Cara Nabi Berdakwah

GEMA JUMAT, 8 NOVEMBER 2019

Oleh: Nurjannah, MSi

Nabi Muhammad Saw merupakan Rasul pilihan yang diturunkan sebagai penutup nabi akhir zaman. Rasul ummat Islam yang selalu menjadi rahmatan lil’alamin. Tidak ada satu manusia pun yang punya kelebihan seperti kelebihan Muhammad Saw.

Oleh karena itu sebagai ummat yang hidup diakhir zaman, sudah sepantasnya berbangga hati mengikuti jejak sang Rasul pilihan. Sebagai ummad Muhammad kita perlu mengikuti jejak Rasul pilihan yang penuh dengan kesempurnaan dan kelebihan diantara nabi-nabi yang lain.

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan As-Sunnah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imraan:164).

Bagaimana cara Rasulullah menyampai ayat-ayat Allah dan ajaran Islam kepada kaum mukmin, yahudi dan majusi. Dari cara Rasulullah berdakwah membuat orang kafir tertarik dan tertunduk hatinya untuk memeluk Islam.  Itu perjuangan Rasulullah yang luar biasa yang sulit diikuti oleh ummatnya.

Bagaimana Rasulullah dihina, dengan cara diludahi, dilempari dengan kotoran binatang bahkan dijebak kedalam sumur. Tetapi Beliau tidak pernah marah kepada sikafir yang menghinanya, melainkan beliau tetap berusaha dengan ikhlas hati agar mereka diberi petunjuk oleh Allah dan memeluk Islam secara sah.

Beliau menjadi suri tauladan bagi ummatnya, bagaimana cara berbuat baik kepada semua orang dan memandangnya dengan kasih sayang. Dari semua tingkah laku, cara berbicara dan perbuatan Rasulullah semua menjadi syiar yang wajib diikuti oleh kita ummatnya.

Seperti sebuah kisah di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata, “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad. Dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”

Hari demi hari pengemis Yahudi itu mencela Rasulullah. Kejadian itu terus berlangsung di pojok Pasar Madinah.

Kemudian setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu. Saat Rasulullah menyuapinya, si pengemis Yahudi itu tetap berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad.

Sehingga pada saat Rasulullah SAW wafat, kebiasaan tersebut dilanjutkan oleh sahabatnya Abu Bakar. Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis tersebut. Abubakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, “Siapakah kamu?”. Abu Bakar menjawab, “Aku orang yang biasa”.

“Bukan!, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku”, jawab si pengemis buta itu. “Apabila ia datang kepadaku, tangan ini tidak susah memegang dan mulut ini tidak susah untuk mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu dengan mulutnya. Setelah itu ia berikan padaku,” kata pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, “Aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar, ia pun menangis sedih dan kemudian berkata, benarkah demikian?

“Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia. Pengemis Yahudi buta itu akhirnya bersyahadat di hadapan Abubakar.

Begitu cara Rasulullah berdakwah dengan kasih sayang dan lemah lembut yang membuat si musuh pun menjadi rindu kepada tatacara Rasulullah. Lalu apakah kita membiarkan ajaran-ajaran Rasulullah begitu saja tanpa kita mengikutinya.

Apalagi bulan maulid ini dimana Rasulullah dilahirkan, marilah kita mengikuti cara Rasul berceramah dan mengajak dengan lemah lembut dan kasih sayang yang pada dasarnya kita harus memperbaiki diri sebelum kita menyampaikan kepada orang lain.

Mudah-mudahan kita selalu berada didalam koridor yang benar, jalan yang benar sesuai ajaran nabi Muhammad Saw kepada ummatnya. Jalan-jalan yang selalu diberi petunjuk oleh Allah SWT. Amin.

Penulis Ketua Fatayat NU Banda Aceh

comments
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!