Abaikan Iqra

GEMA JUMAT, 7 DESEMBER 2018

Oleh: Murizal Hamzah

Tidak bisa dibantah, umat Islam di Indonesia adalah pemeluk Islam terbesar di dunia. Selayaknya dengan kekuatan umat itu menjadi contoh bagi negara-negara lain yang mayoritas  Islam atau bukan. Salah satu cara mendongkrak derajat umat yakni melalui pendidikan dengan penerapan iqra alias membaca.

Sejak awal, Islam memerintahkan umat untuk membaca secara tersurat dan tersirat. Baik melalui buku, e-book di telepon cerdas atau membaca tanda-tanda kehidupan. Membaca di kampus fakultas yang berakhir dengan selembar ijazah atau kampus kehidupan  yang tak bertepi ijazah namun ramuan-ramuan kebijakan dan kearifan.

Bagaimana perkara minat baca umat Islam di Ibu Pertiwi? Jika dikaitkan dengan instruksi iqra, semestinya kaum muslim dan muslimah di seluruh dunia menjadi posisi utama. Dengan kata lain, negara yang mayoritas Islam,  minat membaca menduduki rangking 1. Dengan membaca, peluang penyebaran fitnah atau hoaks dapat dikurangi. Warga yang cerdas tidak bisa ditaklukan oleh haba-haba fitnah sebab tahu hal ini. Setiap haba yang diterima, akan ditabayyum atau cek dan ricek. Tidak cepat percaya pada haba-haba yang beredar di dalam dunia nyata atau dunia maya. Perlu daya tangkis dan kritis pada setiap haba yang hilir mudik. Mayoritas fenomena alam bisa dijelaskan secara logika dan rasional. Islam meminta umatnya untuk berpikir. Tidak boleh langsung percaya pada haba-haba fitnah.

Kembali pada perkara, Indonesia ada di urutan berapa terhadap minat baca buku?  Menurut studi “Most Littered Nation In the World” yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada 2016, Indonesia mendapat peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Indonesia di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61).  Jika umat mengikuti perintah iqra, minat baca buku, koran, dan sebagainya harus melonjak daripada  minat menonton atau mendengar. Membaca butuh konsentrasi atau berpikir. Berbeda dengan menonton yang cukup menyaksikan dan mengikuti alur cerita. Namun daya ingat menonton lebih dahsyat tertanam di memori kepala daripada membaca.

Dari berbagai penelitian atau survei, daya minat baca buku di Indonesia masih perlu dikampanyekan. Salah satu caranya yakni para pendakwah atau teungku mengajak umat untuk melakukan tradisi membaca buku-buku atau kitab-kitab berbobot karya  intelektual muslim atau yang non Islam sesuai dengan bidang yang digeluti.

Menumbuhkan minat baca sangat berkaitan dengan sistem pendidikan. Mengamati 10  negara yang minat warganya sangat tinggi, maka sistem pendidikan sangat berperan. Ada pun 10 negara yang warganya memiliki minat baca buku yakni Norwegia  yang memiliki sekitar 841 perpustakaan. Sistem sekolah dibagi menjadi tiga tingkatan yakni primer, sekunder, dan menengah atas dengan masa pendidikan anak usia 6-16 tahun adalah wajib.

Kedua, Finlandia adalah negara Skandinavia yang unggul dalam sistem pendidikan selama bertahun-tahun. Sembilan tahun pendidikan adalah wajib bagi anak-anak usia 7-16 tahun, dengan tidak ada biaya kuliah dan makanan karena mendapat subsidi.  Ketiga,  Denmark menjadi salah satu negara terdidik di dunia. Pemerintah Denmark menghabiskan sejumlah besar dari anggaran untuk pendidikan. Selanjutnya Swedia yakni pendidikan gratis diterapkan wajib secara teratur untuk anak-anak usia 7-16 tahun.  negara lain yang minat baca buku tinggi yakni Austria,  Perancis, Belanda,  Selandia Baru dan lain-lain. dalam survei 10 negara dengan minat baca buku warga terbanyak, belum ada negara yang penduduknya terbanyak umat Islam.

Kita berharap dengan semangat iqra yang diwahyukan pertama ini, umat Islam di seluruh dunia bisa membaca buku-buku secara fisik atau di e-book di telepon pintar. Menginvestasikan waktu dengan membaca buku akan mendulang wawasan luas. Dampaknya, warga akan  menuju taraf pada kawah cakrawala pengetahuan seluas samudera. Mengabaikan perintah iqra berdampak munculnya berbagai masalah di kalangan umat. Iqra!

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!