Karena Kita Tidak Pernah Tahu Kadar Amalan Seseorang

GEMA JUMAT, 25 JANUARI 2019

Oleh. Hayatullah Pasee

Ungkapan “don’t judge a book by its cover” adalah benar. Kita sering menilai seseorang hanya melalui penampilan luarnya saja. Sungguh kita tak pernah tahu apa yang tersimpan dalam diri orang lain.

Begitu juga dalam hal ibadah. Secara lahiriah, kita bisa memberi label ahli ibadah atau saleh/ah kepada orang-orang yang rajin baca Quran, salat sunat, berzikir, dan ibadah-ibadah di luar kewajiban fardu lainnya. Tapi kita tak pernah tahu bagaimana pandangan di sisi Allah.

Sebaliknya kita melihat seseorang hanya melaksana kewajiban fardu saja, tapi ia tak pernah tampak sedang berzikir atau pun membaca Quran di depan umum. Apakah kita bisa langsung memberikan nilai bahwa orang yang tampak sering menyertakan Quran ke mana-mana lebih alim dari orang yang tampak biasa saja tadi? Belum tentu.

Ada kala orang rajin ibadah, tapi gemar juga bergibah. Rajin baca Quran tapi berna bernafsu pamer di depan orang. Rajin berzikir tapi masih terusik dengan nikmat yang Allah berikan kepada saudara seimannya yang lain.

Namun yang tadi tampak biasa saja, boleh jadi ia punya amalan yang paling Allah sukai, tapi tak pernah ditampakkan kepada orang lain. Bisa jadi ada kesalehan sosial yang ia lakukan memberikan dampak baik kepada banyak orang. Semua bisa menjadi kemungkinan.

Bukankah manusia yang baik adalah manusia yang bermanfaat terhadap tetangganya atau kepada orang banyak? Bukankah Allah dalam banyak firmanNya menolak amalan-amalan yang dipamerkan kepada manusia lain (ria)? Allah punya cara tersendiri memberikan nilai kepada hamba-hamba yang ihklas dan berhati bersih (qalbun salim).

Bukan karena ibadah orang bisa masuk surga Allah, tetapi melalui ridaNyalah kita dapat melewati jembatan siratal mustaqim. Sedangkan ibadah hanyalah sebuah perantara kita mendapatkan rida Allah. Itulah mengapa dalam setiap doa kita dianjurkan untuk mengharapkan ridaNya agar senantiasa kita disatukan dengan ahli surga.

Suatu ketika Rasulullah sedang duduk dengan para sahabat dalam sebuah majelis. Tiba-tiba Rasul berkata bahwa akan datang seorang pemuda ahli surga. Lalu datang pemuda dari kalanhan Anshar yang masih basah wajahnya dengan air wudu.

Keesokan harinya, hingga tiga kali Rasulullah bersabda hal yang sama ketika sedang bersama sahabat, dan selalu anak muda itu muncul. Lantas Abdullah Ibn Amr Ibn Al Ash, yang berada juga dalam majelis itu penasaran.

Karena kepenasarannya tadi Abdullah Ibn Amr Ibn Al Ash meminta izin untuk tinggal di rumah pemuda itu untuk melihat amalan apa yang dilakukannya hingga Nabi melabelkan pemuda tersebut ahli surga. Tanpa berpikir curiga, pemuda itu pun mengizinka Abdullah Amr Ibn Al Ash.

Singkat cerita, sudah tiga malam lebih Abdullah Ibn Amr Ibn Al Ash tinggal di rumah pemuda itu, namun tidak ada satu amalan pun yang menurut Abdullah Ibn Amr Ibn Al Ash spesial dari amalan para sahabat lainnya.

Lalu, Abdullah Ibn Amr Ibn Al Ash bertanya kepada pemuda tersebut apa yang membuatnya disebut ahli surga. Dengan jujur pemuda itu menjawab, tidak ada, ia beribadah seperti ibadah orang lain seperti salat, puasa, dan ibadah fardu lainnya.

Namun katanya lagi, ada ada tiga hal yang ia lakukan berulang-ulang yaitu: Pertama, pemuda itu selalu memaafkan semua dosa orang lain kepadanya dan tidak pernah marah kepada siapa pun.

Kedua, ia selalu berusaha untuk tidak menyakiti orang lain. Sedangkan yang terakhir, ia selalu menjaga silaturahmi dengan saudara seiman. Karena menurutnya itu hal yang disenangi Nabi.

Dari kisah di atas, jelas bahwa sebuah kebaikan yang ringan pun jika dilakukan berulang-ulang dan amalan itu memberikan manfaat kepada orang lain, maka sangat tinggi derajatnya di mata Allah.
Ibrah yang dapat kita petik dari kisah tersebut juga bahwa kita tak bisa menilai orang lain dari penampilan luar saja. Tetapi hanya Allah yang tahu kadar iman dan amalan seseorang.

Begitu juga ada sebagian manusia yang kesehariannya berbuat buruk, tetapi menjelang ajal ia insaf dan bertobat. Sebaliknya, sehari-hari tampak baik, tapi gagal ketika sakaratulmaut.

Oleh karena itu, senantiasa setelah menyelesaikan salat fardu tidak lupa kita memohon kepada Allah agar selalu diselamatkan iman kita baik di dunia maupun di akhirat. Sia-sia saja selama hidup kita sebagai muslim, tapi ketika mati dalam keadaan kafif. Nauzubillah

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!