjutan bagi anak muallaf tingkat SD/ MI, SMP/MTs, SMA/MA di wilayah Banda Aceh dan Aceh Besar sebanyak 111 orang.

Sedangkan beasiswa sekali kasih yang disebut biaya pendidikan yaitu beasiswa bagi santri se-Aceh sebanyak 1.000 orang, bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa S1 dan D3 dari keluarga miskin yang sedang menyelesaikan studi sebanyak 285 mahasiswa, bantuan biaya pendidikan berkelanjutan bagi siswa/santri berprestasi tingkat SD/MI, SMP/ MTs & SMA/MA lanjutan program 2017 sebanyak 618 orang, Bantuan Biaya Pendidikan Berkelanjutan siswa/ santri Tahfi dh Al-Quran sebanyak 300 orang.

Tidak mewarisi kemiskinan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BMA, Drs Mahdi Ahmadi MM mengatakan, pemberian beasiswa kepada putra-putri Aceh merupakan sebagai bentuk komitmen pemerintah Aceh dalam penurunan angka kemiskinan di Aceh.

Selain itu sebagai bentuk dukungan pengurangan angka putus sekolah bagi generasi muda Aceh. Penerima beasiswa ini juga sesuai ketentuan syariat yaitu mereka dari keluarga yang berekonomi lemah. Sehingga, dapat membantu meringankan beban keluarga tersebut dalam memenuhi hak pendidikan untuk anak-anaknya.

“Hasil yang kita harapkan dengan adanya program-program beasiswa ini yaitu anak-anak fakir miskin ini tidak mewarisi
kemiskinan dari orang tuanya,” katanya.

Mahdi menjelaskan, penerima beasiswa tersebut nantinya akan menjadi orang sukses, mampu bekerja, dan menciptakan lapangan kerja, sehingga ketika pendapatan mereka sudah mapan mampu membayar zakat (muzakki).

Kepala Sekretariat BMA, Muhammad Iswanto, S. STP, MM mengatakan pihaknya terus mendukung fasilitas dan operasional untuk kelancaran program-program BMA.

“Kita selalu membangun sinergisitas dengan pimpinan, baik internal maupun eksternal, agar dapat kita minimalisir kendalakendala yang ada, sehingga program- program di Baitul Mal Aceh terlaksana dengan baik,” katanya.

Ia berharap dengan qanun baru, BMA juga sudah memiliki kekuatan dan kewenangan untuk mengontrol lembaga amil lain yang mengelola zakat dan infak di Aceh untuk berkoordinasi dengan Baitul Mal, sehingga program-program yang dijalankan sesuai dengan visi misi Pemerintah Aceh.

Terakhir, Iswanto mengucapkan terima kasih kepada para muzaki yang telah mempercayai BMA sebagai pengelola zakat mereka. Semoga BMA mampu menjaga kredibilitas, sehingga visi-misi Pemerintah Aceh mewujudkan Aceh Caroeng melalui progam bantuan pendidikan segera terwujud.ADV

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!